Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual

literasi

Pengertian Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual

Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual merupakan jenis-jenis literasi informasi. Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual menjadi jenis literasi lanjutan yang didasari literasi dini, literasi dasar dan literasi perpustakaan.

Literasi secara tradisional dipahami sebagai kemampuan untuk membaca, menulis dan aritmatika (https://en.wikipedia.org/wiki/Literacy, 2016; September 28 ; 0928). Ini adalah pemahaman lama terkait literasi. Ketika seseorang sudah mempunyai kemampuan membaca, menulis dan berhitung dikatakan orang itu mempunyai kemampuan literasi. ‘Melek’ baca tulis dan hitungan. Seiring perkembangan budaya dan standar kehidupan yang meningkat pengertian literasi di atas menjadi usang.

Pengertian literasi modern adalah kemampuan untuk membaca, menulis dan aritmatika (berhitung), menggunakan bahasa, angka-angka, gambar/ilustrasi, komputer dan elemen dasar lain untuk memahami, berkomunikasi, menguatkan (penggunaan) pengetahuan bermanfaat dan penggunaan sistem simbol budaya yang dominan.

Literasi, menurut UNESCO, ialah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, mengkreasi, mengomunikasikan dan menghitung menggunakan materi tercetak dan tertulis berkaitan dengan konteks yang bervariasi. Literasi melibatkan satu kesatuan rangkaian belajar dalam memungkinkan individu untuk mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka, dan untuk berpartisipasi penuh dalam komunitas mereka dan masyarakat yang lebih luas. (https://en.wikipedia.org/wiki/Literacy, 2016; September 28 ; 0928)

Di abad 21 ini, pengertian literasi lebih dari sekadar bisa membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

literasi-media-literasi-teknologi-literasi-visual
literasi-media-literasi-teknologi-literasi-visual

Komponen Literasi

Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/ InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual.

Literasi Dini

Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan tutur yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

Literasi Dasar (Basic Literacy)

Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

 

Literasi Perpustakaan (Library Literacy)

Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeks-an, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

Literasi Media (Media Literacy)

Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

literasi media
literasi media

Selama berabad-abad, literasi disebut kemampuan untuk membaca dan menulis. Dewasa ini, kita mendapatkan sebagian besar informasi melalui sistem berkat teknologi media. Kemampuan untuk membaca berbagai jenis media telah menjadi keterampilan penting di abad ke-21. Literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat media. Dengan literasi media yang baik orang lebih mampu memahami pesan yang kompleks yang kita terima dari televisi, radio, internet, surat kabar, majalah, buku, billboard, video game, musik, dan semua bentuk media lainnya. Keterampilan literasi media termasuk dalam standar pendidikan dari setiap negara dalam bahasa, ilmu sosial, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan mata pelajaran lain. Banyak pendidik telah menemukan bahwa literasi media adalah cara yang efektif dan menarik untuk menerapkan keterampilan berpikir kritis untuk berbagai masalah.

Keterampilan literasi media dapat membantu remaja dan orang dewasa:

– Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
– Memahami bagaimana pesan media membentuk budaya dan masyarakat kita
– Mengidentifikasi strategi pemasaran target
– Mengenali pembuat media yang ingin kita percaya atau lakukan
– Memberi nama teknik persuasi yang digunakan
– Mengenali bias, plintiran, informasi yang salah, dan kebohongan
– Menemukan bagian dari cerita yang tidak diberitahu
– Mengevaluasi pesan media berdasarkan pengalaman kita sendiri, keterampilan, keyakinan, dan nilai-nilai
– Membuat dan mendistribusikan pesan-pesan media kita sendiri
– Mengadvokasi keadilan Media

Literasi Teknologi (Technology Literacy)

Pengertian Literasi Teknologi

Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

literasi teknologi
literasi teknologi

Kalau kita refleksikan masa yang lalu, sampai awal 1990-an, kebanyakan PC masih berukuran besar dengan memori sangat terbatas, kebanyakan ponsel juga terlalu besar untuk dimasukkan dalam kantong. Film yang tersedia pada DVD sampai 1997. Google pun belum lahir sampai tahun 1998. Tidak ada MySpace hingga tahun 2003, dan YouTube meluncurkan dua tahun setelah itu.

Seiring kemajuan teknologi, definisi literasi  teknologi  pun mengalami perubahan. Pada tahun 1980, keterampilan penggunaan teknologi menuntut agar kita mengetahui bagaimana kode memprogram. Penggunaan komputer pada waktu itu mengharuskan kita membuat program. Pada tahun 1995 an, kita dituntut untuk mengetahui bagaimana bekerja dengan alat dasar seperti pengolah kata dan spreadsheet. Mungkin kita ingat … Wordstar … Lotus … DBASE dan sebagainya.

Sekarang definisi literasi teknologi jauh lebih kaya dan lebih kompleks karena ada informasi lebih yang tersedia daripada sebelumnya. Alat-alat untuk menemukan, menggunakan dan menciptakan informasi yang cepat menjadi lebih beragam dan canggih.

Departemen Pendidikan Colorado (CDE) mendefinisikan literasi  teknologi sebagai kemampuan untuk bertanggung jawab menggunakan teknologi tepat guna untuk:

  • Menyampaikan / mengomunikasikan
  • Menyelesaikan masalah
  • Mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, desain dan membuat informasi untuk meningkatkan pembelajaran di semua bidang subjek
  • Memperoleh pengetahuan seumur hidup dan keterampilan dalam abad ke-21
Jenis Teknologi pada Literasi Teknologi

Penggunaan teknologi merupakan bagian integral yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini sebagian besar jalur pendidikan dan profesional memerlukan penggunaan teknologi untuk berkomunikasi, memecahkan masalah atau penelitian lengkap. Siswa yang mencapai literasi teknologi memiliki waktu lebih cepat mencapai tujuan pendidikan dan masuk ke dalam karir pilihan mereka.

Untuk mengantarkan para siswa mencapai literasi teknologi, sudah barang tentu para guru / pendidik juga seharusnya memiliki keterampilan atau literasi teknologi. Berikut adalah variasi aktifitas penggunaan teknologi masa kini untuk mendorong literasi teknologi bagi kita semua, antara lain:

  1. membaca situs Web;
  2. menggunakan mesin pencari;
  3. menggunakan pencarian peta;
  4. mengakses video, podcast, dan feed;
  5. mengevaluasi sumber Web;
  6. meneliti di Internet;
  7. e-mail, chatting, SMS, microblogging;
  8. menggunakan situs sosial;
  9. mengunjungi dunia maya;
  10. blogging dan menggunakan wiki; dan
  11. menggunakan papan pesan, newsgroup, dan VOIP (Skype).

Dengan memahami bagaimana mengevaluasi informasi baru ini dan bagaimana menggunakan alat-alat baru untuk membuat, komunikasi cukup beralasan efektif, siswa dapat memanfaatkan kekuatan teknologi baru dan terinspirasi untuk belajar.

Literasi Visual (Visual Literacy)

Informasi visual ada di mana-mana di sekitar kita. Televisi, layar komputer, tanda-tanda, simbol, dalam buku-buku, majalah, film-film, dan bahkan bahasa tubuh memberikan pesan-pesan visual. Kita semua harus mampu menginterpretasikan makna yang terkandung dalam pesan visual untuk memberikan respon yang cerdas. Dalam konteks pendidikan informasi visual juga sangat banyak. Oleh karena itu guru maupun siswa perlu menguasai literasi visual untuk mendapatkan manfaat yang optimal.

literasi visual
literasi visual

Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio- visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk cetak maupun noncetak, perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Bagian-bagian Literasi Visual

Literasi visual dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

  1. berfikir visual (visual thinking)
  2. komunikasi visual (visual communication)
  3. belajar visual (visual learning)

Berpikir visual  (visual thinking)

Berpikir visual adalah kemampuan untuk mengubah pikiran, gagasan, dan informasi ke semua jenis gambar, grafik, atau gambar lain yang membantu mengomunikasikan informasi yang terkait.

Komunikasi visual (visual communication)

Komunikasi visual adalah ketika gambar, grafik, dan gambar lainnya digunakan untuk mengekspresikan ide-ide dan untuk mengajar orang. Agar tercipta komunikasi visual yang efektif, penerima harus mampu membangun makna dari melihat gambar visual yang diberikan.

Belajar visual (visual learning)

Visual belajar adalah proses belajar dari gambar dan media. Belajar Visual meliputi pembangunan pengetahuan oleh siswa sebagai akibat dari melihat gambar visual yang diberikan.

Gambar Visual

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata dan suatu konsep

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata, suatu konsep dan jenis hubungan (relasi )

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata, suatu konsep, hubungan (relasi ) dan suatu proses

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata, suatu konsep, hubungan (relasi ), suatu proses dan suatu struktur (susunan)

Sebuah gambar visual dapat merepresentasikan sebuah kata, suatu konsep, hubungan (relasi ), suatu proses, suatu struktur (susunan) dan suatu fakta

Sebuah gambar visual dapat mewakili sebuah kata, konsep, hubungan, proses, struktur, fakta dan biasanya menyerupai apa yang diwakilinya.

Dalam proses pembelajaran, gambar visual dapat membantu belajar karena lebih konkrit dari pada kata-kata abstrak. Hasil penelitian menunjukkan pada kita bahwa, belajar / pembelajaran akan optimal ketika siswa dapat :

  • mendengar,
  • melihat dan
  • membaca

terhadap konten yang sama.

Persepsi

Persepsi adalah proses pengumpulan informasi melalui indera kita, mengorganisasikannya dan membuat kesimpulan sementara terkait pesan yang dikirimkan. Gambar visual masing-masing membawa pesan yang bervariasi.

Persepsi dari semua orang terhadap suatu gambar visual tidak akan sama persis ketika mereka melihatnya. Persepsi berbeda dari individu ke individu karena berbagai perbedaan pribadi, sosial-ekonomi, dan budaya.

Perbedaan persepsi terhadap gambar visual dapat terjadi karena adanya filter penyaring. Filter penyaring ini dapat terbentuk berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, dan pengalaman masa lalu. Semua ini adalah contoh dari filter persepsi pribadi.

Dampak Kelemahan Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual

 

Gerakan Literasi Sekolah

 

Sumber:

  1. Diadopsi dari Bahan Diklat Kurikulum 2013 (Literasi)
  2. Chapter 1 Education for All Global Monitoring Report 2006 ( UNESCO)
  3. What is media literacy, https://medialiteracyproject.org/learn/media-literacy/
  4. Visual Literacy, http://www.educ.kent.edu/community/VLO/intro/index.html

 

Literasi Media Literasi Teknologi Literasi Visual

Cara Menggunakan PAINT

Cara Menggunakan PAINT

Cara Menggunakan PAINT sengaja saya pilih untuk judul posting kali ini. Cara Menggunakan PAINT menurut pemikiran saya penting untuk diketahui dan dikuasai banyak pihak yang sering memproses gambar. Dengan menguasai cara menggunakan PAINT maka kita mempunyai banyak peluang untuk membuat media pembelajaran denga aplikasi yang terbilang sederhana. Media sangat diperlukan dalam pembelajaran kurikulum 2013 yang bermutu.

[wpic color=”blue” visible=”1″ width=”1450″ height=”550″ speed=”1000″ auto=”” ]

kompetensi inti kompetensi dasar silabus dan rpp smk 2017
kompetensi inti kompetensi dasar silabus dan rpp smk 2017

/!
literasi
literasi

/!
kurikulum-2013
kurikulum-2013

[/wpic]

Bagi seorang guru, menguasai Cara Menggunakan PAINT merupakan satu titik tolak penting melaksanakan pembelajaran berbasis TIK. Mengapa ? Ya … dengan fitur sederhana dari windows ini … anda akan dengan mudah membuat obyek media (media object) yang penting dalam pembelajaran. Dengan menguasai Cara Menggunakan PAINT anda bisa :

  • membuat poster / infographic
  • memotong gambar
  • mengedit konten gambar
  • mengubah ukuran gambar
  • memutar posisi gambar
  • menghapus sebagian
  • menambah coretan
  • menambah teks keterangan
  • menambah/membuat garis lurus, garis bebas, ellips, persegi, segi 4, 5, 6 , bintang
  • menambah tanda panah, menambah ‘callout’
  • dan masih banyak lagi menurut kemampuan imaginasi kita.

Mengenal Fitur Cara Menggunakan PAINT

Paint adalah aplikasi bawaan windows yang merupakan salah satu fitur khusus untuk memanipulasi gambar atau foto. Paint terbilang sederhana pengoperasiannya namun sudah cukup memadai bagi seorang guru untuk membuat media obyek sendiri. Dengan kemampuan membuat media obyek sendiri Anda tidak perlu melanggar hak cipta atas karya orang lain. Anda bahkan dapat menginspirasi siswa dalam konteks menghargai karya orang lain, tidak merampas begitu saja hak orang atas karya intelektualnya. Menu PAINT cukup sederhana dan tidak rumit. Mari kita coba mengenalinya dan segera menguasai Cara Menggunakan PAINT.

Menu File PAINT

Cara Menguasai PAINT yang pertama adalah mengenali menu perintah yang menjadi antarmuka antara software dengan kita sebagai operator. Menu PAINT yang pertama adalah menu File. Menu ini pada umumnya memiliki fungsi-fungsi generik yang serupa dengan menu aplikasi lainnya.

cara menggunakan paint
cara menggunakan paint

Tampak pada screenshoot di samping, menu File dari PAINT terdiri atas:

  1. New  untuk membuat file baru.
  2. Open untuk membuka file yang ada.
  3. Save untuk menyimpan file yang sedang di edit dengan nama yang sama.
  4. Save as untuk menyimpan file dengan nama baru.
  5. Print untuk mencetak
  6. From Scanner or camera untuk mengambil gambar melalui scanner atau kamera.
  7. Send in email untuk mengirimkan gambar yang di edit via email
  8. Set as desktop background untuk menggunakan gambar yang diedit sebagai background desktop komputer anda.
  9. Properties untuk mengubah properti dari gambar yang sedang diedit
  10. About Paint untuk mengetahui informasi Paint
  11. Exit untuk keluar dari aplikasi.

Menu Home PAINT

Menu Home pada PAINT menjadi menu utama aplikasi / software PAINT. Pada menu inilah terlihat semua peralatan dan aset yang bisa digunakan oleh user untuk tujuan manipulasi gambar. Perhatikan screenshoot berikut:

 

Pada menu Home PAINT tampak semua ikon dan perintah yang di kelompokkan sebagai berikut:

  1. grup Clip Board yang terdiri cut, copy dan paste untuk memotong, menyalin dan merekatkan data yang tersimpan dalam memori komputer.
  2. grup Image , terdiri tombol perintah select memilih area gambar, crop untuk memotong, resize untuk mengubah ukuran dan rotate untuk memutar posisi gambar.
  3. grup Tools , pensil, pewarna, huruf, penghapus, pengambil warna, kaca pembesar dan brushes , macam-macam ukuran sikat pewarna
  4. grup shapes, menyimpan sejumlah bentuk-bentuk dasar untuk digunakan atau dimodifikasi sesuai keinginan. Di samping bentuk-bentuk dasar tersedia tombol pemilih warna garis luar dan pemilih warna isi. Warna dipilih melalui grup colors.
Menu View PAINT

Menu View terdiri atas tiga grup yaitu Zoom, show or hide dan menu display.

 

Mengomunikasikan

mengomunikasikan

Pengertian Mengomunikasikan

Mengomunikasikan adalah kompetensi penting hidup di abad 21. Mengomunikasikan telah diadopsi dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Mengomunikasikan menjadi satu tahapan esensial pembelajaran. Merujuk pada situs http://kbbi.web.id/komunikasi memberi arti mengomunikasikan /me·ngo·mu·ni·ka·si·kan/ adalah mengirim lewat saluran komunikasi; menyebarkan melalui saluran komunikasi. Cukup jelas kiranya bahwa mengomunikasikan adalah kegiatan aktif mengirimkan isi pesan melalui saluran komunikasi.

mengomunikasikan
mengomunikasikan

Melihat arti penting keterampilan mengomunikasikan pada era pasar bebas ini maka sudah seharusnya kita memberikan dukungan dan bimbingan kepada para siswa. Bagi siswa keterampilan mengomunikasikan menjadi salah satu kunci sukses mereka di abad 21 ini.

Mengomunikasikan pada Kurikulum 2013

Mengomunikasikan telah diadopsi di dalam Kurikulum 2013 sebagai salah satu elemen Standar Kompetensi Lulusan. Permendikbud 20 tahun 2016 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan jenjang SMA sebagai berikut:

“” Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif melalui pendekatan ilmiah sebagai pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain secara mandiri. “”

Selanjutnya, keterampilan mengomunikasikan diterjemahkan di dalam kompetensi inti keterampilan yang tertuang dalam Permendikbud 21 tahun 2016 yang berbunyi:

Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara:

  • efektif,
  • kreatif,
  • produktif,
  • kritis,
  • mandiri,
  • kolaboratif,
  • komunikatif, dan
  • solutif,

dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

Keterampilan mengomunikasikan diimplementasikan di dalam standar proses Permendikbud no 22 Tahun 2016. Pelaksanaan pembelajaran mengomunikasikan di implementasikan di dalam Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran. Dalam pembelajaran mengomunikasikan adalah tahap ke 5 dari urutan logis pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasikan.

Mengomunikasikan dalam Pendekatan Saintifik

Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik pada proses pembelajarannya seperti tertuang dalam lampiran Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pendekatan saintifik , ditetapkan secara jelas dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran. Pada pasal 2 ayat 7. Pada ayat 8 dinyatakan bahwa Pendekatan saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) merupakan pengorganisasian pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi proses pembelajaran:

  1. mengamati;
  2. menanya;
  3. mengumpulkan informasi/mencoba;
  4. menalar/mengasosiasi; dan
  5. mengomunikasikan
Deskripsi kegiatan mengomunikasikan

Mengomunikasikan merupakan tahap ke 5 pada pendekatan saintifik setelah mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi. Deskripsi kegiatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik;
  • menyusun laporan tertulis;
  • menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan
  • menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara elektronik
  • menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik di blog sekolah / blog kolaborasi
  • menyajikan laporan dalam bentuk video di youtube.com
Bentuk Hasil Mengomunikasikan

menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multimedia dan lain-lain. Dalam rangka mengiplementasikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, proses pembuatan dan penyajian dapat digunakan laptop/pc dalam bentuk tayangan power poin maupun berbentuk blog atau website.

 

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

indikator pencapaian kompetensi ipk

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK komponen RPP yang krusial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjamin akurasi pembelajaran. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK harus dirumuskan dengan kata kerja operasional KKO yang tepat. 

Indikator artinya penunjuk atau tanda-tanda yang tampak, pencapaian artinya telah dikuasai , kompetensi artinya kemampuan melakukan sesuatu. Jadi, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK ialah tanda-tanda yang (seharusnya) tampak pada seseorang yang telah menguasai suatu kemampuan melakukan sesuatu

Pengertian Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah komponen RPP esensial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjadi penanda bahwa kompetensi yang dipelajari sudah dikuasai. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang spesifik dapat diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan rumusan kemampuan yang harus dilakukan atau ditampilkan oleh siswa untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar (KD).

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b dinyatakan bahwa indikator pencapaian kompetensi adalah:
a. kemampuan yang dapat diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan
b. kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4

Merujuk pada definisi di atas, semakin jelas bahwa indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan tolok ukur ketercapaian suatu KD. Oleh karena itu maka indikator pencapaian kompetensi juga menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

indikator pencapaian kompetensi ipk
indikator pencapaian kompetensi ipk

Fungsi Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, seperti disinggung di atas, menjadi tolok ukur ketercapaian suatu kompetensi dasar.  Indikator Pencapaian Kompetensi menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam unit-unit kompetensi yang lebih rinci (kecil). Ketika peserta didik sudah mampu melakukan seluruh / semua unit kompetensi yang lebih rinci ini, peserta didik berarti telah menguasai kompetensi dasar yang dipelajari. Dengan kata lain dapat dinyatakan unit kompetensi yang lebih rinci ini merupakan sub kompetensi dasar. Penguasaan peserta didik terhadap sub kompetensi dasar keberhasilannya diindikasikan oleh Indikator Pencapaian Kompetensi IPK. Di sinilah maksud dari fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur keberhasilan penguasaan kompetensi dasar.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, selain berfungsi sebagai penanda dikuasainya sebuah kompetensi dasar juga berfungsi sebagai acuan penentuan tujuan pembelajaran. Setiap indikator pencapaian kompetensi yang kita nyatakan sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar sudah tentu terdiri dari sejumlah pengetahuan dan sejumlah elemen keterampilan penyusun. Ketika peserta didik sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan elementer masing-masing indikator pencapaian kompetensi maka dapat diharapkan peserta didik mampu menunjukkan performa telah memiliki indikator pencapaian kompetensi.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, juga berfungsi sebagai acuan penentuan materi pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar. Ketika kita sudah mengidentifikasi indikator-indikator pencapaian kompetensi dari suatu kompetensi dasar (KD) maka otomatis tersirat juga di sana materi-materi pembelajaran yang seharusnya dikuasai peserta didik.

Fungsi indikator pencapaian kompetensi selanjutnya ialah sebagai acuan penyusunan instrumen penilaian pembelajaran atau dalam pembuatan soal-soal evaluasi. Mengapa soal-soal evaluasi harus mengacu pada indikator pencapaian kompetensi? Jawabannya … baru saja kita diskusikan di 3 paragraf di atas. Indikator pencapaian kompetensi adalah tolok ukur tercapainya kompetensi dasar oleh peserta didik. Jadi, jelas sekali, ketika soal-soal evaluasi sudah dibuat mengacu pada indikator pencapaian kompetensi (yang esensial) dan peserta didik mampu mengerjakannya dengan benar maka peserta didik yang bersangkutan sudah menguasai kompetensi dasar.

Sebuah kompetensi dasar atau KD boleh jadi mempunyai beberapa sub kompetensi yang merupakan unsur-unsur kompetensi dasar. Unit kompetensi inilah yang seharusnya diidentifikasi dengan cermat oleh guru pada proses perencanaan pembelajaran yaitu analisis materi pembelajaran. Sebaiknya proses identifikasi indikator pencapaian kompetensi dilakukan dengan teliti sehingga kita dapatkan unit kompetensi unsur esensial dari setiap kompetensi dasar.

Secara normatif, membuat indikator pencapaian kompetensi itu relatif mudah, namun menemukan indikator pencapaian kompetensi yang esensial bagi kompetensi dasar tersebut perlu pemikiran. Keberhasilan identifikasi unit kompetensi unsur yang esensial ini diindikasikan dengan indikator pencapaian kompetensi IPK. Karena itu indikator pencapaian kompetensi secara otomatis berfungsi sebagai pengarah bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan.

Rekan-rekan tentunya pernah membaca sendiri atau bahkan mengalami sendiri penerapan prinsip-prinsip berikut:

  • belajar dari hal yang mudah menuju yang lebih sulit.
  • belajar dari yang nyata menuju yang abstrak (tidak nyata)
  • belajar dengan memperhatikan struktur keilmuan

Mengingat prinsip-prinsip dasar tersebut maka dalam proses analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK perlu disusun dengan memperhatikan prinsip di atas. Untuk itu, pada saat analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK disusun urutannya dengan memperhatikan prinsip dasar di atas. Jika hal ini kita lakukan maka otomatis proses pembelajaran yang kita lakukan juga mengikuti urutan yang kita buat. Dan hasilnya adalah benar-benar Indikator Pencapaian Kompetensi IPK berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK merupakan penanda perilaku pengetahuan (KD dari KI-3) dan perilaku keterampilan (KD dari KI-4) yang dapat diukur dan atau diobservasi sedangkan perilaku sikap spiritual dari KI-1 dan sikap sosial dari KI-2 tidak diturunkan ke dalam KD dan juga tidak memiliki indikator pencapaian kompetensi IPK pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP, tetapi perilaku sikap spiritual dan sikap sosial harus dikaitkan pada perumusan tujuan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK memerlukan pengetahuan guru tentang kompetensi dasar. Pada kurikulum 2013 kompetensi dasar ada dalam  3 ranah, yaitu kompetensi dasar pengetahuan, kompetensi dasar keterampilan dan kompetensi dasar sikap spiritual dan sosial. Guru yang tidak menguasai kompetensi profesionalnya dengan baik mustahil dapat mengembangkan indikator pencapaian kompetensi ipk.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK juga memerlukan pengetahuan guru tentang taxonomi beserta kata kerja operasional (KKO) yang sesuai untuk digunakan. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah menentukan sub kompetensi tertentu sesuai kompetensi dasar yang DAPAT MEWAKILI sejumlah kompetensi-kompetensi rinci/detail. Karena itu dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi kita tidak dapat asal pilih kata kerja operasional begitu saja. Penting bagi kita untuk melakukan kroscek apakah kata kerja operasional yang kita pilih dapat mewakili beberapa kompetensi rinci. Apabila sebuah kata kerja operasional (KKO) dapat mewakili beberapa kata kerja operasional detail atau spesifik maka kata kerja operasional tersebut dapat dipastikan sebagai kata kerja operasional indikator pencapaian kompetensi ipk.

Rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menggunakan dimensi proses kognitif (dari memahami sampai dengan mengevaluasi dan dimungkinkan sampai kreasi untuk kelas XII jika ketercapaian hasil belajar siswa di atas rata-rata) dan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif) yang sesuai dengan KD, namun tidak menutup kemungkinan perumusan indikator dimulai dari serendah-rendahnya C2 sampai setara dengan KD hasil analisis dan rekomendasi. 

Tabel Hubungan Dimensi Proses Kognitif dan Bentuk Pengetahuan

No

Perkembangan Berfikir Taksonomi Bloom Rivised Anderson (Cognitive Process Dimension)
Bentuk Pengetahuan (Knowledge Dimension)
Keterangan
1.
Mengingat (C1) Pengetahuan Faktual Lower Order Thinking Skills (LOT’s)
2.
Menginterprestasi prinsip (Memahami/C2) Pengetahuan Konseptual
3.
Menerapkan (C3) Pengetahuan prosedural
4.
Menganalisis (C4) Mengevaluasi (C5) dan Mengkreasi(C6) Pengetahuan Metakognitif Higher Order Thinking Skills (HOT’s)

Tabel di atas menunjukkan pada kita bahwa Dimensi Proses Kognitif berkaitan dengan Dimensi Pengetahuan dan sudah pasti membawa dampak perolehan belajar. Sebagai contoh, dimensi proses Mengingat pada level C1 akan berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan faktual. Pada level C2 yaitu memahami, dimensi pengetahuannya adalah pengetahuan tentang konsep-konsep, dan seterusnya. Semua ini akan mengarahkan kita pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK.

Kata Kerja Operasional pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dikembangkan berdasar pada kompetensi dasar menggunakan kata kerja operasional (KKO). Pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dimensi proses kognitif jenjang SMA dan SMK dimulai dari memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Pada setiap tingkatan atau dimensi proses ini dapat digunakan kata kerja yang semakna dengan kata kerja pada tingkatan dimensi proses kognitif (KKO). Kata-kata kerja yang merepresentasikan tingkatan atau dimensi proses kognitif ini cukup variatif. Kata-kata kerja ini disebut dengan Kata Kerja Operasional. Kata kerja operasional ialah kata kerja yang menunjukkan satu kegiatan tertentu yang dapat diukur atau diobservasi.

Berikut ini adalah Kata Kerja Operasional dari Taxonomi Bloom olahan Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001)

Sumber: http://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf

Langkah-langkah merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • tentukan kedudukan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 berdasarkan gradasinya dan tuntutan KI;
  • tentukan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, metakognitif);
  • tentukan bentuk keterampilan, apakah keterampilan abstrak atau keterampilan konkret;
  • untuk keterampilan kongkret pada kelas X menggunakan kata kerja operasional sampai tingkat membiasakan/manipulasi. Sedangkan untuk kelas XI minimai sampai pada tingkat mahir/presisi. Selanjutnya untuk kelas XII minimal sampai pada tingkat ‘menjadi gerakan mahir/presisihingga alami/artikulasi serta kelas XIII orisinal/naturalisasi pada taksonomi psikomotor Simpson atau Dave, dan
  • rumusan IPK pada setiap KD dari KI-3 dan pada KD dari KI-4 minimal memiliki 2 (dua) indikator.

Contoh Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dari suatu kompetensi dasar harus diidentifikasi dengan benar. Sebelum merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK terlebih dahulu kita lakukan analisis SKL KI KD. Berdasarkan analisis ini barulah kita dapat melakukan analisis mengidentifikasi indikator pencapaian kompetensi tersebut.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan

Dari kolom 3 kita dapatkan tingkat dimensi kognitif dari KD 3.1 Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA adalah Menerapkan (C3) dari taksonomi Bloom olahan Anderson. Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan dirumuskan menggunakan kata kerja operasional (KKO) pada tingkatan C3 (menerapkan) seperti : mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan dll.

Masih dari kolom 3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA … adalah bentuk / dimensi pengetahuan prosedural. Berdasar pada konteks ini, maka kata kerja operasional yang sesuai konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA yang berisi pengetahuan-pengetahuan prosedural adalah mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan. 

Contoh indikator pencapaian kompetensi yang sesuai untuk dirumuskan dalam konteks ini antara lain :

  1. mengidentifikasi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  2. mengidentifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  3. mengidentifikasi prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  4. mengklasifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  5. mengurutkan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Keterampilan

Dari kolom 5 kita dapatkan bentuk taksonomi KD 4.1 adalah keterampilan kongkret pada level Manipulasi (P2) dari taksonomi Simpson. Kata Kerja Operasional yang relefan …. ah… sudah jam 00.05 … besok lagikita lanjutkan …

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK  adalah kemampuan-kemampuan yang dapat diukur/diobservasi  sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4 ( Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b )

Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Perhatikan contoh tujuan pembelajaran berikut : “Setelah berdiskusi dan menggali informasi peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan audio universal dengan percaya diri”. Tujuan pembelajaran ini dicapai melalui proses berdiskusi dan menggali informasi dan hasil belajar nya berupa kemampuan menjelaskanMenjelaskan merupakan kata kerja operasional yang dapat di ukur dan merupakan kemampuan Cognitive level 2 (C2). Lihat tabel di atas.

Persamaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

  1. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar (KD);
  2. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur atau diobservasi ketercapaiannya.

Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran memang berbeda. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK itu menjadi penanda apakah suatu kompetensi dasar telah dikuasai siswa. Dalam hal ini indikator pencapaian kompetensi jika telah dipenuhi  maka siswa telah memiliki satu bagian kompetensi dasar (KD). Dengan kata lain dapat saya katakan, jika kompetensi secara penuh adalah Kompetensi Dasar, maka kompetensi yang kemampuannya ditunjukkan indikator pencapaian kompetensi adalah sub kompetensi dasar atau bagian dari kompetensi dasar. Karena itu … pada saat kita memilih Kata Kerja Operasional untuk membuat Indikator Pencapaian Kompetensi … pertimbangkan dan cek kembali … benarkah indikator pencapaian kompetensi yang rekan-rekan buat dengan kata kerja operasional yang rekan-rekan pilih itu … merupakan sub kompetensi dari KD?

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa atau peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Proses atau hasil belajar siswa ini bersifat spesifik (satu tingkah laku spesifik). Ingatlah dengan panduan pengembangan tujuan pembelajaran yang dapat di singkat dengan ABCDS yang maksudnya:

A = audience dalam hal ini siswa atau peserta didik

B = behaviour yaitu tingkah laku yang diharapkan

C = Criteria ialah kondisi yang harus disediakan

D = Degree yaitu tingkatan tingkah laku yang dilakukan dan

S = single behaviour yaitu satu tingkah laku spesifik.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa indikator pencapaian kompetensi ipk dan tujuan pembelajaran memang berbeda.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP. Mungkin Anda bertanya-tanya … mengapa indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam RPP. Pada saat membuat persiapan proses pembelajaran indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran harus kita susun dengan cermat. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut harus kita lakukan.

Indikator Pencapaian Kompetensi seperti disinggung di atas, adalah sub kompetensi dasar atau bagian yang lebih kecil dari kompetensi dasar. Jadi, indikator pencapaian kompetensi itu, adalah kompetensi-kompetensi pokok yang menandai seorang siswa menguasai kompetensi yang lebih luas cakupannya. Secara alamiah, kita, lebih mudah belajar secara berjenjang dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang kasat mata menuju yang bersifat abstrak, dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Bukankah umumnya kita seperti itu? Jadi penting bagi kita menyusun dan mengurutkan indikator pencapaian kompetensi berdasarkan gradasi kesulitannya.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran juga dilakukan berdasarkan pada struktur atau susunan yang logis secara keilmuannya. Hal ini cukup jelas kiranya. Suatu kompetensi dapat dikuasai siswa karena berlatih sedikit demi sedikit menerapkan ilmu-ilmu dasar yang sudah dikuasai sebelumnya. Ada bahan ajar yang perlu dikuasai lebih dulu sebelum ia mempelajari kompetensi terapan ilmu dasar tersebut. Karena itu, penyusunan urutan indikator pencapaian kompetensi perlu memperhatikan struktur keilmuan yang bersangkutan.

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Matematika

 

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

Analisis KD

Mata Pelajaran: Matematika

Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas … Direkomendasikan KD 3.3 dinaikkan ke tingkat C4 (menganalisis)

Jadi kata kerja operasional (KKO) yang dipakai untuk membuat IPK diambil dari KKO tingkat (C4) menganalisis khususnya ketika kita nanti membuat instrumen untuk mengukur kompetensi siswa lulus / belum lulus pada KD 3.3 tersebut. Untuk penilaian proses (dalam proses pembelajaran) BOLEH menggunakan IPK dengan KKO setingkat C2 , C3 atau C4

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

3.3.1 Mendefinisikan pengertian relasi (C2 –> boleh)
3.3.2 Menyatakan suatu relasi yang terkait dalam kehidupan sehari-hari (C2 -> boleh)
3.3.3 Membuat bentuk penyajian relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.4 Mendefinisikan pengertian fungsi (C2 -> boleh)
3.3.5 Membedakan antara fungsi dan bukan fungsi (C2 -> boleh)
3.3.6 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah, dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.7 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi. (lebih cocok IPK KD keterampilan)

Saya menyarankan agar dibuatkan IPK pada level C3 (menerapkan) sebagai jembatan proses mencapai C4 (menganalisis)

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

4.3.1 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.2 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.3 Menentukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

Saran saya :

4.3.1 Membuat penyelesaikan masalah relasi dengan representasi berbentuk tabel

4.3.2 Membuat penyelesaikan masalah fungsi dengan representasi menggunakan himpunan pasangan berurutan

Dan seterusnya …. bagaimana menurut bp/ibu Yusni …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Fisika

Jawaban pertanyaan / comment dari pak Rizki Nailulauthor ….

KD >> menerapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan fluida
KD >> memecahkan masalah dalam teknologi dan rekayasa yang berkaitan pada hukum-hukum fluida.

sudah diperbaiki / direvisi menjadi sbb:

3.8 Menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis

4.8 Melakukan percobaan sederhana yang berkaitan dengan hukum-hukum fluida statis dan dinamis

Dalam konteks menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis terdapat hukum-hukum dan beberapa pengertian yang penting (esensial) seperti ….

  1. Fluida Statis dan Tekanan Hidrostatis
  2. Gaya Archimedes
  3. Benda Mengapung, melayang dan tenggelam
  4. Hukum Pascal
  5. Pompa Hidrolik
  6. Hubungan Hukum Pascal dan Tekanan Hidrostatis
  7. Tegangan Permukaan
  8. Viskositas dan Hukum Stokes
  9. Hukum Kontinuitas dan Hukum Bernouli
  10. Penerapan Hukum Bernouli

Menerapkan termasuk dimensi C3 sehingga kata kerja operasional (KKO) yang seharusnya digunakan sebagai IPK (kunci/utama) antara lain :

A. Merujuk KKO Panduan Penilaian SMK 2018

mendemonstrasikan
memperagakan
menuliskan penjelasan
membuatkan penafsiran
mengoperasikan
mempraktikkan
merancang persiapan
menyusun jadwal
membuat sketsa
menyelesaikan masalah
menggunakan

Pilih kata kerja operasional pada daftar di atas YANG SESUAI dengan hukum-hukum dan materi esensial ….

Contoh IPK KD pengetahuan terkait hukum Archimedes :

  1. menuliskan penjelasan fluida statis > C3
  2. menuliskan penjelasan fluida dinamis > C3
  3. membuat sketsa penerapan hukum Archimedes > C3
  4. menghitung gaya apung benda yang dicelup ke dalam air > C3 (menghitung … KKO Puspendik)

Contoh IPK KD keterampilan terkait hukum Archimedes :

  1. mendemonstrasikan percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)
  2. memodifikasi percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)

Indikator soal evaluasi seyogyanya dibuat setelah Indikator Pencapaian Kompetensi ditentukan dengan lengkap dan akurat. Soal evaluasi untuk mengukur ketercapaian pemahaman dalam proses pembelajaran dapat menggunakan C1, C2 tetapi untuk mengukur penguasaan KD tersebut seyogyanya menggunakan Indikator Pencapaian Kompetensi setara KD (C3)

Demikian menurut hemat saya pak Rizki …. silahkan didiskusikan …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Administrasi Perkantoran / Kearsipan

KD 3.3 Menerapkan prosedur penggunaan alat kearsipan
KD 4,3 Menggunakan peralatan kearsipan

KD 3.3 adalah C3 dan prosedur penggunaan alat kearsipan adalah pengetahuan prosedural

Alat kearsipan ada bermacam-macam seperti Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index dll.

IPK KD 3.3 dibuat menggunakan KKO C3 … tapi untuk membantu … boleh dibuat mulai dari C2 …

Lihat daftar KKO di atas (pada jawaban pak Rizki) … pilih dan gunakan yang bisa diterapkan untuk ranah pengetahuan …. Contoh ….

  1. menuliskan penjelasan bentuk, bahan, fungsi dan manfaat peralatan kearsipan (C3)
  2. menuliskan penjelasan urutan langkah kerja menggunakan filing cabinet (C3) … bisa dituliskan satu per satu tiap jenis peralatan
  3. merancang persiapan penggunaan Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index

KD 4.3 adalah keterampilan kongkrit … P2

IPK KD 4.3 dibuat menggunakan KKO dari taksonomi Simson / Dave level P2 …

  1. membuat guide arsip
  2. memperagakan penggunaan folder
  3. membuat label arsip
  4. membuat kartu indeks
  5. melaksanakan penempatan kartu indeks pada laci kartu indeks

Kurang lebih seperti itu pak Siagian …

Maaf saya bukan ahlinya Kearsipan … mungkin ada yang tidak pas … silahkan didiskusikan …

 

Demikianlah diskusi pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK … semoga berguna …

Tujuan Pembelajaran

tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran merupakan komponen RPP. Tujuan Pembelajaran RPP K2013 meliputi tujuan pembelajaran KD pengetahuan dan tujuan pembelajaran KD keterampilan. Pada RPP mata pelajaran PA BP dan PKn tujuan pembelajaran KD sikap spiritual dan tujuan pembelajaran KD sikap sosial juga perlu dinyatakan secara eksplisit.

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran pada sebuah RPP menjadi ‘kompas’ kompetensi apa saja yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran membimbing kita mengembangkan kegiatan dan aktifitas yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, perumusan tujuan pembelajaran harus dilakukan dengan cermat dan tidak asal asalan.

Pengertian Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran bagian penting RPP. Tujuan pembelajaran menyatakan tujuan dilakukannya pembelajaran. Tujuan Pembelajaran adalah pernyataan tentang tingkah laku apa yang harus dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran umumnya merujuk kepada kompetensi sasaran yang akan dipelajari. Mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah sesuatu yang rumit karena faktanya pendidik menggunakan berbagai istilah yang berbeda. Pada masa yang lalu, tujuan dari suatu pembelajaran dikenal dengan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Dewasa ini dalam kamus pendidikan di Indonesia istilah yang digunakan tujuan pembelajaran.

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran perlu dinyatakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran RPP agar memberi panduan kepada guru dan siswa dalam proses belajar. Mengetahui tujuan pembelajaran memberi kontrol kepada guru dan siswa sehingga proses belajar mengarah pada kompetensi yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pernyataan tujuan pembelajaran perlu dikembangkan dengan cermat.

Tujuan pembelajaran pada dasarnya adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan tujuan pendidikan yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan  bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

tujuan pembelajaran
Keterkaitan kompetensi SKL, Kompetensi Inti (KI), Mata Pelajaran dan Kompetensi Dasar (KD)

 

Tujuan pembelajaran dalam skala makro dewasa ini kita kenal dengan Standar Kompetensi Lulusan yang dirumuskan dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar Kompetensi Lulusan ini selanjutnya dikelompokkan menjadi 4 (empat) kompetensi inti di setiap jenjang pendidikan. Kompetensi Inti selanjutnya diimplementasikan ke dalam setiap mata pelajaran pada setiap jenjang dan menjadi dasar pengembangan materi pembelajaran pada mata pelajaran. Sebagai perwujudan akhir maka di setiap mata pelajaran kita kenal kompetensi dasar yang dapat terdiri atas KD Sikap Spiritual, KD Sikap Sosial, KD Pengetahuan dan KD Keterampilan.

Kompetensi-kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa di turunkan dari setiap kompetensi dasar di dalam masing-masing mata pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah unit kompetensi terkecil yang harus dikuasai siswa dalam rangka mencapai Standar Kompetensi Lulusan.

Fungsi Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran seharusnya tercantum dalam setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP yang wajib dibuat oleh setiap guru di setiap mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Rumusan Tujuan pembelajaran ini berfungsi sebagai pemandu arah / pengarah jalannya pembelajaran dalam rangka menguasai suatu kompetensi. Tujuan pembelajaran pada ranah sikap mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar sikap, tujuan pembelajaran pada ranah pengetahuan mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar pengetahuan dan tujuan pembelajaran pada ranah keterampilan mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar keterampilan. Inilah fungsi penting tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran menentukan materi pembelajaran. Inilah sebabnya tujuan pembelajaran miliki fungsi yang sangat strategis dalam pembelajaran. Kita bisa mengatakan tujuan pembelajaran memiliki keterkaitan dengan materi pembelajaran, evaluasi proses pembelajaran, strategi pembelajaran.

Tingkatan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar yang ingin dicapai dirumuskan dalam tiga kelompok ranah taksonomi meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Klasifikasi perilaku hasil belajar atau tujuan pembelajaran yang digunakan pada Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

Tujuan Pembelajaran Ranah Sikap

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah sikap dalam Kurikulum 2013 menggunakan olahan Krathwohl, dimana pembentukan sikap peserta didik ditata secara hirarkhis mulai dari menerima (accepting), merespon/menanggapi(responding), menghargai (valuing), menghayati (organizing/internalizing), dan mengamalkan (characterizing/actualizing). Berdasar taxonomi olahan Krathwohl, tujuan pembelajaran dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan menerima (accepting),
  • Tingkatan merespon/menanggapi(responding),
  • Tingkatan menghargai (valuing),
  • Tingkatan menghayati (organizing/internalizing), dan
  • Tingkatan mengamalkan (characterizing/actualizing)
Tujuan Pembelajaran Ranah Pengetahuan

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah pengetahuan pada Kurikulum 2013 menggunakan taksonomi Bloom olahan Anderson, dimana perkembangan kemampuan mental intelektual peserta didik dimulai dari C1 yakni:(1) mengingat (remember), peserta didik mengingat kembali pengetahuan dari memorinya; (2) C2 yakni memahami (understand), merupakan kemampuan mengonstruksi makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan, tulisan maupun grafik; (3) C3 yakni menerapkan (apply); merupakan penggunaan prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi baru;(4) C4 yakni menganalisis (analyse); merupakan penguraian materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur;(5) C5 yakni mengevaluasi (evaluate); merupakan kemampuan membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar;dan (6) C6 yakni mengkreasi (create); merupakan kemampuan menempatkan elemen-elemen secara bersamaan ke dalam bentuk modifikasi atau mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam pola baru (struktur baru).

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Berdasar taxonomi Bloom olahan Krathwohl, tujuan pembelajaran ranah pengetahuan dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan (1) C1 yakni mengingat (remember),
  • Tingkatan (2) C2 yakni memahami (understand),
  • Tingkatan (3) C3 yakni menerapkan (apply);
  • Tingkatan (4) C4 yakni menganalisis (analyse);
  • Tingkatan (5) C5 yakni mengevaluasi (evaluate);
  • Tingkatan (6) C6 yakni mengkreasi (create);
Tujuan Pembelajaran Ranah Keterampilan

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah keterampilan pada Kurikulum 2013 yang mengarah pada pembentukan keterampilan abstrak menggunakan gradasi dari Dyers yang ditata sebagai berikut: (1) mengamati (observing);(2) menanya (questioning);(3) mencoba (experimenting);(4) menalar (associating); (5) menyaji (communicating); dan (6) mencipta (creating). Berdasar taxonomi olahan Dyers, tujuan pembelajaran ranah keterampilan dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah keterampilan yang mengarah pada pembentukan keterampilan kongkret. Taksonomi menggunakan gradasi olahan Simpson dengan tingkatan: persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi gerakan alami, dan menjadi gerakan orisinal. Berdasar taxonomi olahan Simpson, tujuan pembelajaran ranah keterampilan kongkrit dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan (1) persepsi, kesiapan, meniru,
  • Tingkatan (2) membiasakan gerakan,
  • Tingkatan (3) mahir,
  • Tingkatan (4) menjadi gerakan alami,
  • Tingkatan (5) menjadi gerakan orisinal
Perumusan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran pada Kurikulum 2013 pada dasarnya sama dengan rumusan tujuan pada umumnya. Mengingat terdapat perubahan yang signifikan pada prinsip pembelajaran maka rumusan tujuan perlu mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran kurikulum 2013.

Setelah membuat Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dari setiap KD dilanjutkan dengan membuat rumusan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan jabaran lebih rinci dari indikator (IPK). Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dari KI pengetahuan dan KD dari KI keterampilan dengan mengaitkan dimensi sikap yang akan dikembangkan. Perumusannya menggunakan Kata Kerja Operasional  (KKO) yang dapat diamati dan atau diukur, mencakup ranah sikap, ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan.

Rumusan tujuan pembelajaran mengandung komponen Audience, Behaviour, Condition dan Degree (ABCD), yaitu:

  1. Audience adalah peserta didik;
  2. Behaviour merupakan perubahan perilaku peserta didik yang diharapkan dicapai setelah mengikuti pembelajaran;
  3. Condition adalah prasyarat dan kondisi yang harus disediakan agar tujuan pembelajaran tercapai, dan
  4. Degree adalah ukuran tingkat atau level kemampuan yang harus dicapai peserta didik mencakup aspek afektif dan attitude.
Contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 3 Pengetahuan :

Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dengan percaya diri

Penjelasan contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 3 Pengetahuan:

  • komponen audience (A) adalah peserta didik
  • kompoen behavior (B) adalah dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio
  • komponen condition (C) adalah Melalui berdiskusi dan menggali informasi
  • komponen degree (D) adalah dengan percaya diri
Contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 4 Keterampilan :

Disediakan cairan pelarut pcb (ferriclorida) dan peralatan tangan peserta didik dapat membuat papan rangkaian tercetak (PRT) penguat depan universal dengan teliti

Penjelasan contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 4 Keterampilan :

  • komponen audience (A) adalah peserta didik
  • kompoen behavior (B) adalah dapat membuat papan rangkaian tercetak (PRT) penguat depan universal
  • komponen condition (C) adalah disediakan cairan pelarut pcb (ferriclorida) dan peralatan tangan
  • komponen degree (D) adalah dengan teliti

Berikut adalah contoh analisis yang menghasilkan tujuan pembelajaran,

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran dan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Tujuan Pembelajaran erat sekali kaitannya dengan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK. Pada uraian di atas telah disebutkan bahwa Tujuan Pembelajaran adalah pernyataan tentang tingkah laku yang harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah perilaku-perilaku siswa yang bisa diukur/diamati yang menjadi penanda bahwa kompetensi yang dipelajari sudah dikuasai siswa. Prilaku siswa dalam konteks ini umumnya adalah sub kompetensi kunci dari kompetensi dasar. Sub kompetensi kunci sebagai indikator ini dapat terdiri atas beberapa prilaku siswa baik ranah pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Jadi kata kerja operasional yang digunakan pada perumusan indikator pencapaian kompetensi mewakili suatu kinerja siswa dalam kompetensi dasar tersebut.

Ilustrasi di atas menunjukkan contoh kedudukan kompetensi dasar – indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Ilustrasi tersebut menjelaskan kedudukan kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran pada mata pelajaran  Perekayasaan Audio. Untuk lebih jelasnya dapat saya beri narasi sebagai berikut:

  • Kompetensi dasar “Menganalisis rangkaian penguat depan audioterdiri atas beberapa sub kompetensi kunci. Seorang siswa dapat dikatakan menguasai kompetensi “menganalisis rangkaian penguat depan audio” jika siswa menguasai kompetensi-kompetensi kunci dan salah satu kompetensi kuncinya adalah bisa “menjelaskan”
  • Kompetensi kunci “menjelaskan rangkaian penguat depan audio” terdiri atas pengetahuan terhadap fakta-fakta, konsep-konsep maupun proses. Inilah yang kemudian dapat menjadi prilaku-prilaku dalam tujuan pembelajaran.

Dengan ilustrasi dan penjelasan di atas cukup jelas kiranya kaitan antara tujuan pembelajaran dengan indikator pencapaian kompetensi IPK. Diskusi terkait indikator pencapaian kompetensi IPK dapat diikuti pada tautan indikator pencapaian kompetensi IPK

Contoh-contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran

Berdasarkan contoh IPK dari mata pelajaran Perekayasaan Audio tersebut di atas, maka rumusan tujuan pembelajarannya yaitu:

  1. Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dengan percaya diri
  2. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal dengan percaya diri
  3. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan bagian rangkaian dc pada penguat depan universal audio dengan percaya diri
  4. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan cara kerja penetapan bias (tegangan muka) penguat depan universal dengan percaya diri
  5. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan arah arus yang mengalir pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  6. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung besaran tegangan searah pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  7. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung besaran tegangan AC pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  8. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung faktor penguatan (gain) pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  9. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan hubungan penguatan dengan lebar tanggapan frekwensi penguat depan universal audio dengan percaya diri
  10. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung batas atas dan batas bawah tanggapan frekwensi penguat depan universal audio dengan percaya diri

Kata Kerja Operasional (KKO) Perumusan Tujuan Pembelajaran dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Tujuan pembelajaran maupun Indikator Pencapaian Kompetensi dirumuskan menggunakan kata kerja operasional (kko) yang setara dengan kompetensi dasar (KD). Kita tidak bisa secara serampangan saja memilih kata kerja operasional untuk perumusan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi. Hendaknya, dipilih kata kerja operasional yang tepat.

Berikut ini adalah Kata Kerja Operasional dari Taxonomi Bloom olahan Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001)

Sumber: http://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf

Demikianlah diskusi sekitar tujuan pembelajaran kurikulum 2013 yang berpusat pada siswa. Pembelajaran Kurikulum 2013 merujuk pada pendekatan saintifik yang mempunyai tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi dan mengomunikasikan.

Mengasosiasi

mengasosiasi

Mengasosiasi

Mengasosiasi bagian dari belajar.  Mengasosiasi tahapan penting, apapun kurikulumnya. Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera.

Pengertian mengasosiasi

Kata mengasosiasi dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia Online memang tidak ditemukan. Ditinjau dari asal katanya, mengasosiasi berasal dari kata “asosiasi” yang mendapat awalan “me”. Asosiasi menurut http://kbbi.web.id/asosiasi memiliki makna asosiasi / aso·si·a·si/ n 1 persatuan antara rekan usaha; persekutuan dagang; 2 perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama; 3 tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra;

Mengasosiasi mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik.  Langkah-langkahnya terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.   Mengasosiasi | mengolah informasi melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras.  Mengasosiasi juga melatih kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

mengasosiasi
mengasosiasi

Faktor Penting Memfasilitasi Siswa Mengasosiasi

Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera. Merujuk pada pengertian tersebut, maka efektifitas kegiatan mengasosiasi sebagai bagian proses belajar berpotensi dipengaruhi oleh faktor internal siswa dan faktor-faktor eksternal.

1. Faktor internal ialah hal-hal dalam diri siswa yang mempengaruhi aktifitasnya dalam mengasosiasi. Faktor internal yang berpotensi mempengaruhi efektifitas kegiatan mengasosiasi antara lain:

  • kesehatan
  • asupan makanan
  • perhatian
  • minat
  • bakat
  • kecerdasan ( gaya belajar )
  • konstelasi psikis (emosi)

2. Faktor eksternal ialah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi bagaimana siswa mengasosiasi antara lain:

  • interaksi dengan teman
  • media untuk mengasosiasi
  • interaksi dengan guru
  • cara/metode mengasosiasi
  • lingkungan kelas/sekolah
  • waktu untuk mengasosiasi

Faktor-faktor internal dan eksternal di atas berpotensi besar menimbulkan hambatan bagi siswa dalam proses mengasosiasi.

Hambatan Mengasosiasi Internal

Mengasosiasi adalah proses menanamkan pemahaman baru ke dalam jaringan otak, karena itu proses ini sangatlah penting. Mengetahui hambatan siswa dalam mengasosiasi sangat bermanfaat bagi guru agar tujuan pembelajaran yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tercapai.

Mengasosiasi adalah aktifitas biologis terkait dengan brain (otak). Seperti halnya belajar, kesehatan badan atau fisik siswa tentu berpengaruh. Kesehatan badan yang kurang di kala sakit atau dalam keadaan tidak nyaman mengganggu aktifitas jaringan otak untuk mencerna fakta, konsep, proses dan bahkan metakognisi.

Kurangnya perhatian siswa terhadap pelajaran atau proses menimbulkan hambatan bagi siswa itu sendiri untuk menerima fakta dan konsep hingga gagal membuat tautan dalam otaknya. Kurang perhatian jelas mengurangi fokus siswa terhadap topik yang sedang dibahas. Meningkatkan fokus selama proses mengasosiasi dapat mengurangi hambatan baginya untuk membuat tautan dalam otaknya untuk menerima dan memahami ilmu yang baru.

Mengasosiasi sebagai bagian kecil dari proses belajar tentu terkait dengan minat dan bakat siswa yang bersangkutan. Hal yang sangat logis ketika topik yang dipelajari sesuai dengan minat dan bakat siswa maka yang bersangkutan penuh semangat melaksanakan langkah-langkah mengasosiasi yang diperlukan. Sebaliknya ketika topiknya tidak bersesuaian dengan minat dan bakatnya semangatnya berkurang.

Gaya belajar setiap orang bisa berbeda satu dengan yang lain. Merujuk pada C.I.T.E. Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas terdapat beberapa gaya belajar siswa. Mengasosiasi, sebagai bagian belajar sangat masuk di akal jika dipengaruhi dan bahkan terhambat jika proses yang diminta guru tidak sesuai dengan gaya belajar yang disukainya. Beberapa gaya belajar yang diketahui antara lain:

  • Auditori Bahasa (Auditory Language)
  • Visual Bahasa (Visual Language)
  • Auditori numerik (Auditory Numerical)
  • Visual numerik (Visual Numerical)
  • Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik
  • Belajar individu
  • Belajar kelompok
  • Oral Ekspresif
  • Ditulis Ekspresif

Ketidak sesuaian metode yang digunakan guru dengan gaya belajar yang disukai siswa menimbulkan hambatan tersendiri bagi diri siswa.

Hambatan Mengasosiasi Eksternal

Mengasosiasi atau kegiatan aktif siswa membuat tautan dalam memorinya tentu dipengaruhi oleh berbagai hambatan yang datang dari luar diri siswa yang bersangkutan. Hal-hal di luar diri siswa seringkali tak dapat dikendalikan siswa yang bersangkutan. Karena berada di luar kendali dirinya maka ketidak sesuaian kondisi-kondisi eksternal ini dapat menghambat kegiatan siswa mengasosiasi. Hambatan-hambatan eksternal ini antara lain:

Hambatan terkait interaksi dengan teman. Kegiatan mengasosiasi dapat dilakukan baik sendiri maupun secara berkelompok. Ketika tahap mengasosiasi ini harus dilakukan dalam bentuk kelompok atau bersama siswa yang lain maka diperlukan interaksi antar siswa. Kadang interaksi antar siswa dapat berlangsung dengan lancar namun tidak sedikit pula yang mengalami kendala-kendala.

Mengasosiasi seringkali memerlukan media. Media adalah perantara yang dapat digunakan untuk menghubungkan kapasitas nalar kita dengan fakta-fakta, konsep-konsep, proses-proses dan bahkan untuk metakognisi. Dengan media kita sering terbantu untuk membuat hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya menjadi lebih nyata dan dapat diterima nalar kita. Dewasa ini begitu banya jenis media yang dapat digunakan. Hal ini menuntut literasi kita terhadap berbagai media dimaksud. Literasi media literasi teknologi literasi visual menjadi kunci pembuka mengurangi hambatan-hambatan mengasosiasi.

Mengasosiasi dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik memang dilakukan sendiri oleh siswa. Namun demikian tidak berarti tahap mengasosiasi tidak memerlukan interaksi guru dan siswa. Selama proses mengasosiasi tetap diperlukan interaksi guru dan siswa. Dengan interaksi ini guru tetap dapat memberi bimbingan bagaimana caranya siswa harus mengasosiasi. Sebaliknya dengan mudah siswa dapat bertanya dan mendapat bimbingan bagaimana mengasosiasi dapat dilakukan.

Cara mengasosiasi / Metode mengasosiasi yang dipilih guru dan direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP juga penting untuk diperhatikan. Cara / Metode mengasosiasi yang dipilih perlu memperhatikan karakteristik siswa. Lebih spesifik dapat dikatakan cara / metode mengasosiasi yang sesuai dengan gaya belajar siswa akan mengurangi hambatan yang dialami siswa. Cara / Metode mengasosiasi yang bersesuaian dengan gaya belajar siswa akan mempermudah siswa memahami dan membuat tautan dalam ingatannya.

Kondisi lingkungan kelas ketika proses mengasosiasi berlangsung dapat bersifat menghambat suksesnya siswa mengasosiasi topik yang dipelajari. Kondisi lingkungan perlu dijaga sedemikian rupa sehingga tahapan mengasosiasi yang dilakukan siswa berjalan dengan lancar dan kondusif. Guru wajib menciptakan situasi lingkungan yang kondusif selama proses belajar. Tak terkecuali dalam pembelajaran kurikulum 2013. Untuk memastikan kondisi lingkungan yang kondusif, guru harus merencanakan dan melakukan pengelolaan kelas yang efektif.

Mengasosiasi merujuk pada Gaya belajar siswa

Merujuk pada C.I.T.E.  Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas.  Dinyatakan bahwa terdapat sejumlah gaya belajar siswa yaitu :

Auditori Bahasa (Auditory Language)

Siswa dengan gaya belajar Auditori Bahasa (Auditory Language) lebih senang belajar dari mendengar kata-kata yang diucapkan. Mereka akan lebih mampu memahami dan mengingat kata-kata atau fakta yang dipelajari dengan mendengar. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Visual Bahasa (Visual Language)

Siswa kelompok ini belajar dengan baik dari melihat kata-kata dalam buku, di papan, grafik atau buku kerja (berupa tulisan). Mereka bahkan mungkin menuliskan kata-kata yang diberikan secara lisan, untuk belajar dengan melihat mereka di atas kertas. Siswa-siswa ini mengingat dan menggunakan informasi yang lebih baik jika mereka telah membacanya. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Auditori numerik (Auditory Numerical)

Siswa-siswa ini belajar dari mendengar nomor dan penjelasan lisan. Mengingat telepon dan ganti nomor mudah, dan mereka mungkin bisa berhasil dengan permainan nomor lisan dan teka-teki. Mereka mungkin melakukannya juga tanpa buku matematika mereka, untuk bahan tertulis tidak penting. Mereka mungkin dapat menyelesaikan masalah dalam kepala mereka, dan mungkin mengatakan nomor dengan keras ketika membaca.

Visual numerik (Visual Numerical)

Siswa-siswa ini harus melihat angka di papan, dalam sebuah buku, atau di atas kertas untuk bekerja dengan angka-angka. Mereka lebih cenderung untuk mengingat dan memahami fakta-fakta matematika ketika mereka disajikan secara visual. Mereka tampaknya tidak membutuhkan banyak penjelasan lisan.

Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik

Para siswa A-V-K belajar yang terbaik melalui pengalaman, melakukan, dan keterlibatan diri. Mereka mendapatkan keuntungan dari kombinasi rangsangan. Manipulasi bahan, yang disertai dengan penglihatan dan suara (kata dan angka melihat dan mendengar) akan membantu mereka belajar. Mereka mungkin tidak tampak untuk memahami atau dapat berkonsentrasi atau bekerja kecuali benar-benar terlibat. Mereka berusaha untuk menangani, menyentuh dan bekerja dengan apa yang mereka pelajari.

Pelajar individu

Siswa-siswa ini lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dengan dilakukan sendiri. Mereka berpikir yang terbaik dan lebih ingat ketika telah belajar sendiri. Mereka lebih peduli pendapat mereka sendiri dari pada ide-ide orang lain. Guru tidak memiliki banyak kesulitan menjaga mereka bersosialisasi selama pembelajaran.

Pelajar kelompok

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk belajar dengan setidaknya satu teman lainnya, dan tidak banyak dengan dilakukan sendiri. Mereka menghargai pendapat dan preferensi orang lain. interaksi kelompok meningkatkan pembelajaran mereka dan kemudian pengakuan fakta.  Observasi kelas akan cepat mengungkap betapa pentingnya sosialisasi untuk mereka.

Oral Ekspresif

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk memberitahu apa yang mereka ketahui. Mereka berbicara dengan lancar, nyaman, dan jelas. Guru mungkin menemukan bahwa mereka lebih tahu dari tes tertulis menunjukkan. Mereka mungkin kurang malu daripada yang lain tentang memberikan laporan atau berbicara dengan guru atau teman sekelas. Koordinasi otot yang terlibat dalam penulisan mungkin sulit bagi mereka. Pengorganisasian dan menempatkan pikiran di atas kertas mungkin terlalu lambat dan membosankan tugas untuk mereka.

Ditulis Ekspresif

peserta didik dapat menulis esai lancar dan jawaban yang baik pada tes untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui. Mereka merasa kurang nyaman, bahkan mungkin bodoh, ketika jawaban atau laporan lisan yang diperlukan.  Pemikiran mereka lebih terorganisir di atas kertas daripada ketika mereka diberikan secara oral.

Berbagai gaya belajar yang diuraikan di atas menyadarkan kita betapa banyak hal yang memperngahruhi sukses tidaknya tahapan mengasosiasi. Dengan memilih dan menerapkan teknik mengasosiasi yang tepat mudah-mudahan mengasosiasi menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa.

Bentuk kegiatan mengasosiasi
  1. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan,
  2. menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,
  3. mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan
  4. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
  5. Pengolahan informasi untuk menambah keluasan dan kedalaman sampai yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang berbeda sampai yang bertentangan
  6. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.
  7. menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Contoh langkah membimbing siswa mengasosiasi

Seperti halnya pada tahapan menanya boleh jadi siswa mengalami kesulitan atau kebingungan melakukan langkah mengasosiasi.

Bagaimana dia harus membentuk tautan dalam ingatan tentang hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera? Bagaimana langkahnya? Bahkan pertanyaan bagaimana cara melakukannyapun kadang tak terkatakan. Pada kondisi seperti ini kehadiran guru sebagai fasilitator dan pembimbing sangat diperlukan. Guru sebaiknya mengatur skenario proses bagaimana siswa melakukan langkah mengasosiasi.

Contoh sintak pembelajaran mengasosiasi

Contoh sintak pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP untuk membimbing dan memfasilitasi siswa mengasosiasi sebagai berikut:

  1. Guru meminta siswa dalam kelompok menetapkan cara yang disukai masing-masing untuk berpartisipasi menyampaikan kesimpulan.
  2. Siswa mengusulkan masing-masing cara yang disukai
  3. Guru memberi contoh daftar/tabel format pengelompokan dan pengkategorisasian, hasil menanya dan hasil diskusi kelompok
  4. Siswa dalam kelompok menyiapkan daftar / tabel pengelompokan dan pengkategorisasian untuk mempermudah siswa mengasosiasi
  5. Guru meminta kelompok berdiskusi mengisi daftar/tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  6. Siswa dalam kelompok berdiskusi mengisi daftar / tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  7. Guru memberi contoh dan bukan contoh dan meminta siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain.
  8. Siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain untuk memperoleh kesimpulan yang benar.
  9. Guru meminta semua siswa untuk membuat catatan  sendiri menurut cara yang disukainya.
  10. Siswa dalam kelompok membuat catatan dan hasil mengasosiasi dan atau memiliki catatan sendiri menurut cara yang disukainya.
  11. Dan seterusnya

Demikianlah pembahasan tentang tahapan mengasosiasi, semoga bermanfaat.

Menanya

menanya

Menanya

Menanya itu apa maksudnya? Apakah menanya masih banyak kendala? Siapa seharusnya menanya? Menanya adalah bagian aktifitas 5M. Faktanya, siswa masih sulit menanya. Dunia pendidikan kita khususnya jenjang dasar dan menengah belum terbiasa dengan aktifitas menanya. Apa sebenarnya arti dan maksud aktifitas menanya ini?

menanya
menanya

Pengertian Menanya

Menanya dari asal kata ‘tanya’. Menanya bermakna mengajukan pertanyaan atau bertanya ( http://kbbi.web.id/tanya di akses 17-08-2017 : 23:15). Menanya memiliki arti yang lebih luas. Dalam pandangan pembelajaran berpusat pada siswa, yang di anut Kurikulum 2013, menanya seharusnya merupakan kegiatan yang dilakukan siswa. Oleh karena itu menanya dapat diartikan sebagai kegiatan aktif siswa mempertanyakan fakta, konsep, prosedur sesuai kompetensi inti kompetensi dasar yang dipelajari.

Menanya memang tahapan aktifitas belajar sesuai Kurikulum 2013. Menanya adalah kegiatan aktif siswa untuk menggali apa saja terkait topik belajar. Kegiatan menanya melatih siswa mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Menanya adalah salah satu cara mengembangkan keterampilan critical thinking, creative thinking. Ya … menanya adalah elemen dasar keterampilan Abad 21.

Siapa yang harus menanya ?

Menanya dapat dilakukan siswa maupun guru. Pada pembelajaran berpusat pada siswa, siswalah yang seharusnya aktif belajar. Oleh karena itu siswalah yang seharusnya menanya. Namun, fakta di lapangan belum demikian. Sebagian besar guru tentu selalu menyediakan waktu jika ada siswa yang ingin bertanya walaupun ada juga yang kurang menyediakan waktu untuk siswa bertanya. Namun banyak guru mengatakan bahwa sangat sedikit siswa yang bertanya atau menanya ketika diberikan kesempatan. Bagaimana di kelas Anda?

Menanya, bagi sebagian (boleh jadi kebanyakan ) siswa, bukan sesuatu yang mudah dilakukan walaupun guru sudah mengatakannya secara langsung ….

Bagi yang belum jelas, silahkan bertanya …!” … atau …

Sekarang saatnya … ayo siapa yang mau bertanya?”

atau yang lebih tajam lagi …

Kalau tidak ada yang bertanya … Bapak/Ibu yang akan bertanya !

Walaupun sudah dibuka kesempatan untuk menanya, dibantu kata-kata untuk memulai menanya, tetapi tidak berhasil juga membuat siswa bertanya atau mengajukan pertanyaan. Pernahkah Anda mengalami hal itu?

Jadi … bagaimana membuat siswa mampu menanya …?

Ada sejumlah cara membuat / mengkondisikan agar siswa mampu menanya. Dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran Kurikulum 2013 guru mempunyai ruang membimbing dan memfasilitasi siswa agar mampu menanya.

Siswa harus menanya apa ?

Menanya sudah cukup jelas adalah aktifitas siswa. Namun pertanyaan “siswa harus menanya apa?” juga menjadi penting sebab ketika diminta bertanya siswa jarang menanya. Dalam hal ini menjadi tugas guru untuk membantu siswa menanya. Dalam konteks pembelajaran, kita (pendidik / guru) lah yang dipandang menguasai pada mata pelajaran yang bersangkutan. Setidaknya demikianlah menurut Standar Kompetensi Pendidik. Jadi, guru memfasilitasi siswa agar mampu menanya.

Seharusnya siswa menanya tentang konten / materi kompetensi dasar yang sedang dipelajari. Siswa seharusnya menanya fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip ataupun prosedur-prosedur. Sebagai contoh, pada kompetensi dasar 3.2 Memahami sepeda roda 2 (ini hanya KD contoh saja … saya berpikir kita semua memiliki kompetensi yang sama pada KD ini). Beberapa hal yang bisa menjadi bahan siswa menanya antara lain:

  • pengertian sepeda roda 2
  • bagian-bagian utama sepeda roda 2
  • fungsi masing-masing bagian utama sepeda roda 2
  • cara kerja sepeda roda 2
  • cara mengoperasikan sepeda roda 2
  • cara merawat sepeda roda 2
  • cara memperbaiki kerusakan sepeda roda 2
  • dan sebagainya

Dengan contoh sederhana ini, jelas bagi kita seharusnya siswa menanya apa? Sekali lagi … tugas kita sebagai guru membantu dan memfasilitasi mereka bisa menanya . Bagaimana caranya?

Menanya dalam pendekatan Saintifik

Merujuk pada arti menanya secara bahasa dan berbagai prinsip pembelajaran kurikulum 2013 di atas maka kegiatan tersebut seharusnya mempunyai banyak variasi jenis kegiatan bukan hanya berupa siswa bertanya kepada guru atau siswa mengajukan pertanyaan kepada guru.  Secara normatif, bentuk kegiatan yang bisa dilakukan adalah guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai fakta, konsep, prinsip atau prosedur yang sudah  disimak, dibaca atau dilihat. Namun fakta bahwa siswa belum mampu mempertanyakan, karena itu perlu menjadi perhatian serius.

menanya atau mengajukan pertanyaan: baik pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak perlu mendapat bimbingan guru. Siswa harus dilatih agar bisa menanya hal-hal yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. (Permendikbud No. 81a Th. 2013).

menanya
menanya
Menyiapkan Kegiatan Menanya

Menanya adalah tahapan penting dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Melalui kegiatan menanya, siswa berlatih tentang kepekaannya terhadap masalah yang dihadapi. Sebagai guru, kita wajib menyiapkan langkah-langkah untuk memfasilitasi kegiatan menanya.

Apa yang harus kita lakukan untuk memfasilitasi tahapan menanya….?

Lihat kembali pada kalimat terakhir “Pengertian Menanya” di atas. Menanya dapat diartikan kegiatan aktif siswa mempertanyakan fakta, konsep, prosedur sesuai topik yang dipelajari.

Nah … jelas bahwa dalam kegiatan menanya, siswa diharapkan mampu menanya terkait fakta, konsep, prosedur terkait kompetensi dasar yang dipelajari. Untuk itu kita sebagai guru seharusnyalah telah lebih dahulu mengidentifikasi fakta, konsep, prosedur tersebut. Lazimnya ini kita lakukan pada kegiatan analisis silabus atau dalam workshop kurikulum 2013 kita lakukan pada Analisis Materi Pembelajaran, tepatnya pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK.

Hasil dari kegiatan analisis tersebut adalah fakta, konsep, prosedur yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diajarkan. Fakta, konsep, prosedur inilah yang perlu kita sampaikan sebagai bahan memfasilitasi dan memberi bimbingan pada tahapan mengamati.

Contoh kegiatan menanya

Pada kegiatan ini, siswa dibimbing dan difasilitasi untuk bisa mengajukan pertanyaan atau menemukan hal-hal yang perlu dipertanyakan. Siswa perlu diperjelas dan dibimbing agar mempunyai kemampuan mencari dan menemukan penjelasan tambahan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tentang dan atau konten yang terkait dengan hal yang sedang dipelajari.

Menanya perlu mengimplementasikan prinsip pembelajaran Kurikulum 2013 dengan mengombinasikan berbagai prinsip pembelajaran Kurikulum 2013.  Langkah-langkah pembelajaran pada tahapan menanya dapat berbentuk seperti di bawah:

  1. Guru meminta siswa membentuk kelompok kerja, jika belum dibentuk pada tahap mengamati (prinsip kooperatif – kolaboratif)
  2. Siswa membentuk kelompok kerja / kelompok diskusi.
  3. Guru memberi contoh daftar pertanyaan terkait hal yang diamati sesuai kompetensi dasar (membimbing & memfasilitasi)
  4. Guru meminta siswa berdiskusi terkait topik yang baru saja di amati (prinsip aneka sumber belajar, siapa saja adalah guru siapa saja adalah siswa)
  5. Siswa dalam kelompok berdiskusi melengkapi daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik (prinsip mencari tahu, prinsip kooperatif, kolaboratif)
  6. Siswa dalam kelompok membaca buku teks melengkapi daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik (prinsip mencari tahu)
  7. Siswa dalam kelompok mengakses internet melengkapi daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik (prinsip pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi)

Kegiatan mempertanyakan konten dapat berbentuk:

(1) membuat pertanyaan yang relefan dengan materi pembelajaran

(2) mengajukan pertanyaan yang sudah dibuat kepada guru, teman dalam kelompok atau sumber belajar lainnya. (3) melakukan tanya jawab

(4) melakukan diskusi tentang informasi yang relefan dengan topik pembelajaran yang belum diketahui

(5) menanyakan informasi tambahan yang ingin diketahui atau

(6) menanyakan informasi yang sudah diketahui sebagai klarifikasi.

Contoh menanya lainnya
  1. Siswa menanyakan penjelasan tambahan terhadap informasi yang didapat dari proses mengamati
  2. Siswa mencari penjelasan tambahan sendiri berdasarkan informasi hasil-hasil kegiatan mengamati
  3. Siswa menanyakan fenomena-fenomena yang tidak diketahuinya dalam langkah mengamati obyek
  4. Siswa mengklarifikasi informasi yang didapatnya dari tahap mengamati.
  5. Siswa melakukan tanya jawab sesuai topik dengan guru.
  6. Siswa melakukan tanya jawab sesuai topik dengan siswa lainnya.
  7. Siswa berdiskusi sesuai topik secara berkelompok.
  8. Siswa mengakses internet mencari penjelasan lebih lengkap sesuai topik
Hasil Kegiatan menanya
  1. Jenis-jenis pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  2. Jumlah pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  3. Kualitas pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  4. Daftar pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis dan jawaban

Demikianlah kegiatan menanya pada pembelajaran kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik.

Mengamati

mengamati

Mengamati

Mengamati tahap awal kegiatan 5M. Mengamati bisa bermacam-macam caranya. Mengamati merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 atau Kurtilas atau K13.

Pengertian Mengamati

Mengamati berarti memperhatikan dengan teliti. Mengamati bukan hanya dengan penglihatan, mengamati dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mendengar juga mengamati, menyimak juga mengamati, melihat juga mengamati, menonton juga mengamati. Mengamati juga bisa dengan meraba, mengecap dsb. Ya .. mengamati bisa berarti memperhatikan dengan teliti.

Mengamati merupakan awal pendekatan saintifik. Mengamati dalam konteks pendekatan saintifik pada pembelajaran Kurikulum 2013 memiliki makna yang luas. Pada pendekatan saintifik ini, mengamati merupakan tahap awal dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.

mengamati
mengamati

Mengamati menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran, adalah mencermati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat. Berdasarkan pengertian dan diskripsi tersebut pada dokumen, pengertiannya menjadi sangat luas. Hal ini memberikan ruang yang cukup kepada guru untuk mengimplementasikan kegiatan mengamati dalam proses pembelajaran.

Mengamati, dilakukan oleh siswa dengan difasilitasi dan dibimbing oleh guru dalam bentuk melihat, menyimak, mendengar, membaca, membau, meraba menggunakan panca indera dengan atau tanpa bantuan alat. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun dalam kerja kelompok. Menurut hemat kami, tahapan dalam pendekatan-pendekatan saintifik ini lebih baik dilakukan siswa dalam kelompok. Mengapa demikian? Lihat laman prinsip pembelajaran. Bukankah kita bertugas mengimplementasikannya?!

Tujuan Mengamati

Mengamati seharusnya dilakukan siswa. Biarkan siswa (beri kesempatan) menemukan sendiri fakta, konsep, prinsip, proses atau prosedur terkait kompetensi yang sedang dipelajari. Tujuan dari kegiatan mengamati adalah:

  1. melatih kompetensi siswa dalam hal kesungguhan,
  2. melatih kompetensi siswa terkait ketelitian,
  3. melatih kompetensi siswa mencari informasi.

Kegiatan mengamati mengarahkan siswa untuk:

  1. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan faktual,
  2. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan konseptual dan,
  3. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan prosedural yang ada pada suatu kompetensi dasar.

Cara Mengamati

Mengamati suatu fenomena dapat dilakukan tanpa menggunakan alat maupun dapat menggunakan alat tergantung dan bahkan harus menggunakan alat bantu. Penggunaan alat bantu untuk kegiatan mengamati lebih didasarkan pada sifat fenomena yang akan diamati.

Mengamati Tanpa Alat

Mengamati dapat dilakukan dengan alat maupun tanpa alat. Mengamati tanpa alat (bantu) berarti kegiatan siswa mengamati hanya mengandalkan panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba. Dalam berbagai kompetensi, pengamatan tanpa menggunakan alat juga merupakan kemampuan yang sangat penting. Karena itulah, penting bagi guru menskenariokan agar siswa berlatih walaupun tanpa alat.

Mengamati fakta-fakta, konsep-konsep dan proses atau prosedur seperti ditunjukkan pada contoh di atas dapat dilakukan tanpa menggunakan alat bantu. Umumnya obyek kegiatan mengamati tanpa menggunakan alat berupa fakta-fakta nyata yang dapat diidentifikasi dengan panca indera.

Mengamati dengan melihat

Mengamati dapat dilakukan dengan indera penglihatan. Siswa difasilitasi untuk melihat media pembelajaran yang disiapkan guru. Beberapa contoh kegiatan dengan melihat antara lain:

  • siswa melihat benda nyata/model
  • siswa membaca konten buku, handout, lembar kerja
  • siswa melihat gambar, foto, tabel, grafik
  • siswa melihat papan tampilan
  • siswa membaca buletin,
  • siswa membaca papan tulis interaktif
  • siswa melihat transparansi overhead
  • siswa melihat konten tayangan Slide, film strips
  • siswa melihat konten Video dan Film
  • siswa melihat konten Televisi (hidup)
  • siswa melihat konten tayangan software komputer
  • siswa melihat konten Web
Mengamati dengan mendengar

Pengamatan dapat dilakukan dengan indera pendengaran. Siswa difasilitasi untuk mendengarkan suara dari media pembelajaran yang disiapkan guru. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa mendengarkan cerita
  • siswa mendengarkan instrumen musik
  • siswa mendengarkan pembacaan puisi
  • siswa mendengarkan pembacaan ayat-ayat Kitab Suci
  • siswa mendengarkan radio
  • siswa mendengarkan rekaman sandiwara, rekaman percakapan
  • siswa mendengarkan suara mesin mobil
  • siswa mendengarkan kualitas suara audio
  • siswa mendengarkan paparan laporan
  • siswa mendengarkan tape recorder
Mengamati dengan meraba

Mengamati dapat pula dilakukan dengan indera peraba. Siswa dapat difasilitasi untuk meraba media pembelajaran yang disiapkan guru berupa tekstur suatu permukaan. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa meraba permukaan benda yang berbeda gradasi teksturnya
  • siswa meraba untuk merasakan suhu benda
  • siswa meraba untuk merasakan ketegangan
  • siswa meraba untuk merasakan getaran mesin
Mengamati dengan membau

Pengamatan dapat pula dilakukan dengan indera penciuman. Siswa dapat difasilitasi dengan mencium bau media pembelajaran yang disiapkan guru berupa macam-macam bau dari suatu bahan. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa mencium bau bahan masakan
  • siswa mencium aneka bau bunga
  • siswa mencium bau hasil pembakaran normal
  • siswa mencium bau hasil pembakaran tidak normal
Mengamati Menggunakan Alat

Dalam berbagai kompetensi, kegiatan pengamatan kadang justru harus menggunakan alat bantu. Penggunaan alat bantu sangat diperlukan pada kegiatan ini. Pertimbangan seperti ukuran yang terlalu kecil, terlalu jauh, obyek berbentuk abstrak dan sebagainya. Untuk itu tidak kalah penting juga agar siswa dilatih cara menggunakan alat bantu.

Mengamati benda dari jarak jauh

  • Mengamati benda yang berada di tempat yang jauh perlu menggunakan peralatan.

Mengamati benda berukuran kecil

  • Mengamati benda yang ukurannya sangat kecil perlu menggunakan peralatan.

Mengamati gejala tidak nampak

Mengamati fenomena yang tidak kasat mata, seperti gejala kelistrikan, perlu menggunakan peralatan yang sesuai. Contoh :

  • mengamati tegangan listrik pada ujung-ujung suatu penghantar
  • mengamati kuat arus yang mengalir pada duatu penghantar
  • mengamati bentuk gelombang listrik pada suatu rangkaian listrik
  • mengamati perioda gelombang listrik arus bolak-balik

Mengamati benda bersuhu tinggi

 

Mengamati benda yang berbahaya

 

Memfasilitasi Kegiatan Mengamati

Mengamati sekilas nampak kegiatan yang sederhana. Dalam konteks pembelajaran, untuk mengantarkan siswa memiliki kompetensi melalui kegiatan mengamati tentu tidak sesederhana itu. Tahapan pembelajaran mengamati harus difasilitasi dan dibimbing oleh guru agar kegiatan mengamati berlangsung dengan benar. Sudah barang tentu untuk membimbing dan memfasilitasi kegiatan siswa ini perlu persiapan-persiapan. Membiarkan siswa mengamati secara bebas tanpa pedoman dan panduan tidak akan menghasilkan kompetensi yang optimal.

Kegiatan mengamati, perlu dibimbing dan difasilitasi oleh guru. Mengapa ? Haruskah?

Persiapan memfasilitasi mengamati

1. Menemukan kompetensi kunci

Analisis / Pemetaan Kompetensi. Kegiatan siswa mengamati diharapkan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan faktual, konseptual, pengetahuan proses dan prosedural. Agar guru lancar pada saat memfasilitasi dan membimbing aktifitas siswa mengamati, guru terlebih dahulu harus melakukan analisis / pemetaan kompetensi.

Ilustrasi berikut adalah contoh analisis / pemetaan kompetensi. KD yang digunakan sebagai contoh adalah Kompetensi Dasar pada mata pelajaran Perekayasaan Sistem Audio pada paket keahlian Teknik Audio Video. Pembuatan gambaran pemetaan dilakukan menggunakan Aplikasi XMIND yang dapat diperoleh secara gratis. Pengoperasiannya pun terhitung sederhana.

mengamati
mengamati

Dengan penggambaran peta seperti contoh di atas, lebih mudah bagi kita untuk menyusun dan menentukan jenis-jenis fakta, konsep, proses atau prosedur. Kegiatan mengamati jenis-jenis fakta, konsep, proses atau prosedur di atas dapat dilakukan tanpa menggunakan alat bantu maupun dengan menggunakan alat bantu, tentu saja tergantung jenis konten mata pelajaran. Dengan melakukan analisis terhadap suatu kompetensi dasar maka hal ini akan sangat memudahkan kita menyusun skenario pembelajaran pada tahap mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan.

Langkah Pembelajaran pada tahap mengamati

Sintak model pembelajaran pada tahapan ini dapat disusun sedemikian rupa agar fasilitasi dan bimbingan guru terlaksana dengan hasil optimal. Paparan sintak model pembelajaran berikut memberikan contoh penerapan kegiatan pengamatan.

  1. Guru menayangkan gambar/foto peralatan elektronik yang menggunakan sistim penguat audio seperti – amplifier, – tape/audio mobil, – televisi, – handphone, – laptop, – komputer personal
  2. Guru meminta peserta didik mencermati dengan seksama tayangan gambar/foto yang ditayangkan guru dan penjelasan yang terkait dengan masing-masing gambar contoh benda.
  3. Guru menayangkan gambar rangkaian penguat audio dengan transistor seperti – penguat transistor satu tingkat common emitor, common colector dan common base. – penguat dua tingkat dengan kopling resistif, kapasitif, induktif dan kopling langsung. – penguat depan universal dengan kopling langsung
  4. Peserta didik mencermati dengan seksama tayangan gambar-gambar skema penguat depan audio terkait bentuk rangkaian, jumlah komponen, sambungan antara tingkat 1 dan tingkat berikutnya, posisi komponen resistor terhadap catu daya, posisi komponen resistor terhadap transistor.
  5. Guru meminta peserta didik berkumpul sesuai kelompok yang sudah dibentuk dan menempati tempat duduk sesuai kesepakatan kemudian membaca materi pokok penguat depan universal lebih dalam.
  6. Peserta didik berkumpul dengan teman satu kelompok dan menempati tempat duduknya dan membaca materi pokok penguat depan universal lebih dalam.
  7. Guru meminta peserta didik dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan tentang fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio
  8. Peserta didik berdiskusi tentang fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1A)
  9. Peserta didik berdiskusi tentang bagian rangkaian dc penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1B)
  10. Peserta didik berdiskusi tentang komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1C)
  11. Guru bersama peserta didik mendiskusikan hasil diskusi kelompok tentang fungsi masing-masing komponen, rangkaian dc dan komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal audio.

Mengamati pada pembelajaran kurikulum 2013 adalah kegiatan yang seharusnya dilakukan siswa. Walaupun ini adalah kegiatan siswa, bukan berarti guru tidak berperan. Mengamati memerlukan peran aktif guru sebagai fasilitator. Pada dasarnya, kompetensi dasar yang sedang mulai dipelajari adalah materi yang baru. Sangat logis jika siswa belum mengetahui apa yang harus diamati. Karena itulah peran guru menjadi sangat penting dalam tahap ini. Ada banyak cara bagi guru untuk memfasilitasi kegiatan ini.

Di samping menyediakan berbagai jenis media pembelajaran, guru sebaiknya menyediakan lembar kerja siswa. Petunjuk kerja yang relefan juga perlu diberikan kepada siswa. Dengan demikian kegiatan siswa menjadi terarah sesuai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP.

Contoh mengamati
  1. Siswa difasilitasi untuk membaca sumber dari buku siswa
  2. Siswa difasilitasi mendengarkan pembacaan puisi atau narasi dari radio
  3. Siswa difasilitasi melihat tayangan video perakitan komputer
  4. Siswa difasilitasi melihat demonstrasi perbaikan sepeda motor
Hasil Kegiatan mengamati
  1. Perhatian siswa pada saat melakukan kegiatan
  2. Bentuk catatan yang dibuat pada waktu melakukankegiatan.
  3. Kesabaran siswa yang terbentuk selama melakukan kegiatan.
  4. Jangka waktu yang digunakan siswa melakukan langkah mengamati.

Guru Pembelajar

Pengertian Program Guru Pembelajar

Guru pembelajar adalah program peningkatan kompetensi pendidik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Program guru pembelajar dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat itu, Anies Baswedan, untuk mengajak para guru Indonesia untuk sama-sama menunjukkan pada bangsa bahwa para guru Indonesia adalah guru pembelajar.

Menurut http://kbbi.web.id/ajar, pembelajar/pem·bel·a·jar/ n orang yang mempelajari; karena itu guru pembelajar berarti guru yang selalu belajar, guru yang selalu mempelajari perkembangan dan kemajuan pengetahuan dan teknologi, sehingga menempatkan dirinya sebagai guru yang up to date, guru yang tidak statis dengan ilmu-ilmu lama, guru yang pantas diidolakan siswanya sebagai guru inspirator belajarnya. Program guru pembelajar mendorong guru menjadi pribadi pembelajar sepanjang hayat. Bagaimana mungkin pada pembelajaran Kurikulum 2013 ini menginspirasi siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat kalau guru inspirator mereka bukan / belum menerapkan sebagai pembelajar sepanjang hayat?

Program guru pembelajar dianggap penting mengingat guru selalu hadir mengirimkan pesan harapan terhadap generasi bangsa ini. Program guru pembelajar juga akan semakin menempatkan guru menjadi teladan tepat karena ketangguhan, optimisme dan keceriaannya. Mendikbud Anis Baswedan mengajak seluruh guru untuk meneguhkan ikhtiarnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri diantaranya melalui program guru pembelajar.

Video Pesan Mendikbud terkait Guru Pembelajar

Guru Pembelajar Berbasis TIK

Guru memiliki tugas, fungsi, dan peran yang penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Supaya dapat melaksanakan tugas, fungsi dan peran tersebut, guru perlu untuk meningkatkan profesionalismenya secara berkelanjutan. Sebagai langkah mengaktualisasikan guru profesional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program kegiatan Guru Pembelajar. Program Guru Pembelajar merupakan kegitan yang penting bagi pengembangan diri guru. Karena jumlah guru yang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia, maka dikembangkan sistem Guru Pembelajar secara elektronik dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang kemudian disebut Guru Pembelajar Moda Daring (dalam jaringan). Dengan program Guru Pembelajar moda daring ini, diharapkan semua guru peserta dapat secara aktif dalam mengakses sumber belajar, belajar secara individu sesuai kebutuhan, dan dapat saling berbagi pengetahuan/keterampilan dan pengalaman dengan guru lainnya.

Jenis Program Guru Pembelajar Dalam Jaringan

Guru Pembelajar Moda daring ini terdiri dari 3 (tiga) model yaitu Guru Pembelajar Moda Daring Penuh-Model 1, Guru Pembelajar Moda Daring Penuh-Model 2, dan Guru Pembelajar Moda Daring Kombinasi. Guru Pembelajar Moda Daring Penuh-Model 1 hanya melibatkan pengampu dan guru sebagai peserta. Selama proses pembelajaran, peserta dibimbing dan difasilitasi secara daring oleh pengampu. Guru Pembelajar Moda Daring Penuh-Model 2 melibatkan pengampu, mentor, dan peserta. Guru Pembelajar moda daring model ini menggabungkan interaksi antara peserta dengan mentor dan atau pengampu, yang hanya dilakukan secara daring. Sedangkan pada moda kombinasi ini, peserta melakukan interaksi belajar secara daring dan tatap muka. Interaksi belajar secara daring dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran yang telah disiapkan secara elektronik, dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, sedangkan interaksi tatap muka dilaksanakan bersamaan dengan peserta Guru Pembelajar lainnya di pusat belajar (PB) yang telah ditetapkan sesuai dengan SK Penetapan KKG dan difasilitasi oleh seorang mentor.

Mengenal Kelas Maya Guru Pembelajar Moda Daring