Best Practice

best practice

Best practice adalah praktek terbaik yang bisa diteladani. Bagaimana suatu best practice mengantarkan juara? Mengapa best practice penulis mengantarkan menjadi juara pengawas berprestasi tingkat nasional 2019.

best practice

Rekan-rekan jangan ‘keki’ dulu membaca judul atau pengantar di atas. Bukan bermaksud menyombongkan ya tetapi penulis tidak punya preferensi karya yang lain untuk dibahas. Lebih dari itu tentunya tidak punya hak membahas karya rekan lain. Apalagi tanpa ijin. Naudzubillah min dzalik! Setuju kan? Dan bukan rekan-rekan saja yang mungkin ‘kepo’ … bahkan saya sendiripun penasaran kira-kira apa faktor penyebabnya best practice penulis mengantarkan menjadi salah satu juara di tingkat nasional. Penulis berharap rekan-rekan mendapat manfaat dari posting ini.

Mengenal Best Practice

Best practice merupakan salah satu aspek penilaian pada ajang Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019. Best practice juga menjadi bagian penilaian pada pemilihan Kepala Sekolah Berprestasi, Guru Berprestasi, Kepala Administrasi Sekolah Berprestasi maupun berbagai Tenaga kependidikan berprestasi lainnya. Apa sesungguhnya yang diharapkan dari praktek baik ini?

Best practice atau dalam bahasa kita bisa disebut praktek terbaik didefinisikan sebagai suatu cara paling efisien (upaya paling sedikit) dan efektif (hasil terbaik) untuk menyelesaikan suatu tugas, berdasarkan suatu prosedur yang dapat diulangi yang telah terbukti manjur untuk banyak orang dalam jangka waktu yang cukup lama (https://id.wikipedia.org/wiki/Praktik_terbaik, diakses 17 Januari 2020 pukul 22:09 Wita).

Menurut buku Pedoman Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019, Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan, Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Penilaian karya best practice merupakan penilaian yang bertujuan untuk menilai kinerja pengawas sekolah berupa pengalaman terbaik atau kisah sukses dalam mengelola pengawasan.

Menurut Iis Nurhayati dalam Bimbingan Teknis Penulisan & Penilaian Angka Kredit Best Practice dan Karya Inovatif Pengawas Sekolah yang disampaikan di Kartika Chandra Hotel, Jakarta, 5 Maret 2017 best practice seharusnya memiliki ciri-ciri:

  • OUTSTANDING RESULT • Hasil luar biasa
  • EFFICIENT & EFFECTIVE • Berdaya dan berhasil guna
  • SUSTAINABLE • Hasil tidak sesaat/berkelanjutan
  • INNOVATIVE • Berinovasi dalam pemecahan masalah
  • INSPIRATIVE • Mengisnpirasi lainnya

Jelas di sini bahwa best practice adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yaitu prestasi bekerja melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Bagi seorang pengawas tentunya dalam melaksanakan pengawasan. Bagi kepala sekolah tentunya dalam tugas pokoknya mengelola sekolah dan bagi guru dalam pelaksanaan tugasnya merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan penilaian sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Best Practice Dalam Perspektif Kegiatan Kemdikbud

Best practice merupakan salah satu filter Pemilihan pengawas sekolah berprestasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Filter ini untuk memastikan penghargaan dari pemerintah bagi pengawas sekolah yang memiliki prestasi yang tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya.

Untuk tujuan di atas ditentukan bahwa ruang lingkup pemilihan pengawas sekolah berprestasi mencakup aspek pembinaan, evaluasi dan monitoring serta penilaian sekolah antara lain melalui pembangunan budaya literasi pada satuan pendidikan, peningkatan kepemimpinan dan pengawasan pembelajaran abad 21, serta optimalisasi peran tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) dalam penguatan pendidikan karakter, inovasi dan integritas tata kelola satuan pendidikan.

Benang Merah Karya Best Practice dengan Tujuan Kementerian

Berdasar pada tujuan penyelenggaraan di atas maka dapat dianalisis Adakah benang merah karya yang kita ajukan dengan tujuan Kemdikbu?

  1. Apakah kaya kita memenuhi aspek pembinaan, evaluasi dan monitoring serta penilaian sekolah?
  2. Apakah selaras dengan pembangunan budaya literasi pada satuan pendidikan?
  3. Apakah selaras dengan peningkatan kepemimpinan dan pengawasan pembelajaran abad 21?
  4. Apakah selaras dengan penguatan pendidikan karakter melalui optimalisasi peran tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) ?
  5. Apakah praktek baik kita bernilai inovasi?
  6. Apakah meningkatkan integritas tata kelola satuan pendidikan?

Semua ini hanyalah analisis yang mencoba mencari jawaban pertanyaan mengapa best practice yang penulis ajukan mendapatkan apresiasi sebagai salah satu juara atau sekurang-kurangnya termasuk top 5.

Sebagai uji sampel silahkan dicoba analisis best practice penulis yang berjudul “PEMANFAATAN CLOUD COMPUTING UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN DOKUMEN SUPERVISI PADA SMK BINAAN DI KOTA BANJARMASIN” dimana media pengawasan yang dilaporkan di install di : http://supaksuman.putrautama.id/ocsmk/

best practice
best practice

Bagaimana menurut rekan pembaca … apakah benang merahnya dengan tujuan kegiatan kementerian pendidikan dan kebudayaan cukup memadai?

Apakah cukup memiliki ciri-ciri OUTSTANDING RESULT (Hasil luar biasa), EFFICIENT & EFFECTIVE (Berdaya dan berhasil guna), SUSTAINABLE (Hasil tidak sesaat/berkelanjutan), INNOVATIVE (Berinovasi dalam pemecahan masalah), INSPIRATIVE (Mengisnpirasi lainnya)?

Bagaimana Penilaian Best practice

Berdasarkan Pedoman Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019, Komponen dan Aspek Penilaian Best Practice tidak diungkapkan secara rinci. Namun demikian terdapat beberapa aspek terkait karya best practice yang dinyatakan sebagai bagian dari penilaian. Aspek-aspek tersebut meliputi:

  1. Uji Similaritas dan penilaian best practices;
  2. Penilaian presentasi karya best practice;
Uji Similaritas / Similarity Check

Uji similaritas adalah pengujian kesamaan karya tulis yang diakui sebagai karya pribadi dengan karya orang atau pihak lain yang telah ada. Uji similaritas dilakukan untuk mencegah kebiasaan plagiarisme atau penjiplakan. Menurut Wikipedia, Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Karya diharapkan tidak melebihi 30%. Demikian pesan Dr. Mansur Arsyad.

Penilaian Naskah

Selain uji similaritas, juga dilakukan penilaian naskah best practice. Asumsi penulis, penilaian naskah kemungkinan adalah melihat kesesuaian naskah dengan panduan penulisan yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu, menurut penulis, penting bagi peserta mengirimkan naskah yang sesuai dengan pedoman penulisan yang diberikan.

Penilaian naskah yang dirilis https://tendik.kemdikbud.go.id/uploads/unduhan/UNDUHAN_20180227193249.pdf menunjukkan bahwa komponen-komponen berikut menjadi bagian penilaian:

  1. Praktik/pengalaman nyata terkini
  2. Originalitas
  3. Keunggulan proses dan hasil
  4. Mengikuti standar keilmuan
  5. Dukungan riset mutakhir
  6. Kontribusi pada pengetahuan, teknologi, dan seni
  7. Sistematika (kerunutan)
  8. Bahasa
  9. Kelengkapan
  10. Kebermaknaan
Penilaian presentasi karya Best Practice

Karya best practice selain dinilai dari sisi naskah dan hasil juga dilakukan penilaian terhadap presentasi atau penyajiannya. Penilaian Presentasi Best Practice menurut Prof. Dr. H. Madyo Ekosusilo, M.Pd. yang disampaikan dalam BIMTEK Peningkatan Kompetensi Pengawas Dikmen Wilayah Timur Melalui Benchmarking dg Pengawas Sekolah Wilayah Barat Di Hotel Kaisar Jakarta, 1 s.d 3 Juni 2013 (https://slideplayer.info/slide/3981568/ diakses 18 Januari 2020 pukul 10:05 Wita) meliputi aspek-aspek:

  1. Kesesuaian isi penyajian dengan isi naskah tulisan
  2. Sistematika penyajian berdasarkan isi dari setiap bab
  3. Penguasaan isi tulisan yang disajikan berdasarkan naskah tulisan
  4. Metode dan alat bantu/power point yang digunakan dalam penyajian
  5. Kemampuan dan ketepatan menjawab pertanyaan dari tim penilai
  6. Sikap, kepercayaan diri dan ketepatan waktu dalam penyajian
Kesimpulan Contoh Karya Best Practice Juara

Berdasarkan uraian di atas, pengalaman pribadi selama pengembangan, penampilan softcopy melalui pengetikan MSWord dengan daftar isi otomatis, penomoran halaman berbeda, dokumen pada satu file utuh, penampilan pada pelaksanaan presentasi dapat disimpulkan …

aah iya … bagaimana kalau rekan pembaca yang menilainya … nanti admin pindahkan di sini … ok …

Demikian diskusi analisis contoh Best practice … semoga menginspirasi rekan-rekan …

Bahan Bacaan:

  1. Diolah dari Pengalaman Terbaik pribadi
  2. Pedoman Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019, Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan, Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud.
  3. Penulisan Laporan Best Practice Pengawas Sekolah, Iis Nurhayati, Ditjen GTK Kemdikbud, 2018

Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif Rendah

pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif rendah

Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif Rendah

Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif merupakan salah satu indikator SKL dalam Rapor Mutu Sekolah. Berapa skor capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif di sekolah kita? Apakah capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif di sekolah rekan-rekan masih rendah? … maaf … alias belum bermutu tinggi? Apa yang menjadi penyebabnya? Mari kita diskusikan …

pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif
pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif

Memahami Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif

Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif merupakan salah satu indikator capaian Standar Kompetensi Lulusan Rapor Mutu Sekolah. Berdasarkan hasil diskusi dan kunjungan di beberapa pertemuan masih banyak dari kita belum memahami apa itu pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif. Untuk menambah wawasan kita berikut deskripsi pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif yang dimuat dalam dokumen indikator mutu dalam penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Deskripsi Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif pada jenjang SD

  • pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
  • pengetahuan terminologi/istilah  yang  digunakan,  klasifikasi,  kategori,
  • prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
  • pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang berke- naan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara.
  • pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara.

Deskripsi Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif pada jenjang SMP

  • pengetahuan teknis dan spesifik tingkat sederhana berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.
  • pengetahuan terminologi/istilah dan klasifikasi, kategori, prinsip, general- isasi dan teori, yang digunakan terkait dengan pengetahuan teknis dan spesifik tingkat sederhana berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.
  • pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang terkait dengan pengetahuan teknis, spesifik, algoritma, metode tingkat seder- hana berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.
  • pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari pengetahuan teknis dan spesifik tingkat sederhana berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.

Deskripsi Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif pada jenjang SMA dan SMK

  • pengetahuan teknis dan spesifik, detail dan kompleks berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan inter- nasional.
  • pengetahuan terminologi/istilah dan klasifikasi, kategori, prinsip, general- isasi, teori, model, dan struktur yang digunakan terkait dengan pengetahuan teknis dan spesifik, detail dan kompleks berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan inter- nasional.
  • pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang terkait dengan pengetahuan teknis, spesifik, algoritma, metode, dan kriteria untuk menentukan prosedur yang sesuai berkenaan dengan ilmu penge- tahuan, teknologi, seni, dan budaya, terkait dengan masyarakat dan ling- kungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan inter- nasional.
  • pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam  mempelajari  pengetahuan  teknis, detail, spesifik, kompleks, kontekstual dan kondisional berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.

Memahami Acuan Mutu Untuk Analisis Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif

Capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif terbentuk oleh suatu sistem standar. Standar Nasional Pendidikan yang terdiri atas 8 (delapan) standar membentuk sistem input proses dan output yang digambarkan sebagai berikut:

acuan mutu skl pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif

Tampak pada gambar di atas bagian masukan (input) dibentuk oleh standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana dan standar pembiayaan. Sistem standar masukan ini akan mendukung sistem proses yang terdiri dari standar proses, standar isi dan standar penilaian. Kompetensi Lulusan berada pada posisi keluaran dari sistem atau merupakan hasil.

Kompetensi lulusan berupa capaian pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif akan optimal jika standar proses, standar isi dan standar penilaian dilaksanakan secara penuh dan optimal sesuai ketentuan. Standar isi, standar proses dan standar penilaian akan bisa dijalankan secara penuh dan optimal apabila sistem standar masukan yaitu standar pengelolaan, standar PTK, standar sarana dan prasarana dan standar pembiayaan dipenuhi sesuai ketentuan.

Berdasar gambar dan uraian singkat di atas kompetensi lulusan berupa capaian pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif sebagai keluaran merupakan hasil langsung / dipengaruhi secara langsung oleh pelaksanaan standar proses, pelaksanaan standar isi dan pelaksanaan standar penilaian. Penting untuk dicatat, dalam konteks ini yang berpengaruh secara langsung kepada kompetensi lulusan berupa capaian pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif adalah pelaksanaan standar isi, standar proses dan standar penilaian oleh rekan-rekan pendidik.

Kemungkinan Penyebab Langsung Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif Rendah

Berapa skor capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif di sekolah kita? Apakah capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif masih rendah? Maaf … jangan berpikir negatif … data dalam rapor mutu pendidikan yang dapat kita lihat rata-rata masih rendah. Tentu saja hal ini tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain dan bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Apakah kemungkinan penyebab capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif masih rendah?

Penyebab Langsung Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif sesuai uraian di atas adalah hasil pelaksanaan standar isi, hasil pelaksanaan standar proses dan hasil pelaksanaan standar penilaian. Dengan bahasa sederhana dapat kita ungkapkan kompetensi peserta didik secara langsung dipengaruhi oleh apa yang diajarkan guru, bagaimana guru mengajarkan dan bagaimana guru menilai yang sudah diajarkan.

standar isi proses penilaian
standar isi proses penilaian

Solusi Meningkatkan Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif Rendah

Untuk meningkatkan Capaian SKL Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif Rendah secara umum tentu meliputi seluruh standar. Namun kita sebagai guru dapat berpartisipasi meningkatkan capaian skl tersebut dengan memperbaiki dan menyempurnakan segala sesuatu terkait dengan pertanyaan (1) apa yang kita ajarkan (isi pembelajaran) (2) bagaimana kita mengajarkan (proses) dan (3) bagaimana kita menilai pembelajaran (penilaian)

Isi pembelajaran seharusnya terurai dengan lengkap dan sistematis di dalam KTSP yaitu Dokumen 1, Silabus / Dokumen 2 dan RPP / Dokumen 3. Dalam hal ini bukan saja keberadaan benda masing-masing dokumen namun juga proses dan prosedur penyusunan masing-masing dokumen. Agar isi pembelajaran dapat ditemukan dengan akurat maka kita perlu lakukan Analisis SKL KI KD dan Analisis Materi Pembelajaran.

Proses pembelajaran atau bagaimana kita mengajarkan merujuk aktifitas-aktifitas yang seharusnya kita lakukan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun melalui analisis yang benar sehingga bukn saja isi namun juga proses pembelajaran benar. Bagaimana kita mengajarkan dapat disusun rencananya dengan akurat dengan melakukan Analisis Penerapan Model Pembelajaran.

Bagaimana kita menilai merujuk pada perencanaan penilaian, proses dan prosedur penilaian yang benar dan tepat. Dan penilaian pembelajaran dapat disusun dengan akurat jika kita melakukan Analisis Penilaian Hasil Belajar.

Dengan langkah-langkah di atas Pengetahuan faktual konseptual prosedural metakognitif Indikator SKL Rapor Mutu Pendidikan dapat ditingkatkan.

Demikian diskusi kita Capaian SKL Pengetahuan Faktual Konseptual Prosedural Metakognitif Rendah … semoga menjadi perhatian kita.

 

Bacaan Sumber:

  1. Indikator Mutu Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud, 2017
  2. How Help Teacher Succes, Glickman,
  3. Rapor Mutu Sekolah

Standar Proses & Peran Guru Kepala Sekolah dan Pengawas

Standar Proses & Peran Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas

Standar proses wajib dilaksanakan sekolah. Standar proses salah satu ‘soko guru’ mutu pendidikan. Standar proses menuntut peran guru, kepala sekolah, pengawas sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap keterlaksanaan standar proses di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Guru adalah pihak yang mengimplementasikan komponen standar proses tersebut. Walaupun demikian, berdasarkan pengamatan di lapangan banyak pihak ‘tampak’ belum begitu memahami apa dan bagaimana pelaksanaan standar proses di sekolah. Mari kita diskusikan standar proses dan implementasinya dalam keseharian di sekolah kita.

Pengertian dan dasar hukum Standar Proses

Standar Proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan (Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal 1). Kriteria menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kriteria memiliki makna “ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu”. Jadi dapat kita pahami bahwa Standar Proses adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan.

Indikator Mutu Pelaksanaan Standar Proses

Standar Proses dilaksanakan oleh satuan pendidikan atau sekolah dalam berbagai bentuk kegiatan. Kegiatan-kegiatan berupa komponen kegiatan yang tersurat maupun tersirat dalam peraturan menteri.

standar-proses
standar-proses

Ukuran keterlaksanaan standar proses telah dirinci dalam indikator dan sub indikator mutu dalam penjaminan mutu pendidikan. Berikut adalah indikator dan sub indikator keterlaksanaan standar proses menurut Indikator Mutu Pendidikan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017, :

  1. Sekolah merencanakan proses pembelajaran sesuai ketentuan
  2. Perencanaan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  3. Perencanaan pembelajaran mengarah pada pencapaian kompetensi
  4. Pendidik menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  5. RPP mendapatkan evaluasi dari kepala sekolah dan pengawas sekolah
  6. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan tepat
  7. Membentuk rombongan belajar dengan jumlah siswa sesuai ketentuan
  8. Mengelola kelas sebelum memulai pembelajaran
  9. Pembelajaran Mendorong Siswa Mencari Tahu
  10. Pembelajaran menuju penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
  11. Pembelajaran Berbasis Kompetensi
  12. Pembelajaran Terpadu
  13. Pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi
  14. Pembelajaran menuju keterampilan aplikatif
  15. Pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat
  16. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  17. Mengakui atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
  18. Menerapkan metode pembelajaran sesuai karakteristik siswa
  19. Memanfaatkan media pembelajaran dalam meningkatkan efisiensi dan efektivi- tas pembelajaran
  20. Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber Belajar
  21. Mengelola kelas saat menutup pembelajaran
  22. Pengawasan dan penilaian otentik dilakukan dalam proses pembelajaran
  23. Melakukan penilaian otentik secara komprehensif
  24. Memanfaatkan hasil penilaian otentik
  25. Melakukan pemantauan proses pembelajaran
  26. Melakukan supervisi proses pembelajaran kepada guru
  27. Mengevaluasi proses pembelajaran
  28. Menindaklanjuti hasil pengawasan proses pembelajaran

Peran Guru dalam pelaksanaan Standar Proses

Standar proses diterapkan di satuan pendidikan dalam berbagai bentuk kegiatan yang terangkai menjadi suatu proses panjang menghasilkan mutu lulusan. Guru dan kepala sekolah memegang peran dalam rangka implementasi esensi standar proses. Kepala sekolah melalui fungsi manajerialnya melakukan pengelolaan implementasi standar proses sedangkan guru sebagai pendidik bertugas dan bertanggungjawab melaksanakan berbagai komponen standar proses dimana proses dan hasilnya seharusnya nampak dalam indikator-indikator mutu.

Peran-peran guru melaksanakan standar proses sebagai berikut :

  1. Guru merencanakan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  2. Guru merencanakan pembelajaran mengarah pada pencapaian kompetensi
  3. Guru menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  4. Guru mengelola kelas sebelum memulai pembelajaran
  5. Guru mendorong Siswa Mencari Tahu
  6. Guru menggunaan pendekatan ilmiah
  7. Guru melaksanakan pembelajaran Berbasis Kompetensi
  8. Guru melaksanakan pembelajaran Terpadu
  9. Guru melaksanakan pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi
  10. Guru melaksanakan pembelajaran yang menuju keterampilan aplikatif
  11. Guru membemberdayakan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat
  12. Guru melaksanakan pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  13. Guru mengakui perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
  14. Guru menerapkan metode pembelajaran sesuai karakteristik siswa
  15. Guru memanfaatkan media pembelajaran dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
  16. Guru menerapkan pembelajaran Berbasis Aneka Sumber Belajar
  17. Guru mengelola kelas saat menutup pembelajaran
  18. Guru melakukan penilaian otentik secara komprehensif
  19. Guru memanfaatkan hasil penilaian otentik
  20. Guru melakukan evaluasi diri atas proses pembelajaran yang dilakukan
Peran Kepala Sekolah dalam pelaksanaan Standar Proses

Standar proses yang komponen-komponennya dilaksanakan atau diperankan oleh guru tentu tidak terlepas dari peran-peran kepala sekolah dalam mengelola sekolah. Selain mengelola implementasi standar proses, kepala sekolah dituntut memiliki pengetahuan tentang bagaimana komponen standar proses seharusnya dilaksanakan.

Peran-peran kepala sekolah mengelola dan memfasilitasi pelaksanaan standar proses antara lain :

  1. Kepala Sekolah memimpin dan memfasilitasi kegiatan perencanaan pembelajaran mengacu pada silabus yang telah dikembangkan
  2. Kepala Sekolah memimpin dan memfasilitasi kegiatan perencanaan pembelajaran yang mengarah pada pencapaian kompetensi
  3. Kepala Sekolah memastikan Pendidik menyusun dokumen rencana dengan lengkap dan sistematis
  4. Kepala Sekolah mengevaluasi RPP yang disusun guru
  5. Kepala Sekolah melakukan pemantauan proses pembelajaran
  6. Kepala Sekolah melakukan supervisi proses pembelajaran kepada guru
  7. Kepala Sekolah mengevaluasi proses pembelajaran
  8. Kepala Sekolah menindaklanjuti hasil pengawasan proses pembelajaran
Peran Pengawas Mendampingi Sekolah Memenuhi Standar Proses

Pengawas sekolah juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam konteks mendampingi sekolah mencapai standar proses yang optimal. Agar sekolah binaan dapat mencapai pelaksanaan standar proses yang optimal tersebut, pengawas sekolah dapat berperan baik melalui fungsi supervisi akademik maupun supervisi manajerial.

Demikian diskusi kita tentang Standar Proses dan Peran Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Semoga bermanfaat.

 

Rujukan :

Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

Indikator Mutu dalam Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud