Discovery Learning

discovery learning

Discovery Learning salah satu model pembelajaran K2013. Discovery Learning mudah diterapkan. Bagaimana menyusun langkah pembelajaran discovery learning ini? Mari kita diskusikan …

discovery learning
discovery learning

Discovery Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang menyekenariokan proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait topik (kompetensi dasar – KD) yang sedang dipelajari. Jadi, dalam discovery learning ada kata kunci yang bisa dicatat yaitu

  • siswa
  • pertanyaan-pertanyaan
  • skenario belajar
  • menemukan jawaban

Dalam model pembelajaran ini siswa adalah subyek utama yang melakukan proses belajar. Siswalah yang (seharusnya) menggali pertanyaan-pertanyaan terkait kompetensi dasar dan harus dikumpulkan untuk mendukung akuisisi kompetensi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan atau hal-hal yang (harus) dipertanyakan pada dasarnya adalah segala sesuatu terkait kompetensi dasar meliputi pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural dan bahkan pengetahuan metakognitif. Siswa ada yang sudah tahu hal apa yang harus dipertanyakan namun umumnya siswa belum tahu hal apa saja yang perlu dipertanyakan itu. Ini wajar saja, karena mereka baru ketemu dengan topik tersebut. Dalam konteks ini Guru lah yang harus berperan memberi PANDUAN dan ARAHAN.

Sebagai pembimbing dan fasilitator GURU seharusnya tahu apa yang para siswa harus pertanyakan. Dari sudut pandang Guru, hal-hal yang harus dipertanyakan siswa itu adalah apa yang tercantum dalam Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan Tujuan Pembelajaran. Di sinilah pentingnya rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran dirancang dengan SISTEMATIS, LENGKAP dan RINCI oleh guru. Berbekal rumusan IPK dan Tujuan Pembelajaran guru dapat menyusun panduan bagi siswa mempertanyakan hal-hal yang perlu dipahami. Panduan ini dapat berupa lembar kerja diskusi yang dibagikan kepada semua siswa.

Skenario dalam Discovery Learning menyangkut kegiatan-kegiatan yang diatur sedemikian rupa sehingga siswa mampu membangun pengetahuan-pengetahuan secara kronologis dari yang mudah menuju yang sulit seperti urutan Indikator Pencapaian Kompetensi yang tidak meninggalkan struktur keilmuannya. Siswa secara bersama membangun pengetahuan-pengetahuan selangkah-demi selangkah di dalam memorinya. Setelah melakukan penalaran siswa akan mampu menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan sesuai kompetensi dasar seperti diuraikan di depan. Siswa akan memiliki pengalaman dalam dirinya bahwa dia menemukan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri tanpa dijejali ceramah oleh guru. Inilah esensi discovery learning itu.

Sintak Discovery Learning

Model pembelajaran penemuan ini dilaksanakan mengikuti urutan proses (sintak) sebagai berikut:

  • Pemberian rangsangan (Stimulation)
langkah 1
langkah 1 discovery learning

Tahapan ke 1 model pembelajaran Discovery Learning ialah pemberian rangsangan (stimulation). Guru mengajak siswa memfokuskan perhatian pada berbagai jenis fakta yang relefan dengan konteks KD yang dipelajari. Inilah sebabnya guru harus memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Fakta-fakta ini ditunjukkan melalui tayangan gambar, video, animasi, model atau bahkan benda nyatanya. Guru meminta siswa mengamati fakta-fakta ini. Melalui langkah ini perhatian siswa terfokus tepat pada hal-hal terkait KD yang akan dipelajari.

  • Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement)
langkah 2
langkah 2 discovery learning

Tahapan ke 2 pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement). Agar siswa kompeten pada KD yang dipelajari tersebut hal apa saja yang harus dipahami siswa.  Masalah (bagi siswa) dalam mempelajari KD tersebut sesungguhnya ya semua konten tersebut. Minta mereka membuat pertanyaan terkait KD. Pancing mereka agar bisa mengeksplore apa yang seharusnya dipelajari secara kronologis dan bertahap. Dari sudut pandang guru, aspek-aspek permasalahan (yang harus dipelajari siswa itu) sesungguhnya sudah ditulis pada indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran.

  • Pengumpulan data (Data Collection)
discovery learning 3
discovery learning 3

Tahapan ke 3 Pengumpulan data (Data Collection). Untuk menjawab berbagai permasalahan yang sudah diidentifikasi, siswa dipersilahkan mengumpulkan data. Berbagai cara / metode dapat dilakukan seperti membaca buku lebih intens, membuat percobaan, melakukan praktikum, melakukan studi lapangan. Pada tahap ini siswa memiliki berbagai informasi lebih detail terkait permasalahan dalam mengakuisisi KD yang dipelajari.

  • Pembuktian (Data processing dan Verification)
discovery learning 4
discovery learning 4

Tahapan yang ke 4 Discovery Learning ialah Pembuktian (Data Processing and Verification). Setelah pengumpulan data oleh siswa yang di dampingi guru, siswa pasti telah memiliki materi untuk di aplikasikan terhadap masalah yang telah sedang dipelajari.  Agar Discovery Learning dapat berjalan lancar, maka harus ada pengolahan data tersebut untuk pembuktian terhadap Jawaban dari masalah yang dipelajari. Salah satu contoh dalam pembelajaran eksakta, kita bisa memakai berbagai rumus ataupun hukum serta teori dari suatu materi. Pada pembelajaran non eksakta, guru harus menyediakan pendapat-pendapat ataupun hasil penelitian dari ahli agar bisa dijadikan acuan untuk dasar pembentukan konsep dasar yang ada di pemikiran siswa. Pembuktian yang di lakukan oleh guru dapat membuat pemikiran siswa tentang konsep dasar materi menjadi lebih matang sehingga siswa memiliki pengetahuan dasar tentang KD yang sedang dipelajari.

  • Menarik simpulan/generalisasi (Generalization)
discovery learning 5

Tahapan ke 5 dari Discovery Learning adalah Menarik Simpulan/Generalisasi (Conclusion/Generalization). Pada tahapan ini guru berperan penting sebagai pengarah agar konsep dasar siswa tadi menuju ke arah yang sama yaitu mencapai Indeks Pencapaian Kompetensi. Guru harus bisa meyakinkan dan menjawab semua keraguan dari siswa. Generalisasi ini penting dalam discovery learning, karena pada tahapan ini seharusnya siswa sudah bisa mengerti mengenai KD yang dipelajari. Pada saat generalisasi ini dilakukan maka seharusnya Indeks Pencapaian Kompetensi telah terpenuhi atau setidaknya dapat dilanjutkan dengan metode pembelajaran lain.

Tujuan penerapan model  pembelajaran

Discovery Learning disarankan digunakan dalam proses pembelajaran K2013. Berdasarkan Pedoman Pembelajaran SMK tahun 2017, discovery learning memiliki tujuan:

  • Meningkatkan kesempatan peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran;
  • Peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak;
  • Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan;
  • Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi serta mendengarkan dan menggunakan ide-ide orang lain;
  • Meningkatkan keterampilan konsep dan prinsip peserta didik yang lebih bermakna;
  • Dapat mentransfer keterampilan yang dibentuk dalam situasi belajar penemuan ke dalam aktivitas situasi belajar yang baru.

Merancang Langkah Pembelajaran

Model pembelajaran Discovery Learning dapat berjalan dengan lancar apabila langkah-langkah pembelajaran direncanakan dengan baik. Untuk memudahkan merancang langkah pembelajaran, penulis membuat sketsa proses sebagai berikut:

discovery learning
discovery learning

Berdasarkan ilustrasi Konsep Merancang Langkah Pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sisi kiri gambar menunjukkan fase-fase sintak dimulai dari pemberian rangsangan (stimulasi) sampai dengan fase menarik kesimpulan (generalisasi). Dibagian tengah dengan notasi D1-D5 penulis gambarkan konten materi atau proses yang harus dilakuka. Sisi sebelah kanan dengan notasi R1 s.d. R5 merupakan hasil rancangan berupa langkah-langkah yang perlu dikembangkan.

Tahap memberi rangsangan merupakan kegiatan guru dengan memperlihatkan fakta-fakta yang sudah diidentifikasi pada kegiatan analisis materi pembelajaran.

Tahap identifikasi masalah sasarannya adalah berbagai pengetahuan konseptual yang sudah disusun dengan lengkap pada tujuan pembelajaran. Rekan-rekan dapat mengarahkan identifikasi masalah yang dilakukan siswa mengarah pada berbagai pengetahuan yang tercantum dalam tujuan pembelajaran.

Tahap pengumpulan data sasarannya adalah data-data pengetahuan konseptual yang sudah dinyatakan dalam tujuan pembelajaran.

Langkah pembelajaran pada tahap pembuktian merupakan langkah membandingkan / menganalisis kesesuaian analisis data konseptual dengan hasil identifikasi masalah dan literatur.

Contoh Langkah Pembelajaran Discovery Learning

Untuk memudahkan penyusunan langkah pembelajaran dengan discovery learning dapat digunakan template dasar seperti diuraikan di bawah. Perlu dipahami bahwa template dasar ini tidak mutlak harus persis seperti yang ada. Template dasar ini hanya untuk memudahkan imaginasi guru agar dapat menuangkan rencana proses pembelajaran dengan discovery learning.

STIMULASI

  1. Guru meminta siswa untuk melihat tayangan berbagai jenis …..
  2. Siswa melihat bahan tayang yang disajikan oleh Guru.
  3. Guru menugaskan siswa membaca buku untuk mengidentifikasi berbagai jenis ….
  4. Siswa membaca buku berkaitan dengan berbagai jenis …..
  5. Siswa berdiskusi tentang berbagai jenis …..
  6. Siswa mengidentifikasi …………. dari hasil diskusi dan buku.
  7. Siswa menentukan …..

IDENTIFIKASI MASALAH

  1. Guru menugaskan siswa untuk menentukan masalah utama apa dalam …..
  2. Siswa mengidentifikasi masalah-masalah melalui contoh yang didemonstrasikan oleh guru mengenai …..
  3. Siswa membaca buku untuk mendapatkan informasi tentang …..
  4. Siswa mendiskusikan …..
  5. Berdasarkan hasil membaca buku dan diskusi siswa merumuskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam …..
  6. Guru meminta siswa untuk menentukan prosedur ……… melalui buku siswa dan hasil diskusi
  7. Siswa menggali informasi prosedur tentang ………
  8. Siswa mendiskusikan untuk menentukan prosedur ……
  9. Siswa menyampaikan pada kelompok lain dan menanggapinya berkaitan prosedur ……..

MENGUMPULKAN DATA

  1. Guru meminta siswa untuk mencoba melakukan …………… sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  2. Siswa mencoba ……………. sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  3. Siswa mencoba ………. seperti contoh Guru sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis
  4. Siswa mencoba melakukan………. sesuai contoh guru sebagai pembuktian rumusan masalah/hipotesis

PEMBUKTIAN

  1. Guru menugaskan siswa untuk menilai hasil ……….. menggunakan format penilaian.
  2. Siswa menilai hasil …….. menggunakan format penilaian.
  3. Siswa menilai hasil …….. menggunakan format penilaian.
  4. Guru menugaskan siswa untuk ……..
  5. Siswa mengirim tugas via e-mail.
  6. Siswa berkomunikasi tentang …….

SIMPULAN

  1. Guru menugaskan siswa untuk menyajikan cara-cara serta kesimpulan ………
  2. Siswa membuat bahan presentasi tentang ……… dalam bentuk PPT.
  3. Siswa menyajikan tentang ………..
  4. Siswa lain memberikan tanggapan terhadap presentasi.
  5. Siswa menerima tanggapan dari siswa lain dan guru.
  6. Siswa memperbaiki hasil presentasi dan membuat simpulan ……..

Demikian diskusi seputar discovery learning. Semoga menginspirasi rekan-rekan meningkatkan mutu perencanaan pembelajaran.

Membuat Soal HOTS

membuat soal hots

Membuat Soal HOTS

Membuat Soal HOTS tantangan bagi guru. Membuat Soal HOTS wajib dikuasai guru pada K2013. Bagaimana cara membuat soal HOTS? Nah … sabar-sabar dulu … untuk dapat mulai membuat soal hots, kita tentu harus terlebih dahulu memahami apa dan bagaimana soal hots itu. Tidak perlu berpanjang kata … mari kita lanjut dengan megenal lebih dekat apa itu HOTS ?

HOTS adalah akronim dari Higher Order Thinking Skills yang berarti keterampilan berfikir tingkatan tinggi. Berdasar pada taksonomi Bloom yang direvisi Anderson, dimensi proses berfikir yang terdiri dari C1 sampai dengan C6 dapat dibedakan dalam 2 (dua) keterampilan berpikir yaitu low order thinking skills (LOTS) dan higher order thinking skill (HOTS). Lebih jelas perolehan dimensi pengetahuan tersebut diilustrasikan pada tabel berikut:

membuat soal hots

Perkembangan kemampuan berpikir mengingat, memahami sampai dengan menerapkan cenderung bentuk pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan bentuk pengetahuan prosedural yang merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking skills / LOTS). Perkembangan kemampuan berpikir menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi cenderung pada pengetahuan metakognitif menghasilkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills / HOTS). Jadi soal hots adalah soal yang mendorong siswa menggunakan kemampuan penalaran menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi untuk bisa menjawabnya.

Membuat Soal HOTS yang mampu melatih siswa menggunakan kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mengreasi sudah barang tentu memerlukan berbagai bekal kemampuan pedagogik guru yang baik. Di samping itu juga perlu wawasan yang luas terkait berbagai kondisi nyata dan berkaitan dengan kompetensi yang dipelajari. Hal-hal ini dapat membantu untuk dikemas sebagai bahan kajian untuk membuat soal.

Bekal Guru Membuat Soal

Membuat Soal HOTS tanpa bekal pengetahuan yang memadai akan terasa sulit dan membingungkan. Ujung-ujungnya membuat pusing, menjadi bosan dan akhirnya ‘melarikan diri’ … membuat soal seadanya … kembali seperti dulu lagi.  Oleh karena itu, admin mengajak kepada rekan-rekan pendidik untuk tetap sabar dan istiqomah belajar meningkatkan wawasan pedagogik dan pengetahuan agar dimudahkan tugas-tugasnya.

Membuat Soal HOTS perlu didahului dengan melakukan analisis kompetensi dasar. Mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan pedagogik sesuai bimtek K2013, ada tiga analisis yang terkait dan relefan untuk diterapkan yaitu Analisis SKL KI KD dan analisis Materi Pembelajaran dan Analisis Penilaian Hasil Belajar. Analisis SKL KI KD dapat anda pelajari di postingan Analisis SKL KI KD. Analisis Materi Pembelajaran dapat dipelajari pada postingan Analisis Materi Pembelajaran  dan Analisis Penilaian Hasil Belajar dapat dipelajari pada postingan Analisis Penilaian Hasil Belajar. Analisis-analisis tersebut sesungguhnya juga merupakan bagian langkah-langkah mengembangkan soal evaluasi baik soal kategori LOTS maupun soal berkategori HOTS. Karena itu penguatan kompetensi guru melakukan analisis (K2013) otomatis juga menguatkan kompetensi mengembangkan soal evaluasi termasuk soal hots.

Membuat Soal HOTS juga memerlukan pengetahuan kata kerja operasional untuk membantu mengarahkan penulisan soal. Daftar kata kerja operasional dapat dilihat pada postingan Kata Kerja Operasional atau pada postingan Kata Kerja Operasional GTK Kemdikbud.

Langkah Membuat Soal HOTS

Berdasarkan Panduan Penilaian SMK tahun 2018, penilaian hasil belajar siswa dilakukan oleh guru, sekolah dan pemerintah. Penilaian oleh guru merupakan penilaian proses pembelajaran (assessment for learning), penilaian capaian pembelajaran (assessment of learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning). Mekanismenya meliputi penetapan lingkup penilaian, perencanaan penilaian, pelaksanaan penilaian dan pemanfaatan hasil penilaian untuk pengambilan keputusan berkaitan dengan peserta didik, perbaikan proses pembelajaran, membuat pelaporan, dan kegunaan lain yang sesuai. Pengembangan instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Penyusunan kisi-kisi.
  2. Penyusunan soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan soal
  3. Penyusunan pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan
  4. Analisis butir soal secara kualitatif (telaah soal) dan/atau kuantitatif sebelum soal diujikan

Membuat Soal  sesungguhnya adalah bagian dari persiapan pelaksanaan tes tertulis dan seharusnya juga mengindahkan langkah-langkah mengembangkan instrumen tes tertulis di atas.

Kisi-kisi Membuat Soal HOTS

Membuat Soal HOTS seharusnya diawali dengan membuat kisi-kisi. Merujuk pada Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK yang diterbitkan Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan suatu kisi-kisi harus memenuhi syarat:

  • Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan.
  • Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
  • Indikator soal harus jelas dan dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

Komponen kisi-kisi terbagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok identitas dan kelompok matriks. Komponen identitas meliputi jenis/jenjang sekolah, program studi/jurusan, mata pelajaran, tahun ajaran, kurikulum yang diacu, alokasi waktu, jumlah soal, dan bentuk soal diletakkan di atas komponen matriks. Komponen matriks (tabel) meliputi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal. Ilustrasi di bawah ini memberi contoh format kisi-kisi .

format kisi-kisi membuat soal hots
format kisi-kisi membuat soal hots

Pengisian Format Kisi-kisi Membuat Soal HOTS

Membuat kisi-kisi untuk membuat Soal HOTS merupakan langkah penting yang harus dilakukan. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam buku Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK yang dikeluarkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Pengisian format kisi-kisi seperti pada gambar di atas sesungguhnya sama atau mirip dengan Analisis penilaian hasil pembelajaran pada Bimtek K2013. Oleh karena itu langkah tersebut dapat dioptimalkan untuk menyusun soal hots.

  • Kompetensi Dasar dapat dicopy dari daftar KD.
  • Materi dapat dicopy dari materi pembelajaran hasil Analisis Materi Pembelajaran
  • Kelas dan semester sesuai kelas dan semester yang akan diukur
  • Indikator soal dapat dibuat dengan berdasar pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK hasil analisis materi pembelajaran. Inilah alasannya mengapa pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi menjadi komponen perencanaan yang krusial.
  • Level kognitif diisi Level 1, Level 2 atau Level 3 (lihat … )
  • Bentuk soal diisi pilihan ganda, isian atau uraian

Contoh kisi-kisi membuat soal hots yang sudah terisi dapat dilihat pada gambar di bawah:

isian kisi-kisi membuat soal hots
isian kisi-kisi membuat soal hots

Langkah Akhir Membuat Soal HOTS

Langkah akhir Membuat Soal HOTS selanjutnya adalah (1) Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual (2) Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal (3) Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban.

Memilih stimulus

Stimulus untuk soal HOTS sebaiknya menarik dan kontekstual. Stimulus baru biasanya menarik karena itu disarankan untuk selalu memperbaharui stimulus. Sifat kontekstual berarti sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca. Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat. Stimulus dapat berupa teks, gambar, grafik, tabel, dan lain sebagainya yang berisi informasi-informasi dari kehidupan nyata. Berdasar informasi yang tersurat dan tersirat pada stimulus siswa diharapkan dapat:

  • mentransfer informasi tersebut dari satu konteks ke konteks lainnya
  • memproses dan menerapkan informasi
  • melihat keterkaitan antara informasi yang berbeda-beda
  • menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
  • secara kritis mengkaji/menelaah ide atau gagasan dan informasi

Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan  butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.

Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Demikian dulu diskusi singkat Membuat Soal HOTS. Informasi tentang hal ini tentunya belum optimal, namun setidaknya dapat menjadi informasi awal yang dapat dikembangkan. Bagaimana sharing rekan-rekan …?

Sumber :

  1. Panduan Penilaian Hasil Belajar pada Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2018
  2. Panduan Penulisan Soal SMA/MA/SMK Tahun 2017, Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan
  3. Modul Penyusunan Soal HOTS, Direktorat Pembinaan SMA

Standar Proses & Peran Guru Kepala Sekolah dan Pengawas

Standar Proses & Peran Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas

Standar proses wajib dilaksanakan sekolah. Standar proses salah satu ‘soko guru’ mutu pendidikan. Standar proses menuntut peran guru, kepala sekolah, pengawas sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap keterlaksanaan standar proses di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Guru adalah pihak yang mengimplementasikan komponen standar proses tersebut. Walaupun demikian, berdasarkan pengamatan di lapangan banyak pihak ‘tampak’ belum begitu memahami apa dan bagaimana pelaksanaan standar proses di sekolah. Mari kita diskusikan standar proses dan implementasinya dalam keseharian di sekolah kita.

Pengertian dan dasar hukum Standar Proses

Standar Proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan (Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal 1). Kriteria menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kriteria memiliki makna “ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu”. Jadi dapat kita pahami bahwa Standar Proses adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan.

Indikator Mutu Pelaksanaan Standar Proses

Standar Proses dilaksanakan oleh satuan pendidikan atau sekolah dalam berbagai bentuk kegiatan. Kegiatan-kegiatan berupa komponen kegiatan yang tersurat maupun tersirat dalam peraturan menteri.

standar-proses
standar-proses

Ukuran keterlaksanaan standar proses telah dirinci dalam indikator dan sub indikator mutu dalam penjaminan mutu pendidikan. Berikut adalah indikator dan sub indikator keterlaksanaan standar proses menurut Indikator Mutu Pendidikan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017, :

  1. Sekolah merencanakan proses pembelajaran sesuai ketentuan
  2. Perencanaan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  3. Perencanaan pembelajaran mengarah pada pencapaian kompetensi
  4. Pendidik menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  5. RPP mendapatkan evaluasi dari kepala sekolah dan pengawas sekolah
  6. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan tepat
  7. Membentuk rombongan belajar dengan jumlah siswa sesuai ketentuan
  8. Mengelola kelas sebelum memulai pembelajaran
  9. Pembelajaran Mendorong Siswa Mencari Tahu
  10. Pembelajaran menuju penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
  11. Pembelajaran Berbasis Kompetensi
  12. Pembelajaran Terpadu
  13. Pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi
  14. Pembelajaran menuju keterampilan aplikatif
  15. Pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat
  16. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  17. Mengakui atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
  18. Menerapkan metode pembelajaran sesuai karakteristik siswa
  19. Memanfaatkan media pembelajaran dalam meningkatkan efisiensi dan efektivi- tas pembelajaran
  20. Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber Belajar
  21. Mengelola kelas saat menutup pembelajaran
  22. Pengawasan dan penilaian otentik dilakukan dalam proses pembelajaran
  23. Melakukan penilaian otentik secara komprehensif
  24. Memanfaatkan hasil penilaian otentik
  25. Melakukan pemantauan proses pembelajaran
  26. Melakukan supervisi proses pembelajaran kepada guru
  27. Mengevaluasi proses pembelajaran
  28. Menindaklanjuti hasil pengawasan proses pembelajaran

Peran Guru dalam pelaksanaan Standar Proses

Standar proses diterapkan di satuan pendidikan dalam berbagai bentuk kegiatan yang terangkai menjadi suatu proses panjang menghasilkan mutu lulusan. Guru dan kepala sekolah memegang peran dalam rangka implementasi esensi standar proses. Kepala sekolah melalui fungsi manajerialnya melakukan pengelolaan implementasi standar proses sedangkan guru sebagai pendidik bertugas dan bertanggungjawab melaksanakan berbagai komponen standar proses dimana proses dan hasilnya seharusnya nampak dalam indikator-indikator mutu.

Peran-peran guru melaksanakan standar proses sebagai berikut :

  1. Guru merencanakan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  2. Guru merencanakan pembelajaran mengarah pada pencapaian kompetensi
  3. Guru menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  4. Guru mengelola kelas sebelum memulai pembelajaran
  5. Guru mendorong Siswa Mencari Tahu
  6. Guru menggunaan pendekatan ilmiah
  7. Guru melaksanakan pembelajaran Berbasis Kompetensi
  8. Guru melaksanakan pembelajaran Terpadu
  9. Guru melaksanakan pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi
  10. Guru melaksanakan pembelajaran yang menuju keterampilan aplikatif
  11. Guru membemberdayakan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat
  12. Guru melaksanakan pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  13. Guru mengakui perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
  14. Guru menerapkan metode pembelajaran sesuai karakteristik siswa
  15. Guru memanfaatkan media pembelajaran dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
  16. Guru menerapkan pembelajaran Berbasis Aneka Sumber Belajar
  17. Guru mengelola kelas saat menutup pembelajaran
  18. Guru melakukan penilaian otentik secara komprehensif
  19. Guru memanfaatkan hasil penilaian otentik
  20. Guru melakukan evaluasi diri atas proses pembelajaran yang dilakukan
Peran Kepala Sekolah dalam pelaksanaan Standar Proses

Standar proses yang komponen-komponennya dilaksanakan atau diperankan oleh guru tentu tidak terlepas dari peran-peran kepala sekolah dalam mengelola sekolah. Selain mengelola implementasi standar proses, kepala sekolah dituntut memiliki pengetahuan tentang bagaimana komponen standar proses seharusnya dilaksanakan.

Peran-peran kepala sekolah mengelola dan memfasilitasi pelaksanaan standar proses antara lain :

  1. Kepala Sekolah memimpin dan memfasilitasi kegiatan perencanaan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  2. Kepala Sekolah memimpin dan memfasilitasi kegiatan perencanaan pembelajaran yang mengarah pada pencapaian kompetensi
  3. Kepala Sekolah memastikan Pendidik menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  4. Kepala Sekolah mengevaluasi RPP yang disusun guru
  5. Kepala Sekolah melakukan pemantauan proses pembelajaran
  6. Kepala Sekolah melakukan supervisi proses pembelajaran kepada guru
  7. Kepala Sekolah mengevaluasi proses pembelajaran
  8. Kepala Sekolah menindaklanjuti hasil pengawasan proses pembelajaran
Peran Pengawas Mendampingi Sekolah Memenuhi Standar Proses

Pengawas sekolah juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam konteks mendampingi sekolah mencapai standar proses yang optimal. Agar sekolah binaan dapat mencapai pelaksanaan standar proses yang optimal tersebut, pengawas sekolah dapat berperan baik melalui fungsi supervisi akademik maupun supervisi manajerial.

Demikian diskusi kita tentang Standar Proses dan Peran Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Semoga bermanfaat.

 

Rujukan :

Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

Indikator Mutu dalam Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

standar kompetensi lulusan skl smk 2018

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK adalah bagian SNP SMK/MAK 2018. Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK itu kriteria kemampuan lulusan SMK. Pahami Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMK/MAK agar kita tahu pasti apa peran kita untuk mewujudkannya.

Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK adalah kriteria minimal tentang kompetensi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sesuai kebutuhan pengguna lulusan. Pengertian ini selaras dengan posisi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMK/MAK sebagai bagian dari SNP SMK/MAK dan pengertian umum Standar Nasional Pendidikan SNP SMK/MAK sesuai Permendikbud No. 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan.

area kompetensi standar kompetensi lulusan smk-mak 2018
area kompetensi standar kompetensi lulusan smk-mak 2018

Mengenali Formulasi Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018 dirumuskan sedikit berbeda dengan Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK sebelumnya. Rumusan Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018 dirinci ke dalam 9 (sembilan) area kompetensi meliputi :

  1. keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. kebangsaan dan cinta tanah air;
  3. karakter pribadi dan sosial;
  4. literasi;
  5. kesehatan jasmani dan rohani;
  6. kreativitas;
  7. estetika;
  8. kemampuan teknis; dan
  9. kewirausahaan.

Masing-masing area kompetensi kemudian dijabarkan ke dalam kompetensi-kompetensi lulusan SMK/MAK yang dicita-citakan.

Rumusan Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

 

No.Area KompetensiStandar Kompetensi Lulusan 3 (tiga) Tahun
A.1.Keimanan    dan Ketakwaan kepada    Tuhan Yang Maha Esa

A.1.1 memiliki     pemahaman,     penghayatan,     dan kesadaran  dalam  mengamalkan  ajaran  agama yang dianut

A.1.2 memiliki     pemahaman,     penghayatan,     dan kesadaran dalam        berperilaku        yang menggambarkan akhlak mulia

A.1.3 memiliki     pemahaman,     penghayatan,     dan kesadaran dalam hidup berdasarkan nilai kasih dan sayang

A.2.Kebangsaan dan Cinta Tanah Air

A.2.1 meyakini    Pancasila    sebagai    dasar    Negara Kesatuan Republik Indonesia

A.2.2 memiliki  kesadaran  sejarah,  rasa  cinta,  rasa bangga, dan semangat berkorban untuk tanah air, bangsa, dan negara

A.2.3 menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang demokratis dan warga masyarakat global

A.2.4 bekerjasama dalam keberagaman suku, agama, ras, antargolongan, jender, dan bahasa dengan menjunjung hak asasi dan martabat manusia

A.2.5 memiliki     pemahaman,     penghayatan,     dan kesadaran untuk  patuh  terhadap  hukum dan norma sosial

A.2.6 memiliki      kebiasaan,      pemahaman,      dan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan lingkungan alam, kepedulian sosial dalam konteks pembangunan berkelanjutan

 

No.Area KompetensiStandar Kompetensi Lulusan – 3 (tiga) Tahun
A.3.Karakter Pribadi dan Sosial

A.3.1 memiliki      kebiasaan,      pemahaman,      dan kesadaran untuk bersikap dan berperilaku jujur

A.3.2 memiliki  kemandirian    dan  bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas pekerjaannya

A.3.3 memiliki kemampuan berinteraksi dan bekerja dalam kelompok  secara  santun,  efektif,  dan produktif dalam     melaksanakan     tugas pekerjaannya

A.3.4 memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan kerja secara efektif

A.3.5 memiliki rasa ingin tahu untuk mengembangkan keahliannya secara berkelanjutan

A.3.6 memiliki     etos     kerja     yang     baik    dalam menjalankan tugas keahliannya

A.4.Kesehatan Jasmani dan Rohani

A.4.1 memiliki       pemahaman       dan       kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat untuk diri dan lingkungan kerja

A.4.2 memiliki kebugaran dan ketahanan jasmani dan rohani dalam menjalankan tugas keahliannya

A.4.3 menyadari  potensi dirinya,  tangguh  mengatasi tekanan pekerjaan, dapat bekerja produktif, dan bermanfaat bagi lingkungan kerja

A.5.LiterasiA.5.1 memiliki  kemampuan  berkomunikasi  denganmenggunakan   Bahasa   Indonesia   yang   baik untuk melaksanakan pekerjaan sesuai keahliannya

A.5.2 memiliki   kemampuan   menggunakan   Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya untuk menunjang pelaksanaaan      tugas      sesuai keahliannya

 

No.

Area Kompetensi

Standar Kompetensi Lulusan – 3 (tiga) Tahun

A.5.3 memiliki     pemahaman     matematika     dalam melaksanakan tugas sesuai keahliannya

A.5.4 memiliki pemahaman konsep dan prinsip sains dalam melaksanakan tugas sesuai keahliannya

A.5.5 memiliki   pemahaman   konsep   dan   prinsip pengetahuan sosial dalam melaksanakan tugas sesuai keahliannya

A.5.6 memiliki  kemampuan  menggunakan  teknologi dalam melaksanakan tugas sesuai keahliannya

A.5.7 memiliki   kemampuan   mengekspresikan   dan mencipta karya seni  budaya lokal dan nasional

A.6.Kreativitas

A.6.1 memiliki   kemampuan   untuk   mencari   dan menghasilkan gagasan, cara kerja, layanan, dan produk karya inovatif sesuai keahliannya

A.6.2 memiliki           kemampuan           bekerjasama menyelesaikan masalah dalam melaksanakan tugas sesuai keahliannya secara kreatif

A.7.EstetikaA.7.1 memiliki          kemampuan          mengapresiasi, mengkritisi, dan menerapkan aspek estetika dalam menciptakan layanan dan/atau produk sesuai keahliannya
A.8.Kemampuan Teknis

A.8.1 memiliki   kemampuan   dasar   dalam   bidang keahlian   tertentu  sesuai   dengan   kebutuhan dunia kerja

A.8.2 memiliki  kemampuan  spesifik  dalam  program keahlian tertentu  sesuai   dengan   kebutuhan dunia kerja dan menerapkan kemampuannya sesuai prosedur/kaidah dibawah pengawasan

A.8.3 memiliki    pengalaman    dalam    menerapkan keahlian  spesifik  yang  relevan  dengan  dunia kerja

A.8.4 memiliki    kemampuan    menjalankan    tugas keahliannya dengan menerapkan prinsip keselamatan, kesehatan, dan keamanan lingkungan

 

No.Area KompetensiStandar Kompetensi Lulusan – 3 (tiga) Tahun
A.9.Kewirausahaan

A.9.1 memiliki   kemampuan   mengidentifikasi   dan memanfaatkan peluang usaha dengan mendayagunakan  pengetahuan dan keterampilan dalam keahlian tertentu

A.9.2 memiliki  kemampuan  memperhitungkan  dan mengambil resiko dalam mengembangkan dan mengelola usaha

A.9.3 memiliki   keinginan   kuat   dan   kemampuan mengelola usaha    dengan   mendayagunakan pengetahuan dan keterampilan dalam keahlian tertentu

 

Fungsi Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

Standar kompetensi lulusan SMK/MAK merupakan acuan utama pengembangan standar isi, standar proses pembelajaran, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar biaya operasi.

Latar Belakang Pengembangan Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018

Pengembangan Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018 seperti diuraikan dalam dokumen standar tersebut adalah dalam rangka mewujudkan amanat Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengamanatkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan 1 (satu) sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Demikian sekilas Standar kompetensi lulusan (SKL) SMK/MAK 2018. Semoga bermanfaat buat kita.

 

Sumber:

Lampiran 1 Permendikbud No. 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan

Kata Kerja Operasional KKO

kata kerja operasional kko

Kata Kerja Operasional KKO

Kata Kerja Operasional KKO ialah kata yang menyatakan aktivitas. Kata Kerja Operasional KKO bagian teori taksonomi dalam pendidikan. Kata Kerja Operasional KKO digunakan untuk menyatakan dimensi proses pembelajaran dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran.

kata kerja operasional kko
kata kerja operasional kko

Kata Kerja Operasional KKO pada K2013 menggunakan Kata Kerja Operasional KKO Bloom-Anderson, Kata Kerja Operasional KKO Krathwohl, Kata Kerja Operasional KKO Simpson, Kata Kerja Operasional KKO Dave dan Kata Kerja Operasional KKO Dyers.

kata kerja operasional kko gtk kemdikbud 2019
kata kerja operasional kko gtk kemdikbud 2019

Kata Kerja Operasional KKO ini diperlukan untuk memahami kompetensi dasar, melakukan analisis dan pengembangan indikator pencapaian kompetensi, analisis dan pengembangan tujuan pembelajaran, analisis dan pengembangan kisi soal evaluasi. Dengan menggunakan kata kerja operasional, kemajuan proses pembelajaran sikap, pengetahuan dan keterampilan menjadi mudah diukur dan dievaluasi kemajuannya. Oleh karena itu, Kata Kerja Operasional KKO menjadi salah satu ‘alat utama’ pendidik dalam proses perencanaan pembelajaran.

Kata kerja operasional KKO KD Sikap Sosial Sptritual berdasar Taksonomi Bloom olahan Krathwohl

Kata Kerja Operasional KKO menjadi salah satu perlengkapan utama pendidik sejak pemberlakuan Kurikulum 2013 yang diterapkan untuk mengkaji kompetensi dasar, membuat indikator pencapaian kompetensi maupun tujuan pembelajaran. Pada Kurikulum 2013 kita memerlukan Kata Kerja Operasional KKO pengetahuan, Kata Kerja Operasional KKO keterampilan kongkret, Kata Kerja Operasional KKO keterampilan abstrak, Kata Kerja Operasional KKO sikap. Hal ini diperlukan pada saat melakukan analisis SKL KI KD dan analisis materi pembelajaran dalam rangka menyusun silabus dan RPP.
Kata Kerja Operasional KKO di atas mengikuti teori taksonomi yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 yaitu Teori Taksonomi Bloom olahan Anderson untuk pengetahuan, Teori Taksonomi Simpson dan Dave untuk keterampilan konkret dan Teori Taksonomi Dyers untuk keterampilan abstrak serta Teori Taksonomi olahan Kratwhol untuk aspek sikap.

Kata Kerja Operasional KKO KD Sikap Spiritual-Sosial Taksonomi Krathwohl

Kata Kerja Operasional KKO selalu digunakan pada perencanaan pembelajaran. Kata Kerja Operasional KKO pada Kurikulum 2013 ranah sikap menggunakan taksonomi Krathwohl. Penggunaan Kata Kerja Operasional KKO yang tepat dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran akan menjamin akurasi dan linieritas pembelajaran sikap spiritual maupun sikap sosial. Hal ini terutama diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

kata kerja operasional kko sikap
kata kerja operasional kko sikap

Deskripsi Dimensi Proses Acuan Kata Kerja Operasional KKO Sikap Spiritual-Sosial

Kata Kerja Operasional KKO yang akan kita gunakan untuk merepresentasikan aktifitas proses belajar sesungguhnya harus sesuai dan selaras dengan deskripsi dimensi prosesnya. Pengembangan sikap spiritual dan sikap sosial mengacu pada teori taksonomi Krathwohl.
Menurut teori taksonomi Krathwohl, yang dikutip dari modul Bimtek K2013 tentang Analisis SKL KI KD, kompetensi sikap peserta didik diperoleh melalui tahapan-tahapan (1) menerima (2) merespon (3) menghargai (4) mengorganisasikan (5) mengamalkan dengan isi deskripsi masing-masing tahapan adalah sebagai berikut:

Tingkatan Sikap Deskripsi
Menerima (accepting) nilai Kesediaan menerima suatu nilai dan memberikan perhatian terhadap nilai tersebut.
Menanggapi (responding) nilai Kesediaan menjawab suatu nilai dan ada rasa puas dalam membicarakan nilai tersebut.
Menghargai (valuing) nilai Menganggap nilai tersebut baik, menyukai nilai tersebut, dan komitmen terhadap nilai tersebut.
Menghayati (organizing/ internalizing) nilai Memasukkan nilai tersebut sebagai bagian dari sistem nilai dirinya.
Mengamalkan (characterizing/ actualizing) nilai Mengembangkan nilai tersebut sebagai ciri dirinya dalam berpikir, berkata, berkomunikasi, dan bertindak (karakter).
Daftar Kata Kerja Operasional KKO KD Sikap Spiritual-Sosial Taksonomi Krathwohl

Kata Kerja Operasional KKO yang termasuk dalam dimensi proses pembentukan sikap sosial dan sikap spiritual adalah sebagai berikut:

A1

A2

A3

A4

A5

menerimameresponmenghargaimengorganisasikankarakterisasi menurut nilai
mengikutimenyenangimengasumsikanmengubahmembiasakan
menganutmenyambutmeyakinkanmenatamengubah perilaku
mematuhimendukungmemperjelasmembangunberakhlak mulia
meminatimaporkanmenekankanmembentuk pendapatmelayani
 memilihmenyumbangmemadukanmembuktikan
 menampilkanmengimanimengelolamemecahkan
 menyetujui merembuk 
 mengatakan menegoisasi 
memilihmenjawabmengasumsikanmenganutmengubah prilaku
mempertanyakanmembantumeyakinimengubahberakhlak mulia
 mengajukanmelengkapimenatamempengaruhi
memberimengkompromikanmeyakinkanmengklasifikasikanmendengarkan
 menyenangimemperjelasmengkombinasikanmengkualifikasi
 menyambutmemprakarsaimempertahankanmelayani
 mendukungmengimanimembangunmenunjukkan
 mendukungmengundangmembentuk pendapatmembuktikan
 menyetujuimenggabungkanmemadukanmemecahkan
 menampilkanmemperjelasmengelola 
 melaporkanmengusulkanmenegosiasi 
 memilihmenekankanmerembuk 
 mengatakanmenyumbang  
 memilah   
 menolak   

Kata Kerja Operasional KKO KD Pengetahuan Taksonomi Bloom – Anderson

Kata Kerja Operasional KKO selalu digunakan pada perencanaan pembelajaran. Kata Kerja Operasional KKO KD pengetahuan Kurikulum 2013 mengacu pada taksonomi Bloom revisi Anderson. Penggunaan Kata Kerja Operasional KKO yang tepat dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran akan menjamin akurasi dan linieritas pembelajaran.

kata kerja operasional kko bloom
kata kerja operasional kko bloom

Deskripsi Dimensi Proses Kata Kerja Operasional KKO Pengetahuan Taksonomi Bloom – Anderson

Kata Kerja Operasional KKO yang akan kita gunakan untuk merepresentasikan aktifitas proses belajar sesungguhnya bukanlah sekedar kata itu saja, namun harus pula cocok dengan deskripsi kemampuan yang direpresentasikannya. Jadi kita jangan hanya sekedar mencari kata itu saja namun harus sesuai pula dengan deskripsi masing-masing dimensi proses seperti yang dimaksud teori taksonomi terkait.

Menurut teori taksonomi Bloom olahan Anderson , pengetahuan diperoleh melalui tingkatan-tingkatan (1) mengingat (2) memahami (3) menerapkan (4) menganalisis (5) mengevaluasi dan (6) mengreasi.

Mengingat (C1) ialah kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan informasi yang telah diterima sebelummya.
Memahami (C2) ialah kemampuan untuk memahami makna, menjelaskan dan menyatakan kembali gagasan.
Menerapkan (C3) ialah kemampuan untuk menggunakan materi yang sudah dipelajari dalam situasi baru.
Menganalisa (C4) ialah kemampuan untuk memisahkan materi menjadi komponen-komponen dan menunjukkan hubungan antara bagian-bagian tersebut.
Mengevaluasi (C5) ialah kemampuan menilai nilai material terhadap kriteria yang ada.
Mengreasi (C6) ialah kemampuan mengumpulkan gagasan terpisah untuk membentuk keseluruhan baru, membangun hubungan baru.

Daftar Kata Kerja Operasional KKO Pengetahuan Taksonomi Bloom olahan Anderson (2001)

Mengingat (C1)

Memahami
(C2)

Menerapkan (C3)

Menganalisa (C4)

Mengevaluasi (C5)

Mengkreasi (C6)

mendefinisikanmemilihmenerapkanmenganalisamempertimbangkanmenyusun
mengidentifikasimengulas contohmendemonstrasikanmenilaimengujimerangkai
mendaftar memerankanmengkalkulasimemutuskanmengumpulkan
menamaimendemonstrasikan fungsi darimempekerjakanmenggolongkanMembandingkan terhadap kriteriamenyampur
mengingat kembali menggeneralisasimembandingkanmengkritisimengonstruksi
mengenalimenjelaskanmengilustrasikanmenyimpulkanmengestimasimembuat
merekammenentukanmenginterpretasikanmengurai perbedaanmengevaluasimendesain
mengaitkanmembedakan antaramengoperasikanmengkorelasikanmenghakimimengembangkan
mengulang mengontrolmengkritisimengukurmemformulasikan
menggaris bawahimembedakanmelatihkanMenarik kesimpulanmengukur tingkatanmengelola
Referencesmendiskusikanmenghubungkanmemperdebatkanmerevisimemodifikasi
 menjelaskanmengacarakanmendeteksimenyekormengorganisasikan
 mengekspresikanmembelanjakanmemutuskanmemilih sesuai kriteriamerencanakan
 menjelaskan dengan kalimat sendirimenggunakanmengembangkanmenguatkanmenyiapkan
  memfungsikanmendiagramkanmenilaimemproduksi
 mengidentifikasimenginisiasikanmengurai perbedaan-perbedaanmengetesmengusulkan
 menginterprestasikanmemprakarsaimembedakan memprediksi
 menemukan lokasimengajukanmenggambarkan merekonstruksi
 Pickmemulaimenyimpulkan mempersiapkan
 melaporkanmemulakanmengestimasi mempersatukan
 menyatakan kembali mengevaluasi mengatur
 mereview mengeksplore merancang
 mengenali melakukan eksperimen  
 memilih Mengidentifikasi rinci  
 menceritakan mengambil kesimpulan  
 menerjemahkan menginspeksi  
 merespon menginventarisir  
 melakukan latihan meperkirakan  
 menyimulasikan mempertanyakan  
   mengaitkan  
   menyelesaikan  
   mengetes  
   mendiagnosa  
      

Kata Kerja Operasional KKO Keterampilan Konkret Taksonomi Simpson

Kata Kerja Operasional KKO keterampilan konkret merujuk pada taksonomi Simpson dan Dave. Penggunaan Kata Kerja Operasional KKO yang tepat dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran akan menjamin akurasi dan linieritas pembelajaran.

kata kerja operasional kko konkret simpson
kata kerja operasional kko

Deskripsi Dimensi Proses Kata Kerja Operasional KKO Keterampilan Konkret Taksonomi Simpson

Kata Kerja Operasional KKO yang akan kita gunakan untuk merepresentasikan aktifitas proses belajar sesungguhnya bukanlah sekedar kata itu saja, namun harus pula cocok dengan deskripsi kemampuan yang direpresentasikannya. Seringkali kita mendapati suatu kata terdaftar dalam satu atau lebih dimensi proses pengetahuan maupun keterampilan. Oleh karena itu kita jangan hanya sekedar mencari kata itu saja namun harus pula diverifikasi dengan deskripsi masing-masing dimensi proses seperti yang dimaksud teori taksonomi terkait.
Menurut teori taksonomi Simpson , keterampilan diperoleh melalui tingkatan-tingkatan (P1) Persepsi, kesiapan, meniru (P2) membiasakan gerakan (mechanism) (P3) mahir (complex or overt response) (P4) menjadi gerakan alami (adaptation) (P5) menjadi tindakan orisinal (origination). Adapun deskripsi masing-masing tahapan adalah sebagai berikut:

No

Tingkat Taksonomi Simpson

Uraian

1.

Persepsi

 

Kesiapan

Meniru

Menunjukkan perhatian untuk melakukan suatu gerakan.

 

Menunjukkan kesiapan mental dan fisik untuk melakukan suatu gerakan.

Meniru gerakan secara terbimbing.

2.

Membiasakan gerakan    (mechanism)Melakukan gerakan mekanistik.

3.

Mahir (complex or overt response)Melakukan gerakan kompleks dan termodifikasi.

4.

Menjadi gerakan alami (adaptation)Menjadi gerakan alami yang diciptakan sendiri atas dasar gerakan yang sudah dikuasai sebelumnya.

5.

Menjadi tindakan orisinal (origination)Menjadi gerakan baru yang orisinal dan sukar ditiru oleh orang lain dan menjadi ciri khasnya.

Daftar Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Simpson

Persepsi, kesiapan, meniru
(P1)

Membiasakan gerakan (mekanisme)
(P2)

Menjadi Mahir (kompleks & termodifikasi)
(P3)

Menjadi gerakan alami (adaptasi)
(P4)

Menjadi
Tindakan
Orisinil ybs.
(P5)

menirumembuatmengoordinasikanmengaturmerancang
menyalinmelakukanmemasangmengintegrasikanmemformulasikan
mengikutimembentukmendemonstrasikanmenyelesaikanmemodifikasi
mencobamelengkapi  mendesain ulang
    menemukan kerusakan (trouble-shoot)

Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Dave

Kata Kerja Operasional KKO selalu digunakan pada perencanaan pembelajaran. Kata Kerja Operasional KKO yang digunakan Kurikulum 2013 berasal dari taksonomi Bloom revisi Anderson. Penggunaan Kata Kerja Operasional KKO yang tepat dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran akan menjamin akurasi dan linieritas pembelajaran.

kata kerja operasional kko
kata kerja operasional kko konkret dave

Kata kerja operasional KKO KD Keterampilan konkret berdasar Taksonomi Dave

Deskripsi Dimensi Proses Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Dave

Kata Kerja Operasional KKO yang akan kita gunakan untuk merepresentasikan aktifitas proses belajar sesungguhnya bukanlah sekedar kata itu saja, namun harus pula cocok dengan deskripsi kemampuan yang direpresentasikannya. Jadi kita jangan hanya sekedar mencari kata itu saja namun harus sesuai pula dengan deskripsi masing-masing dimensi proses seperti yang dimaksud teori taksonomi terkait.
Menurut teori taksonomi Dave , keterampilan diperoleh melalui tingkatan-tingkatan (1) imitasi (2) manipulasi (3) presisi (4) artikulasi (5) naturalisasi.
Deskripsi Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Dave

Deskripsi Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Dave

No

Tingkatan Taksonomi Dave

Uraian

1.

ImitasiMeniru kegiatan yang telah didemonstrasikan atau dijelaskan, meliputi tahap coba-coba hingga mencapai respon yang tepat.

2.

ManipulasiMelakukan suatu pekerjaan dengan sedikit percaya dan kemampuan melalui perintah dan berlatih.

3.

PresisiMelakukan suatu tugas atau aktivitas dengan keahlian dan kualitas yang tinggi dengan unjuk kerja yang cepat, halus, dan akurat serta efisien tanpa bantuan atau instruksi.

4.

ArtikulasiKeterampilan berkembang dengan baik sehingga seseorang dapat mengubah pola gerakan sesuai dengan persyaratan khusus untuk dapat digunakan mengatasi situasi problem yang tidak sesuai SOP.

5.

NaturalisasiMelakukan unjuk kerja level tinggi secara alamiah, tanpa perlu berpikir lama dengan mengkreasi langkah kerja baru.

Daftar Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Konkret Taksonomi Dave

Imitasi (P1)

Manipulasi (P2)

Presisi (P3)

Artikulasi (P4)

Naturalisasi (P5)

menirukanmembuat kembalimendemonstrasikanmengonstruksimendesain
mengikutimembangunmelengkapimenyelesaikanmenspesifikasikan
mereplikasimelakukanmemperagakanmengombinasikanmengelola
mengulangmengeksekusimenyempurnakanmengkoordinasikanmenemukan
adheremengimplementasikanmengkalibrasimengintegrasikanmengelola proyek
  mengendalikanmengadaptasikanmenciptakan
   mengontrolmengembangkan 
   memformulasikan 
   memodifikasi 
   menguasai 

Kata Kerja Operasional KKO KD Keterampilan Abstrak Taksonomi Dyers

Kata Kerja Operasional KKO keterampilan abstrak digunakan pada perencanaan pembelajaran. Kata Kerja Operasional KKO ini merujuk pada taksonomi Dyers. Kata Kerja Operasional KKO yang tepat dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran akan menjamin akurasi dan linieritas pembelajaran. Otomatis juga memberi penjaminan mutu pendidikan.

kata kerja operasional kko
kata kerja operasional kko dyers

Deskripsi Dimensi Proses Kata Kerja Operasional KKO Keterampilan Abstrak Taksonomi Dyers

Kata Kerja Operasional KKO pada KI KD sering merepresentasikan aktifitas proses belajar yang tidak tampak atau bersifat abstrak.
Deskripsi keterampilan abstrak pada Kurikulum 2013 ditata sebagai berikut:

Kemampuan Belajar

Deskripsi

MengamatiPerhatian pada waktu mengamati suatu objek/ membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati.
MenanyaJenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, operasional, dan hipotetik).
Mengumpulkan informasi / mencoba mengolahJumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Menalar/ mengasosiasi/ mengolah informasiMengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori, mensintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antar berbagai jenis fakta-fakta/konsep/teori/pendapat; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.
Mengomunikasikan/ menyajiMenyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain.
Mencipta (creating)Menghasilkan ide-ide, rancangan dan atau keputusan-keputusan baru.

Kata kerja operasional KKO Sikap – GTK Kemdikbud

Kata kerja operasional KKO Sikap – GTK Kemdikbud ialah daftar kata kerja operasional (KKO) yang tercantum dalam buku yang dirilis Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 yang berjudul Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi.

kko - kata kerja operasional sikap
kko – kata kerja operasional sikap

Kata kerja operasional KKO Pengetahuan – GTK Kemdikbud

kko - kata kerja operasional pengetahuan
kko – kata kerja operasional pengetahuan

Kata kerja operasional KKO Keterampilan – GTK Kemdikbud

kko - kata kerja operasional keterampilan
kko – kata kerja operasional keterampilan

Dengan daftar kata kerja operasional KKO sikap, pengetahuan dan keterampilan psikomotor – GTK kemdikbud diharapkan para pendidik mempunyai keseragaman interpretasi KD-KD khususnya dalam KI KD SMK Terbaru tahun 2018 sehingga mutu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan implementasinya semakin meningkat.

Memilih Kata kerja operasional KKO untuk Indikator / IPK dan Tujuan Pembelajaran

Kata kerja operasional KKO memang digunakan untuk menuliskan Indikator Pencapaian Kompetensi / IPK maupun Tujuan Pembelajaran. Bagaimana kiat kita memilih kata kerja operasional yang tepat? Jawaban pertanyaan ini sejujurnya belum pernah admin temukan pada buku-buku (kurang baca kayaknya) namun lebih pada pemaknaan dari kompetensi dasar yang bersangkutan terkait level/dimensi proses kognitif kompetensi dasar, jenis pengetahuan pada kompetensi dasar dan deskripsi indikator pencapaian kompetensi. Jadi hampir tidak bisa dipastikan ‘daftar tetap’ kata kerja operasional untuk suatu kompetensi dasar, namun ada beberapa kata kerja operasional yang bisa sering terpakai

dimensi proses mengidentifikasi

Mengidentifikasi beberapa kali admin temukan pada KD mapel tertentu khususnya sebelum revisi. Mengidentifikasi termasuk dalam dimensi proses kognitif C1 (mengingat) … lihat daftar kata kerja operasional Puspendik Kemdikbud tahun 2017.

deskripsi dimensi proses C1 mengingat adalah Mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang.

Dalam dimensi proses ini kita hanya meminta siswa ingat atau mengambil ingatan dari memori jangka panjangnya dan tidak melakukan apa-apa.

Kata kerja operasional yang dipakai menyebutkan, menunjukkan, memilih, mengidentifikasi, mengungkapkan  kembali, menuliskan kembali, menyebutkan kembali.

dimensi proses memahami

Memahami C2 adalah dimensi proses yang meminta siswa Mengkonstruk makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru.

Kata kerja operasional yang bisa dipakai meliputi menafsirkan, memparafrasekan, mengungkapkan dengan kata-kata sendiri, mencontohkan, memberi contoh, mengklasifikasikan, mengkelompok-kelompokkan, mengidentifikasi berdasarkan kategori tertentu, merangkum, meringkas, membuat ikhtisar, menyimpulkan, mengambil kesimpulan,
membandingkan, membedakan, menjelaskan, menguraikan, mendeskripsikan, menuliskan, mencontohkan, memberi contoh, merangkum, meringkas, membuat ikhtisar, menyimpulkan, mengambil kesimpulan, membandingkan, membedakan, menjelaskan, menguraikan, mendeskripsikan, menuliskan.

Kata kerja operasional yang mana bisa kita gunakan untuk membuat IPK ? Tentu saja kata kerja yang sesuai dengan jenis pengetahuan yang diminta pada KD yang akan dipelajari. Dan tentu saja jenis kata yang bisa dipakai bervariasi bergantung materi pembelajaran atau jenis pengetahuan rincian dalam KD tersebut

Demikianlah diskusi sekitar Kata Kerja Operasional KKO Sikap, KKO Pengetahuan dan KKO Keterampilan … semoga bermanfaat …

Sumber:

  1. Modul Bimtek Implementasi K2013, Kemdikbud, 2018
  2. https://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf
  3. http://www.businessballs.com/bloomstaxonomyoflearningdomains.htm
  4. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi, 2018 GTK Kemdikkbud.

Keterampilan Konkret – Keterampilan Abstrak

Keterampilan Konkret – Keterampilan Abstrak

Keterampilan konkret dan keterampilan abstrak merupakan kompetensi inti keterampilan K2013. Keterampilan konkret dan keterampilan abstrak masih membingungkan sebagian guru. Bagaimana sesungguhnya keterampilan konkret dan keterampilan abstrak ini? Bagaimana mengidentifikasinya? Jika sudah teridentifikasi bagaimana menentukan gradasinya? Mari kita diskusikan …

keterampilan konkret keterampilan abstrak
keterampilan konkret keterampilan abstrak

Pengertian Keterampilan Konkret dan Keterampilan Abstrak

Arti konkret / kongkrit / konkrit menurut https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/konkret ialah nyata; benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, diraba, dan sebagainya). Kata kongkret, kongkrit atau konkrit merupakan bentuk tidak baku dari konkret. Pada kamus yang sama, arti kata abstrak adalah tidak berwujud; tidak berbentuk;

Keterampilan konkret dapat diartikan sebagai keterampilan yang nyata dan dapat dilihat, dapat diraba, dapat didengar. Selain itu, keterampilan konkret juga seringkali memerlukan penggunaan peralatan untuk melakukan keterampilan yang dinyatakan itu.

Keterampilan abstrak dapat diartikan sebagai keterampilan yang tidak nyata dan tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, tidak dapat didengar. Selain itu, keterampilan abstrak juga tidak memerlukan penggunaan peralatan untuk melakukan keterampilan yang dinyatakan itu.

Keterampilan konkret dan keterampilan abstrak lebih lanjut dinyatakan bahwa keterampilan abstrak lebih bersifat mental skill, yang cenderung merujuk pada keterampilan menyaji, mengolah, menalar, dan  mencipta  dengan  dominan  pada  kemampuan  mental  keterampilan berpikir. Sedangkan keterampilan konkret lebih bersifat fisik motorik yang cenderung   merujuk   pada   kemampuan   menggunakan   alat,   dimulai   dari persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerakan mahir, menjadi gerakan alami, menjadi tindakan orisinal. (sumber: Modul Pelatihan Kutikulum 2013

Gradasi Keterampilan Konkret dan Keterampilan Abstrak

Keterampilan Konkret dan Keterampilan Abstrak pada Kurikulum 2013 menerapkan gradasi dan atau taksonomi yang berbeda.

Keterampilan Abstrak

Keterampilan abstrak menurut Dyers memiliki gradasi yang ditata sebagai berikut: (1) mengamati (observing); (2) menanya (questioning); (3) mencoba (experimenting); (4) menalar (associating); (5) menyaji (communicating); dan (6) mencipta (creating)

Gradasi dan deskripsi keterampilan abstrak adalah sebagai berikut:

Keterampilan Abstrak

Kemampuan BelajarDeskripsi
MengamatiPerhatian pada waktu mengamati suatu objek/ membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati.
MenanyaJenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, operasional, dan hipotetik).
Mengumpulkan informasi/ mencoba mengolahJumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Menalar/ mengasosiasi/ mengolah informasi

Mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori, mensintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antar berbagai jenis fakta-fakta/konsep/teori/pendapat; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.
Mengomunikasikan / menyajiMenyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain.
Mencipta (creating)Menghasilkan ide-ide, rancangan dan atau keputusan-keputusan baru.
  

(Sumber: Olahan Dyers dari modul Bimtek K2013)

Keterampilan Konkret

Keterampilan konkret menggunakan gradasi olahan Simpson dan Dave yang ditata seperti tampak pada tabel di bawah.

KETERAMPILAN KONKRET

NO

Tingkatan Taksonomi

Uraian
Tingkatan Taksonomi
Uraian
 

 

1.

· Persepsi

 

· Kesiapan

· Meniru

· Menunjukkan perhatian untuk melakukan suatu gerakan.

 

· Menunjukkan kesiapan mental dan fisik untuk melakukan suatu gerakan.

· Meniru gerakan secara terbimbing.

ImitasiMeniru kegiatan yang telah didemonstrasikan atau dijelaskan, meliputi tahap coba-coba hingga mencapai respon yang tepat.
 2.Membiasakan gerakan (mechanism)Melakukan gerakan mekanistik.ManipulasiMelakukan suatu pekerjaan dengan sedikit percaya dan kemampuan melalui perintah dan berlatih.
 

 

3

Mahir(complex or overt response)Melakukan gerakan kompleks dan termodifikasiPresisiMelakukan suatu tugas atau aktivitas dengan keahlian dan kualitas yang tinggi dengan unjuk kerja yang cepat, halus, dan akurat serta efisien tanpa bantuan atau instruksi.
4Menjadi gerakan alami (adaptation)Menjadi gerakan alami yang diciptakan sendiri atas dasar gerakan yang
sudah dikuasai sebelumnya.
ArtikulasiKeterampilan berkembang dengan baik sehingga seseorang dapat mengubah pola gerakan sesuai dengan persyaratan khusus untuk dapat digunakan mengatasi situasi problem yang tidak sesuai SOP.
5Menjadi tindakan orisinal (origination)Menjadi gerakan baru yang orisinal dan sukar ditiru oleh orang lain dan menjadi ciri khasnya.NaturalisasiMelakukan unjuk kerja level tinggi secara alamiah, tanpa perlu berpikir lama dengan mengkreasi langkah kerja baru.

Keterampilan kongkret / kongkrit / konkrit

Keterampilan kongkret / kongkrit / konkrit adalah penulisan tidak baku dari keterampilan konkret. Maksud dari keterampilan kongkret / kongkrit / konkrit adalah sama dengan keterampilan konkret. Silahkan kembali ke atas …

Contoh telaah keterampilan konkret dan keterampilan abstrak

Keterampilan konkret atau keterampilan abstrak pada kompetensi dasar Kurikulum 2013 harus kita identifikasi dan tentukan. Marilah kita coba menelaah KD keterampilan berikut :

Contoh 1

4.1 Mendemonstrasikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA, dalam bentuk poster dan kondisi riil di bengkel.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA, dalam bentuk poster dan kondisi riil di bengkel dilakukan dengan menggunakan peralatan dan perlengkapan tertentu yang sesuai. Jelas keterampilan ini mengunakan peralatan … karena itu dikategorikan keterampilan konkret.

Contoh 2

4.8 Mengelompokkan sistem kemagnetan berdasarkan prinsip rangkaian DC dan rangkaian AC

Mengelompokkan sistem kemagnetan berdasarkan prinsip rangkaian DC dan rangkaian AC termasuk pada gradasi menalar / mengasosiasi yaitu keterampilan abstrak. Keterampilan ini proses eksekusinya ada di dalam nalar kita, tidak tampak, tidak bisa dilihat, tidak juga menggunakan peralatan.

Contoh 3

4.11 Mengolah informasi tentang pekembangan kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada masa Orde baru sampai dengan awal Reformasi, serta peranan mahasiswa dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia

Mengolah informasi jelas menunjukkan bahwa keterampilan pada KD 4.11 di atas adalah keterampilan abstrak.

Sementara demikian dulu diskusi kita Keterampilan Konkret dan Keterampilan Abstrak … insyaAllah kita lengkapi lagi …

Sumber:

  1. Modul Bimtek Implementasi K2013 tahun 2018, Kemdikbud. 

Penguatan Pendidikan Karakter PPK

penguatan pendidikan karakter ppk

Penguatan Pendidikan Karakter PPK ??? Mengapa perlu Penguatan Pendidikan Karakter PPK ? Apa tujuan Penguatan Pendidikan Karakter PPK? Bagaimana menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Bagaimana menerapkan di kelas? Mungkin diantara kita masih ada yang memerlukan informasi terkait penguatan pendidikan karakter (PPK). Mari kita berdiskusi

Peraturan Rujukan

Penguatan Pendidikan Karakter PPK merupakan istilah yang mengemuka belakangan ini terutama sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter PPK yang menjadikan pendidikan karakter sebagai platform pendidikan nasional Indonesia. Penguatan Pendidikan Karakter PPK bertujuan untuk membekali peserta didik sebagai generasi emas tahun 2045. Pembekalan peserta didik dengan jiwa Pancasila dan karakter yang baik ini sangat berguna menghadapi dinamika perubahan kehidupan di masa depan.

penguatan pendidikan karakter ppk
penguatan pendidikan karakter ppk

Penguatan Pendidikan Karakter PPK yang diatur dengan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang meliputi hal-hal berikut :

  • Dasar pertimbangan penetapan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017
  • Definisi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
  • Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
  • Bagaimana melaksanakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
  • Ruang lingkup penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
  • Prinsip-prinsip Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Rujukan Kepala Sekolah dan Guru melaksanakan Penguatan Pendidikan Karakter PPK

Penguatan Pendidikan Karakter PPK menjadi kewajiban sekolah dan guru yang dilakukan melalui kegiatan intra kurikuler, ko kurikuler dan ekstra kurikuler. Hal ini dinyatakan pada BAB II pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017.

Penguatan Pendidikan Karakter PPK dapat dilakukan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Penyelenggaraan PPK di sekolah menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah dan guru. Tanggung jawab ini dilaksanakan sebagai pemenuhan beban kerja guru dan kepala Satuan Pendidikan Formal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter PPK  dalam kegiatan Intrakurikuler merupakan penguatan nilai-nilai  karakter melalui kegiatan-kegiatan:

  1. penguatan materi pembelajaran,
  2. metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan.

Penyelenggaraan PPK dalam kegiatan Kokurikuler merupakan penguatan nilai-nilai karakter yang dilaksanakan untuk pendalaman dan/ atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler sesuai muatan kurikulum.

Penyelenggaraan PPK dalam Ekstrakurikuler merupakan penguatan nilai-nilai karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian,     kerja sama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal. Karena itu kegiatan ekstra kurikuler yang dapat dikembangkan bermacam-macam meliputi kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat/ olah minat, dan kegiatan keagamaan, serta kegiatan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ketentuan  peraturan  perundang-undangan.

Penyelenggaraan PPK dalam Kegiatan keagamaan dapat dilaksanakan paling sedikit melalui pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi, retreat, dan/ atau baca  tulis Al Quran dan kitab suci lainnya.

Berdasarkan Perpres No. 87 tahun 2017 di atas, cukup jelas peran guru dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) yaitu melalui penguatan materi pembelajaran dan metode pembelajaran seperti di uraikan di atas. Pada Kurikulum 2013 Penguatan Pendidikan Karakter PPK dilakukan melalui langkah pengintegrasian dalam proses pembelajaran. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bukan sebagai program tambahan atau sisipan, melainkan sebagai cara mendidik dan belajar bagi seluruh pelaku pendidikan di satuan pendidikan.

Nilai-nilai Karakter PPK

Dalam Perpres dijelaskan bahwa fokus PPK adalah nilai-nilai Pancasila. PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab” (Pasal 3)

Penguatan Pendidikan Karakter PPK intra kurikuler Kurikulum 2013 SMK

Penguatan Pendidikan Karakter PPK intra kurikurikuler kemudian juga dikenal sebagai Penguatan Pendidikan Karakter PPK berbasis kelas. Bisa dipahami demikian karena penguatan pendidikan karakter ini dilakukan oleh guru melalui penguatan materi pembelajaran maupun metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan.

Penguatan Pendidikan Karakter PPK berbasis kelas melalui penguatan materi pembelajaran dan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan muatan kurikulum pada Kurikulum 2013 dilakukan sejak perancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP. Hal ini sangat tepat mengingat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP adalah pedoman guru mengajar atau melaksanakan pembelajaran.

Perencanaan Silabus dan RPP Kurikulum 2013 yang berkualitas baik telah dilatihkan dalam Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum 2013 hingga tahun 2018 ini.  Langkah-langkah perencanaan silabus dan RPP Kurikulum 2013 meliputi kegiatan-kegiatan guru:

  1. Analisis SKL KI KD (Baca Sekarang)
  2. Analisis Materi Pembelajaran (Baca Sekarang)
  3. Analisis Penerapan Model Pembelajaran (Baca Sekarang)
  4. Analisis Penilaian Hasil Belajar (Baca Sekarang)

Penguatan Pendidikan Karakter PPK berbasis kelas dalam tahapan pengembangan Silabus dan RPP Kurikulum 2013 SMK pun sudah dilakukan pada masing-masing tahapan tersebut. Jika proses pengembangan silabus dan RPP SMK dilakukan melalui langkah-langkah di atas dapat diharapkan dihasilkan penguatan materi pembelajaran maupun metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum. Sebaliknya silabus dan RPP yang dikembangkan tanpa langkah-langkah tersebut dapat diduga lemah kualitasnya dan tidak mampu menginisiasi Penguatan Pendidikan Karakter PPK.

Sebagai penutup posting Penguatan Pendidikan Karakter PPK berikut admin mengajak rekan-rekan melaksanakan perencanaan dan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui 4 (empat) jenis analisis yang telah disebutkan di atas dengan cermat. Dengan demikian penguatan materi pembelajaran maupun metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum mampu mengangkat Penguatan Pendidikan Karakter PPK. Selamat bekerja !

Daftar Pustaka

Kemdikbud. 2017. Materi Umum Penguatan Pendidikan Karakter.
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Analisis SKL KI KD

analisis skl ki kd

Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD itu apa sih? Mengapa perlu Analisis SKL KI KD ? Bagaimana cara melakukan Analisis SKL KI KD pada K2013 SMK Revisi 2017 ? Pertanyaan-pertanyaan terkait Analisis SKL KI KD itu mungkin menggelayuti banyak pendidik yang telah mengikuti Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2017.

analisis skl ki kd
analisis skl ki kd

Analisis SKL KI KD seperti ditunjukkan pada ilustrasi pertama (tabel 1) dan ilustrasi kedua (tabel 2) boleh jadi menimbulkan pertanyaan kita.

  1. Mengapa ada 2 bagian Analisis SKL KI KD ?
  2. Pada gambar 1, Analisis SKL KI KD apa yang kita lakukan?
  3. Analisis SKL KI KD apa yang kita lakukan pada ilustrasi yang ke 2 ?
  4. Mengapa pada ilustrasi Analisis SKL KI KD ke 2 beberapa kata dituliskan dengan warna? Apa maksudnya?
  5. Pada ilustrasi Analisis SKL KI KD ke 2 terdapat kode-kode C2, P1, P2 apa maksudnya?
  6. Apa yang dimaksud dimensi kognitif ?
  7. Apa yang dimaksud bentuk dimensi pengetahuan konseptual ?
  8. Mengapa memahami dinyatakan SESUAI dengan pengetahuan konseptual?
  9. Apa dasar kita menyetarakan C2 dengan P1?
  10. Apa yang harus dilakukan jika terjadi KESETARAAN atau KETIDAKSETARAAN ?
  11. Semua inikah yang dimaksud Analisis SKL KI KD ?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab tetapi tidak tertutup kemungkinan masih banyak yang belum terjawab. Pada kesempatan ini saya coba tuangkan bahan diskusi Analisis SKL KI KD ini.

Tujuan Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD sebagai titik awal perencanaan pembelajaran tentu memiliki maksud dan tujuan. Analisis SKL KI KD menjadi titik awal penguatan pendidikan karakter. Kita perlu memahami kerangka berpikir terkait analisis skl ki kd ini agar pembelajaran yang kita sajikan berjalan sesuai skema besar pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Kurikulum 2013. Ok, mari berangkat dari cita-cita dan impian penerapan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 diterapkan BUKAN SEKEDAR UPDATE PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN SAJA. Kurikulum 2013 diterapkan untuk menyiapkan siswa agar memiliki kompetensi baik sikap spiritual, sikap sosial , pengetahuan dan keterampilan agar nantinya unggul dalam persaingan global abad 21 ini. Keunggulan ini ditunjang dengan pengembangan keterampilan abad 21 seperti critical thinking, creative thinking, collaborating dan communicating (4 C). Keunggulan-keunggulan ini sudah dicanangkan dan dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Pada ranah operasional, pembentukan kompetensi lulusan dilakukan melalui pembelajaran yang dilakukan oleh guru di seluruh mata pelajaran. Dalam konteks ini, materi pembelajaran dan proses pembelajaran menjadi instrumen penting menuju tercapainya Standar Kompetensi Lulusan yang dicita-citakan. Materi pembelajaran yang TIDAK LINIER dengan Standar Kompetensi Lulusan yang diinginkan JELAS menjadi PENYEBAB tidak tercapainya kompetensi yang diinginkan. Demikian juga dengan proses pembelajaran. Terbentuknya kompetensi lulusan pada siswa tergantung juga dengan proses pembentukan kompetensi yang dilakukan pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat berjalan optimal jika guru memahami Kompetensi Dasar (KD), dan MENERAPKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK nya agar kompetensi dasar yang dirumuskan dalam kalimat-kalimat dapat diwujudkan pada diri siswa atau peserta didik.

Analisis SKL KI KD inilah wujud langkah guru meluruskan dan melinierkan perencanaan proses pembelajaran untuk pencapaian Standar Kompetensi Lulusan yang diinginkan.

Pengertian Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD wajib dipahami oleh setiap pendidik. Analisis SKL KI KD ialah kegiatan menguraikan keterkaitan SKL KI KD atas berbagai bagiannya, menelaah bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh berbagai informasi pedagogis yang berguna untuk membuat perencanaan pembelajaran yang benar.

Analisis SKL KI KD menjabarkan komponen SKL (Standar Kompetensi Lulusan), KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar) baik KD Pengetahuan maupun KD Keterampilan. Selain aktifitas menjabarkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, Analisis SKL KI KD juga menjabarkan hubungan dan keterkaitan antar komponen yang di analisis tersebut.

Jelas kiranya bahwa silabus dan RPP adalah dokumen yang diturunkan dari Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar KI KD, dan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar KI KD sendiri diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan SMK. Agar supaya silabus dan RPP SMK yang dikembangkan benar-benar akurat mengeksekusi keinginan Standar Kompetensi Lulusan SMK maka perlu ada jaminan linieritas Kompetensi Dasar KD terhadap SKL nya. Analisis SKL KI KD inilah penjamin linieritas silabus dan RPP SMK terhadap Standar Kompetensi Lulusan SKL.

Memahami Contoh Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD pada setiap mata pelajaran dilakukan mengikuti contoh dalam Bimtek Implementasi K2013. Pada posting ini contoh analisis skl ki kd admin sadurkan dari Modul Bimtek Implementasi Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2017.

Cobalah rekan-rekan pembaca amati tabel berikut ini.

Analisis SKL KI KD
KOMPETENSI INTI 3
KOMPETENSI INTI 4
ANALISIS DAN REKOMENDASI KI
(PENGETAHUAN)
(KETERAMPILAN)
123
3.     Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasitentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Desain Grafikapada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.4.     Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Desain Grafika. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.KI-3 pengetahuan dan KI-4 keterampilan; adalah untuk program pendidikan 3 tahun
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. 
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan,gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.KI-3 dan KI-4 tersebut sesuai menjadi rujukan KD-KD mata pelajaran Dasar-dasar Kegrafikaan pada Kompetensi Keahlian Desain Grafika (3 Tahun)

 

 

Cara Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD dikerjakan secara berturut-turut seperti diuraikan di bawah.

  • Menentukan tingkat dimensi kognitif dan bentuk pengetahuan dari Kompetensi Dasar Pengetahuan (Analisis KD 3)

Pada KD contoh di atas berbunyi … Memahami pola tata letakMemahami merupakan tingkat kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa yang menunjukkan tingkat dimensi kognitif dari taksonomi Bloom revisi. Sedangkan … pola tata letak … merujuk kepada … macam-macam bentuk tata letak yang bisa jadi berbeda satu dengan yang lain tetapi sama-sama dapat digolongkan sebagai pengaturan tata letak. Pengetahuan seperti ini disebut bentuk pengetahuan konseptual.

  • Menentukan rekomendasi kesesuaian tingkat dimensi kognitif dan bentuk pengetahuan dari Kompetensi Dasar

Setelah tingkat dimensi kognitif dan bentuk pengetahuan kita temukan, selanjutnya diperiksa apakah  tingkat dimensi kognitif dan bentuk pengetahuan tersebut SESUAI dipasangkan ? Atas dasar apakah kita menyatakan sesuai atau tidak sesuai ? Lihat pada gambar di bawah ini ….

analisis skl ki kd
analisis skl ki kd

Berdasarkan skema di atas …. Memahami atau level C2 sesuai jika dipasangkan dengan bentuk pengetahuan konseptual … jadi pada KD contoh di atas … Memahami pola tata letak … SUDAH SESUAI.

  • Menentukan tingkat taksonomi dan bentuk taksonomi dari Kompetensi Dasar Keterampilan (Analisis KD 4)

Pada KD 4 contoh di atas berbunyi … Memilih pola tata letakMemilih (pola tata letak) adalah keterampilan kongkrit. Karena keterampilan kongkrit selanjutnya periksa dalam taksonomi Simpson dan Dave dan lihat … levelnya adalah P2 (manipulasi).  Disimpulkan, memilih adalah keterampilan kongkrit level P2 (manipulasi) . Rekan-rekan perlu melihat kata kerja operasional (KKO) pada taksonomi Simpson atau Dave ini untuk memastikan … memilih … itu pada level apa?

analisis skl ki kd
analisis skl ki kd

  • Menentukan KESETARAAN taksonomi KD Pengetahuan dan taksonomi KD Keterampilan  dan rekomendasi nya

Langkah Analisis SKL KI KD selanjutnya adalah menentukan kesetaraan KD Pengetahuan dengan KD Keterampilan. Seharusnya KD Pengetahuan TIDAK BOLEH lebih rendah dari KD Keterampilan. Mengapa demikian? Logikanya … untuk melakukan suatu keterampilan diperlukan pengetahuan-pengetahuan sebagai dasar dan pedoman kerja melakukan suatu keterampilan. Logis kan?

Sekarang, bagaimana kita memutuskan KD3 sudah SETARA dengan KD4 ?

Berdasarkan taksonomi Bloom olahan Anderson, taksonomi terklasifikasi menjadi 6 level dari C1 s.d. C6 dan jenjang SMA-SMK sekurang-kurangnya dimulai dari C2 (memahami). Taksonomi keterampilan memiliki 5 level mulai dari P1 s.d. P5 baik taksonomi Simpson maupun taksonomi Dave. Perhatikan ilustrasi berikut :

Analisis SKL KI KD
PENGETAHUAN
KETERAMPILAN KONGKRIT
KETERAMPILAN KONGKRIT
KETERAMPILAN ABSTRAK
TAKSONOMI BLOOM OLAHAN ANDERSON
TAKSONOMI DAVE
TAKSONOMI SIMPSON
TAKSONOMI DYERS
Mengkreasi
C6
Naturalisasi
P5
Menjadi tindakan orisinalMencipta
Mengevaluasi
C5
Artikulasi
P4
Menjadi gerakan alamiMengomunikasikan
Menganalisis
C4
Presisi
P3
MahirMengasosiasi
Menerapkan
C3
Manipulasi
P2
Membiasakan gerakanMengumpulkan informasi
Memahami
C2
Imitasi
P1
Persiapan, Kesiapan, MeniruMenanya
Mengingat
C1
   Mengamati

KD 3 Memahami (C2) setara dengan level keterampilan Imitasi (meniru) P1 … sedangkan … KD 4 Memilih … pada level … manipulasi P2 … oleh karena itu KD 3 DIREKOMENDASIKAN dinaikkan satu tingkat pada tingkat Menerapkan (C3). Ditingkatkan pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, jadi biarkan bunyi KD 3 nya tetap.

Hasil Analisis SKL KI KD

Analisis SKL KI KD seperti tampak di atas, memberikan kita informasi penting terkait Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Hasil analisis SKL KI KD penting ini antara lain:

  1. Kompetensi Dasar KD yang sudah dilinierisasi atau disesuaikan sehingga KD Pengetahuan dan KD Keterampilan cocok berpasangan. Ini berarti kita sudah mantap pada titik tolak yang benar untuk menjabarkan pasangan KD ke dalam Indikator Pencapaian Kompetensi.
  2. Seiring dengan itu ditemukan pula tingkat dimensi kognitif apakah berada pada C1 mengingat, C2 memahami, C3 menerapkan, C4 menganalisis, C5 mengevaluasi atau C6 mengkreasi. Hal ini memastikan kita mencari dan menggunakan Kata Kerja Operasional (KKO) yang tepat untuk digunakan dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran.
  3. Analisis SKL KI KD menemukan bentuk pengetahuan faktual, konseptual, prosedural ataupun meta kognitif dan jenis keterampilan kongkrit maupun abstrak dan dengan itu memudahkan kita memilih model pembelajaran yang tepat untuk digunakan.
  4. Pada tahap ini pula bisa kita bayangkan perolehan hasil belajar apakah pada Low Order Thinking Skills (LOTS) ataukah sudah berada pada Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Latihan Analisis SKL KI KD

 

Penguatan Pendidikan Karakter PPK dalam Analisis SKL KI KD

……………………………………………….. maaf belum sempat di tuliskan ……………………………………………………..

Silabus dan RPP SMK Berdasar KI KD SMK Kurikulum 2013 Revisi 2017 harus memperhatikan hal-hal penting di atas.

Demikianlah sharing tentang Analisis SKL KI KD … semoga menambah pemahaman kita bersama …