Discovery Learning

discovery learning

Discovery Learning

Discovery Learning salah satu model pembelajaran K2013. Discovery Learning mudah diterapkan. Bagaimana menyusun langkah pembelajaran discovery learning ini? Mari kita diskusikan …

discovery learning
discovery learning

Discovery Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang menyekenariokan proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait topik (kompetensi dasar – KD) yang sedang dipelajari. Jadi, dalam discovery learning ada kata kunci yang bisa dicatat yaitu

  • siswa
  • pertanyaan-pertanyaan
  • skenario belajar
  • menemukan jawaban

Dalam model pembelajaran Discovery Learning siswa adalah subyek utama yang melakukan proses belajar. Siswalah yang (seharusnya) menggali pertanyaan-pertanyaan terkait kompetensi dasar dan harus dikumpulkan untuk mendukung akuisisi kompetensi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan atau hal-hal yang (harus) dipertanyakan pada dasarnya adalah segala sesuatu terkait kompetensi dasar meliputi pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural dan bahkan pengetahuan metakognitif. Siswa ada yang sudah tahu hal apa yang harus dipertanyakan namun umumnya siswa belum tahu hal apa saja yang perlu dipertanyakan itu. Ini wajar saja, karena mereka baru ketemu dengan topik tersebut. Dalam konteks ini Guru lah yang harus berperan memberi PANDUAN dan ARAHAN.

Sebagai pembimbing dan fasilitator GURU seharusnya tahu apa yang para siswa harus pertanyakan. Dari sudut pandang Guru, hal-hal yang harus dipertanyakan siswa itu adalah apa yang tercantum dalam Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan Tujuan Pembelajaran. Di sinilah pentingnya rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran dirancang dengan SISTEMATIS, LENGKAP dan RINCI oleh guru. Berbekal rumusan IPK dan Tujuan Pembelajaran guru dapat menyusun panduan bagi siswa mempertanyakan hal-hal yang perlu dipahami. Panduan ini dapat berupa lembar kerja diskusi yang dibagikan kepada semua siswa.

Skenario dalam Discovery Learning menyangkut kegiatan-kegiatan yang diatur sedemikian rupa sehingga siswa mampu membangun pengetahuan-pengetahuan secara kronologis dari yang mudah menuju yang sulit seperti urutan Indikator Pencapaian Kompetensi yang tidak meninggalkan struktur keilmuannya. Siswa secara bersama membangun pengetahuan-pengetahuan selangkah-demi selangkah di dalam memorinya. Setelah melakukan penalaran siswa akan mampu menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan sesuai kompetensi dasar seperti diuraikan di depan. Siswa akan memiliki pengalaman dalam dirinya bahwa dia menemukan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri tanpa dijejali ceramah oleh guru. Inilah esensi discovery learning itu.

Sintak Discovery Learning

Model pembelajaran Discovery Learning dilaksanakan mengikuti urutan proses (sintak) sebagai berikut:

  • Pemberian rangsangan (Stimulation)
discovery learning 1
discovery learning 1

Tahapan ke 1 model pembelajaran Discovery Learning ialah pemberian rangsangan (stimulation). Guru mengajak siswa memfokuskan perhatian pada berbagai jenis fakta yang relefan dengan konteks KD yang dipelajari. Inilah sebabnya guru harus memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Fakta-fakta ini ditunjukkan melalui tayangan gambar, video, animasi, model atau bahkan benda nyatanya. Guru meminta siswa mengamati fakta-fakta ini. Melalui langkah ini perhatian siswa terfokus tepat pada hal-hal terkait KD yang akan dipelajari.

  • Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement)
discovery learning 2
discovery learning 2

Tahapan ke 2 Discovery Learning ialah pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement). Agar siswa kompeten pada KD yang dipelajari tersebut hal apa saja yang harus dipahami siswa.  Masalah (bagi siswa) dalam mempelajari KD tersebut sesungguhnya ya semua konten tersebut. Minta mereka membuat pertanyaan terkait KD. Pancing mereka agar bisa mengeksplore apa yang seharusnya dipelajari secara kronologis dan bertahap. Dari sudut pandang guru, aspek-aspek permasalahan (yang harus dipelajari siswa itu) sesungguhnya sudah ditulis pada indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran.

  • Pengumpulan data (Data Collection)
discovery learning 3
discovery learning 3

Tahapan ke 3 Discovery Learning ialah pengumpulan data (Data Collection). Untuk menjawab berbagai permasalahan yang sudah diidentifikasi, siswa dipersilahkan mengumpulkan data. Berbagai cara / metode dapat dilakukan seperti membaca buku lebih intens, membuat percobaan, melakukan praktikum, melakukan studi lapangan. Pada tahap ini siswa memiliki berbagai informasi lebih detail terkait permasalahan dalam mengakuisisi KD yang dipelajari.

  • Pembuktian (Data processing dan Verification)
discovery learning 4
discovery learning 4

Tahapan yang ke 4 Discovery Learning ialah Pembuktian (Data Processing and Verification). Setelah pengumpulan data oleh siswa yang di dampingi guru, siswa pasti telah memiliki materi untuk di aplikasikan terhadap masalah yang telah sedang dipelajari.  Agar Discovery Learning dapat berjalan lancar, maka harus ada pengolahan data tersebut untuk pembuktian terhadap Jawaban dari masalah yang dipelajari. Salah satu contoh dalam pembelajaran eksakta, kita bisa memakai berbagai rumus ataupun hukum serta teori dari suatu materi. Pada pembelajaran non eksakta, guru harus menyediakan pendapat-pendapat ataupun hasil penelitian dari ahli agar bisa dijadikan acuan untuk dasar pembentukan konsep dasar yang ada di pemikiran siswa. Pembuktian yang di lakukan oleh guru dapat membuat pemikiran siswa tentang konsep dasar materi menjadi lebih matang sehingga siswa memiliki pengetahuan dasar tentang KD yang sedang dipelajari.

  • Menarik simpulan/generalisasi (Generalization)
discovery learning 5
discovery learning 5

Tahapan ke 5 dari Discovery Learning adalah Menarik Simpulan/Generalisasi (Conclusion/Generalization). Pada tahapan ini guru berperan penting sebagai pengarah agar konsep dasar siswa tadi menuju ke arah yang sama yaitu mencapai Indeks Pencapaian Kompetensi. Guru harus bisa meyakinkan dan menjawab semua keraguan dari siswa. Generalisasi ini penting dalam discovery learning, karena pada tahapan ini seharusnya siswa sudah bisa mengerti mengenai KD yang dipelajari. Pada saat generalisasi ini dilakukan maka seharusnya Indeks Pencapaian Kompetensi telah terpenuhi atau setidaknya dapat dilanjutkan dengan metode pembelajaran lain.

Tujuan pembelajaran model Discovery Learning

Discovery Learning disarankan digunakan dalam proses pembelajaran K2013. Berdasarkan Pedoman Pembelajaran SMK tahun 2017, discovery learning memiliki tujuan:

  • Meningkatkan kesempatan peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran;
  • Peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak;
  • Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan;
  • Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi serta mendengarkan dan menggunakan ide-ide orang lain;
  • Meningkatkan keterampilan konsep dan prinsip peserta didik yang lebih bermakna;
  • Dapat mentransfer keterampilan yang dibentuk dalam situasi belajar penemuan ke dalam aktivitas situasi belajar yang baru.

Merancang Langkah Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran Discovery Learning dapat berjalan dengan lancar apabila langkah-langkah pembelajaran direncanakan dengan baik. Untuk memudahkan merancang langkah pembelajaran discovery learning penulis membuat sketsa proses sebagai berikut:

discovery learning
discovery learning

Berdasarkan ilustrasi Konsep Merancang Langkah Pembelajaran Discovery Learning dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sisi kiri gambar menunjukkan fase-fase sintak discovery learning dimulai dari pemberian rangsangan (stimulasi) sampai dengan fase menarik kesimpulan (generalisasi). Dibagian tengah dengan notasi D1-D5 penulis gambarkan konten materi atau proses yang harus dilakuka. Sisi sebelah kanan dengan notasi R1 s.d. R5 merupakan hasil rancangan berupa langkah-langkah yang perlu dikembangkan.

Tahap memberi rangsangan merupakan kegiatan guru dengan memperlihatkan fakta-fakta yang sudah diidentifikasi pada kegiatan analisis materi pembelajaran.

Tahap identifikasi masalah sasarannya adalah berbagai pengetahuan konseptual yang sudah disusun dengan lengkap pada tujuan pembelajaran. Rekan-rekan dapat mengarahkan identifikasi masalah yang dilakukan siswa mengarah pada berbagai pengetahuan yang tercantum dalam tujuan pembelajaran.

Tahap pengumpulan data sasarannya adalah data-data pengetahuan konseptual yang sudah dinyatakan dalam tujuan pembelajaran.

Langkah pembelajaran pada tahap pembuktian merupakan langkah membandingkan / menganalisis kesesuaian analisis data konseptual dengan hasil identifikasi masalah dan literatur.

Contoh Langkah Pembelajaran Discovery Learning

Untuk memudahkan penyusunan langkah pembelajaran dengan discovery learning dapat digunakan template dasar seperti diuraikan di bawah. Perlu dipahami bahwa template dasar ini tidak mutlak harus persis seperti yang ada. Template dasar ini hanya untuk memudahkan imaginasi guru agar dapat menuangkan rencana proses pembelajaran dengan discovery learning.

STIMULASI

  1. Guru meminta siswa untuk melihat tayangan berbagai jenis …..
  2. Siswa melihat bahan tayang yang disajikan oleh Guru.
  3. Guru menugaskan siswa membaca buku untuk mengidentifikasi berbagai jenis ….
  4. Siswa membaca buku berkaitan dengan berbagai jenis …..
  5. Siswa berdiskusi tentang berbagai jenis …..
  6. Siswa mengidentifikasi …………. dari hasil diskusi dan buku.
  7. Siswa menentukan …..

IDENTIFIKASI MASALAH

  1. Guru menugaskan siswa untuk menentukan masalah utama apa dalam …..
  2. Siswa mengidentifikasi masalah-masalah melalui contoh yang didemonstrasikan oleh guru mengenai …..
  3. Siswa membaca buku untuk mendapatkan informasi tentang …..
  4. Siswa mendiskusikan …..
  5. Berdasarkan hasil membaca buku dan diskusi siswa merumuskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam …..
  6. Guru meminta siswa untuk menentukan prosedur ……… melalui buku siswa dan hasil diskusi
  7. Siswa menggali informasi prosedur tentang ………
  8. Siswa mendiskusikan untuk menentukan prosedur ……
  9. Siswa menyampaikan pada kelompok lain dan menanggapinya berkaitan prosedur ……..

MENGUMPULKAN DATA

  1. Guru meminta siswa untuk mencoba melakukan …………… sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  2. Siswa mencoba ……………. sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  3. Siswa mencoba ………. seperti contoh Guru sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  4. Siswa mencoba melakukan………. sesuai contoh guru sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis

PEMBUKTIAN

  1. Guru menugaskan siswa untuk menilai hasil ……….. menggunakan format penilaian.
  2. Siswa menilai hasil …….. menggunakan format penilaian.
  3. Siswa menilai hasil …….. menggunakan format penilaian.
  4. Guru menugaskan siswa untuk ……..
  5. Siswa mengirim tugas via e-mail.
  6. Siswa berkomunikasi tentang …….

SIMPULAN

  1. Guru menugaskan siswa untuk menyajikan cara-cara serta kesimpulan ………
  2. Siswa membuat bahan presentasi tentang ……… dalam bentuk PPT.
  3. Siswa menyajikan tentang ………..
  4. Siswa lain memberikan tanggapan terhadap presentasi.
  5. Siswa menerima tanggapan dari siswa lain dan guru.
  6. Siswa memperbaiki hasil presentasi dan membuat simpulan ……..

Demikian diskusi seputar discovery learning. Semoga menginspirasi rekan-rekan meningkatkan mutu perencanaan pembelajaran.

Membuat Soal HOTS

membuat soal hots

Membuat Soal HOTS

Membuat Soal HOTS tantangan bagi guru. Membuat Soal HOTS wajib dikuasai guru pada K2013. Bagaimana cara membuat soal HOTS? Nah … sabar-sabar dulu … untuk dapat mulai membuat soal hots, kita tentu harus terlebih dahulu memahami apa dan bagaimana soal hots itu. Tidak perlu berpanjang kata … mari kita lanjut dengan megenal lebih dekat apa itu HOTS sebelum membuat soal hots?

HOTS adalah akronim dari Higher Order Thinking Skills yang berarti keterampilan berfikir tingkatan tinggi. Berdasar pada taksonomi Bloom yang direvisi Anderson, dimensi proses berfikir yang terdiri dari C1 sampai dengan C6 dapat dibedakan dalam 2 (dua) keterampilan berpikir yaitu low order thinking skills (LOTS) dan higher order thinking skill (HOTS). Lebih jelas perolehan dimensi pengetahuan tersebut diilustrasikan pada tabel berikut:

membuat soal hots

Perkembangan kemampuan berpikir mengingat, memahami sampai dengan menerapkan cenderung bentuk pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan bentuk pengetahuan prosedural yang merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking skills / LOTS). Perkembangan kemampuan berpikir menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi cenderung pada pengetahuan metakognitif menghasilkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills / HOTS). Jadi soal hots adalah soal yang mendorong siswa menggunakan kemampuan penalaran menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi untuk bisa menjawabnya.

Membuat Soal HOTS yang mampu melatih siswa menggunakan kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi sudah barang tentu memerlukan berbagai bekal kemampuan pedagogik guru yang baik. Di samping itu juga perlu wawasan yang luas terkait berbagai kondisi nyata dan berkaitan dengan kompetensi yang dipelajari. Hal-hal ini dapat membantu untuk dikemas sebagai bahan kajian untuk membuat soal hots.

Bekal Guru Membuat Soal HOTS

Membuat Soal HOTS tanpa bekal pengetahuan yang memadai akan terasa sulit dan membingungkan. Ujung-ujungnya membuat pusing, menjadi bosan dan akhirnya ‘melarikan diri’ … membuat soal seadanya … kembali seperti dulu lagi.  Oleh karena itu, admin mengajak kepada rekan-rekan pendidik untuk tetap sabar dan istiqomah belajar meningkatkan wawasan pedagogik dan pengetahuan agar mudah membuat soal hots.

Membuat Soal HOTS perlu didahului dengan melakukan analisis kompetensi dasar. Mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan pedagogik sesuai bimtek K2013, ada tiga analisis yang terkait dan relefan untuk diterapkan yaitu Analisis SKL KI KD dan analisis Materi Pembelajaran dan Analisis Penilaian Hasil Belajar. Analisis SKL KI KD dapat anda pelajari di postingan Analisis SKL KI KD. Analisis Materi Pembelajaran dapat dipelajari pada postingan Analisis Materi Pembelajaran  dan Analisis Penilaian Hasil Belajar dapat dipelajari pada postingan Analisis Penilaian Hasil Belajar. Analisis-analisis tersebut sesungguhnya juga merupakan bagian langkah-langkah mengembangkan soal evaluasi baik soal kategori LOTS maupun soal berkategori HOTS. Karena itu penguatan kompetensi guru melakukan analisis (K2013) otomatis juga menguatkan kompetensi mengembangkan soal evaluasi termasuk soal hots.

Membuat Soal HOTS juga memerlukan pengetahuan kata kerja operasional untuk membantu mengarahkan penulisan soal. Daftar kata kerja operasional dapat dilihat pada postingan Kata Kerja Operasional atau pada postingan Kata Kerja Operasional GTK Kemdikbud.

Langkah Membuat Soal HOTS

Berdasarkan Panduan Penilaian SMK tahun 2018, penilaian hasil belajar siswa dilakukan oleh guru, sekolah dan pemerintah. Penilaian oleh guru merupakan penilaian proses pembelajaran (assessment for learning), penilaian capaian pembelajaran (assessment of learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning). Mekanismenya meliputi penetapan lingkup penilaian, perencanaan penilaian, pelaksanaan penilaian dan pemanfaatan hasil penilaian untuk pengambilan keputusan berkaitan dengan peserta didik, perbaikan proses pembelajaran, membuat pelaporan, dan kegunaan lain yang sesuai. Pengembangan instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Penyusunan kisi-kisi.
  2. Penyusunan soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan soal
  3. Penyusunan pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan
  4. Analisis butir soal secara kualitatif (telaah soal) dan/atau kuantitatif sebelum soal diujikan

Membuat Soal HOTS sesungguhnya adalah bagian dari persiapan pelaksanaan tes tertulis dan seharusnya juga mengindahkan langkah-langkah mengembangkan instrumen tes tertulis di atas.

Kisi-kisi Membuat Soal HOTS

Membuat Soal HOTS seharusnya diawali dengan membuat kisi-kisi. Merujuk pada Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK yang diterbitkan Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan suatu kisi-kisi harus memenuhi syarat:

  • Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan.
  • Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
  • Indikator soal harus jelas dan dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

Komponen kisi-kisi terbagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok identitas dan kelompok matriks. Komponen identitas meliputi jenis/jenjang sekolah, program studi/jurusan, mata pelajaran, tahun ajaran, kurikulum yang diacu, alokasi waktu, jumlah soal, dan bentuk soal diletakkan di atas komponen matriks. Komponen matriks (tabel) meliputi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal. Ilustrasi di bawah ini memberi contoh format kisi-kisi membuat soal hots.

format kisi-kisi membuat soal hots
format kisi-kisi membuat soal hots
Pengisian Format Kisi-kisi Membuat Soal HOTS

Membuat kisi-kisi untuk membuat Soal HOTS merupakan langkah penting yang harus dilakukan. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam buku Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK yang dikeluarkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Pengisian format kisi-kisi seperti pada gambar di atas sesungguhnya sama atau mirip dengan Analisis penilaian hasil pembelajaran pada Bimtek K2013. Oleh karena itu langkah tersebut dapat dioptimalkan untuk menyusun soal hots.

  • Kompetensi Dasar dapat dicopy dari daftar KD.
  • Materi dapat dicopy dari materi pembelajaran hasil Analisis Materi Pembelajaran
  • Kelas dan semester sesuai kelas dan semester yang akan diukur
  • Indikator soal dapat dibuat dengan berdasar pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK hasil analisis materi pembelajaran. Inilah alasannya mengapa pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi menjadi komponen perencanaan yang krusial.
  • Level kognitif diisi Level 1, Level 2 atau Level 3 (lihat … )
  • Bentuk soal diisi pilihan ganda, isian atau uraian

Contoh kisi-kisi membuat soal hots yang sudah terisi dapat dilihat pada gambar di bawah:

isian kisi-kisi membuat soal hots
isian kisi-kisi membuat soal hots
Langkah Akhir Membuat Soal HOTS

Langkah akhir Membuat Soal HOTS selanjutnya adalah (1) Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual (2) Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal (3) Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban.

Memilih stimulus

Stimulus untuk membuat soal HOTS sebaiknya menarik dan kontekstual. Stimulus baru biasanya menarik karena itu disarankan untuk selalu memperbaharui stimulus. Sifat kontekstual berarti sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca. Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat. Stimulus dapat berupa teks, gambar, grafik, tabel, dan lain sebagainya yang berisi informasi-informasi dari kehidupan nyata. Berdasar informasi yang tersurat dan tersirat pada stimulus siswa diharapkan dapat:

  • mentransfer informasi tersebut dari satu konteks ke konteks lainnya
  • memproses dan menerapkan informasi
  • melihat keterkaitan antara informasi yang berbeda-beda
  • menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
  • secara kritis mengkaji/menelaah ide atau gagasan dan informasi

Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan  butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.

Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Demikian dulu diskusi singkat Membuat Soal HOTS. Informasi tentang membuat soal hots ini tentunya belum optimal, namun setidaknya dapat menjadi informasi awal yang dapat dikembangkan. Bagaimana sharing rekan-rekan …?

Sumber :

  1. Panduan Penilaian Hasil Belajar pada Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2018
  2. Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK Tahun 2017, Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan
  3. Modul Penyusunan Soal HOTS, Direktorat Pembinaan SMA