Mengasosiasi

mengasosiasi

Mengasosiasi

Mengasosiasi bagian dari belajar.  Mengasosiasi tahapan penting, apapun kurikulumnya. Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera.

Pengertian mengasosiasi

Kata mengasosiasi dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia Online memang tidak ditemukan. Ditinjau dari asal katanya, mengasosiasi berasal dari kata “asosiasi” yang mendapat awalan “me”. Asosiasi menurut http://kbbi.web.id/asosiasi memiliki makna asosiasi / aso·si·a·si/ n 1 persatuan antara rekan usaha; persekutuan dagang; 2 perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama; 3 tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra;

Mengasosiasi mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik.  Langkah-langkahnya terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.   Mengasosiasi | mengolah informasi melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras.  Mengasosiasi juga melatih kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

mengasosiasi
mengasosiasi

Faktor Penting Memfasilitasi Siswa Mengasosiasi

Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera. Merujuk pada pengertian tersebut, maka efektifitas kegiatan mengasosiasi sebagai bagian proses belajar berpotensi dipengaruhi oleh faktor internal siswa dan faktor-faktor eksternal.

1. Faktor internal ialah hal-hal dalam diri siswa yang mempengaruhi aktifitasnya dalam mengasosiasi. Faktor internal yang berpotensi mempengaruhi efektifitas kegiatan mengasosiasi antara lain:

  • kesehatan
  • asupan makanan
  • perhatian
  • minat
  • bakat
  • kecerdasan ( gaya belajar )
  • konstelasi psikis (emosi)

2. Faktor eksternal ialah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi bagaimana siswa mengasosiasi antara lain:

  • interaksi dengan teman
  • media untuk mengasosiasi
  • interaksi dengan guru
  • cara/metode mengasosiasi
  • lingkungan kelas/sekolah
  • waktu untuk mengasosiasi

Faktor-faktor internal dan eksternal di atas berpotensi besar menimbulkan hambatan bagi siswa dalam proses mengasosiasi.

Hambatan Mengasosiasi Internal

Mengasosiasi adalah proses menanamkan pemahaman baru ke dalam jaringan otak, karena itu proses ini sangatlah penting. Mengetahui hambatan siswa dalam mengasosiasi sangat bermanfaat bagi guru agar tujuan pembelajaran yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tercapai.

Mengasosiasi adalah aktifitas biologis terkait dengan brain (otak). Seperti halnya belajar, kesehatan badan atau fisik siswa tentu berpengaruh. Kesehatan badan yang kurang di kala sakit atau dalam keadaan tidak nyaman mengganggu aktifitas jaringan otak untuk mencerna fakta, konsep, proses dan bahkan metakognisi.

Kurangnya perhatian siswa terhadap pelajaran atau proses menimbulkan hambatan bagi siswa itu sendiri untuk menerima fakta dan konsep hingga gagal membuat tautan dalam otaknya. Kurang perhatian jelas mengurangi fokus siswa terhadap topik yang sedang dibahas. Meningkatkan fokus selama proses mengasosiasi dapat mengurangi hambatan baginya untuk membuat tautan dalam otaknya untuk menerima dan memahami ilmu yang baru.

Mengasosiasi sebagai bagian kecil dari proses belajar tentu terkait dengan minat dan bakat siswa yang bersangkutan. Hal yang sangat logis ketika topik yang dipelajari sesuai dengan minat dan bakat siswa maka yang bersangkutan penuh semangat melaksanakan langkah-langkah mengasosiasi yang diperlukan. Sebaliknya ketika topiknya tidak bersesuaian dengan minat dan bakatnya semangatnya berkurang.

Gaya belajar setiap orang bisa berbeda satu dengan yang lain. Merujuk pada C.I.T.E. Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas terdapat beberapa gaya belajar siswa. Mengasosiasi, sebagai bagian belajar sangat masuk di akal jika dipengaruhi dan bahkan terhambat jika proses yang diminta guru tidak sesuai dengan gaya belajar yang disukainya. Beberapa gaya belajar yang diketahui antara lain:

  • Auditori Bahasa (Auditory Language)
  • Visual Bahasa (Visual Language)
  • Auditori numerik (Auditory Numerical)
  • Visual numerik (Visual Numerical)
  • Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik
  • Belajar individu
  • Belajar kelompok
  • Oral Ekspresif
  • Ditulis Ekspresif

Ketidak sesuaian metode yang digunakan guru dengan gaya belajar yang disukai siswa menimbulkan hambatan tersendiri bagi diri siswa.

Hambatan Mengasosiasi Eksternal

Mengasosiasi atau kegiatan aktif siswa membuat tautan dalam memorinya tentu dipengaruhi oleh berbagai hambatan yang datang dari luar diri siswa yang bersangkutan. Hal-hal di luar diri siswa seringkali tak dapat dikendalikan siswa yang bersangkutan. Karena berada di luar kendali dirinya maka ketidak sesuaian kondisi-kondisi eksternal ini dapat menghambat kegiatan siswa mengasosiasi. Hambatan-hambatan eksternal ini antara lain:

Hambatan terkait interaksi dengan teman. Kegiatan mengasosiasi dapat dilakukan baik sendiri maupun secara berkelompok. Ketika tahap mengasosiasi ini harus dilakukan dalam bentuk kelompok atau bersama siswa yang lain maka diperlukan interaksi antar siswa. Kadang interaksi antar siswa dapat berlangsung dengan lancar namun tidak sedikit pula yang mengalami kendala-kendala.

Mengasosiasi seringkali memerlukan media. Media adalah perantara yang dapat digunakan untuk menghubungkan kapasitas nalar kita dengan fakta-fakta, konsep-konsep, proses-proses dan bahkan untuk metakognisi. Dengan media kita sering terbantu untuk membuat hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya menjadi lebih nyata dan dapat diterima nalar kita. Dewasa ini begitu banya jenis media yang dapat digunakan. Hal ini menuntut literasi kita terhadap berbagai media dimaksud. Literasi media literasi teknologi literasi visual menjadi kunci pembuka mengurangi hambatan-hambatan mengasosiasi.

Mengasosiasi dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik memang dilakukan sendiri oleh siswa. Namun demikian tidak berarti tahap mengasosiasi tidak memerlukan interaksi guru dan siswa. Selama proses mengasosiasi tetap diperlukan interaksi guru dan siswa. Dengan interaksi ini guru tetap dapat memberi bimbingan bagaimana caranya siswa harus mengasosiasi. Sebaliknya dengan mudah siswa dapat bertanya dan mendapat bimbingan bagaimana mengasosiasi dapat dilakukan.

Cara mengasosiasi / Metode mengasosiasi yang dipilih guru dan direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP juga penting untuk diperhatikan. Cara / Metode mengasosiasi yang dipilih perlu memperhatikan karakteristik siswa. Lebih spesifik dapat dikatakan cara / metode mengasosiasi yang sesuai dengan gaya belajar siswa akan mengurangi hambatan yang dialami siswa. Cara / Metode mengasosiasi yang bersesuaian dengan gaya belajar siswa akan mempermudah siswa memahami dan membuat tautan dalam ingatannya.

Kondisi lingkungan kelas ketika proses mengasosiasi berlangsung dapat bersifat menghambat suksesnya siswa mengasosiasi topik yang dipelajari. Kondisi lingkungan perlu dijaga sedemikian rupa sehingga tahapan mengasosiasi yang dilakukan siswa berjalan dengan lancar dan kondusif. Guru wajib menciptakan situasi lingkungan yang kondusif selama proses belajar. Tak terkecuali dalam pembelajaran kurikulum 2013. Untuk memastikan kondisi lingkungan yang kondusif, guru harus merencanakan dan melakukan pengelolaan kelas yang efektif.

Mengasosiasi merujuk pada Gaya belajar siswa

Merujuk pada C.I.T.E.  Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas.  Dinyatakan bahwa terdapat sejumlah gaya belajar siswa yaitu :

Auditori Bahasa (Auditory Language)

Siswa dengan gaya belajar Auditori Bahasa (Auditory Language) lebih senang belajar dari mendengar kata-kata yang diucapkan. Mereka akan lebih mampu memahami dan mengingat kata-kata atau fakta yang dipelajari dengan mendengar. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Visual Bahasa (Visual Language)

Siswa kelompok ini belajar dengan baik dari melihat kata-kata dalam buku, di papan, grafik atau buku kerja (berupa tulisan). Mereka bahkan mungkin menuliskan kata-kata yang diberikan secara lisan, untuk belajar dengan melihat mereka di atas kertas. Siswa-siswa ini mengingat dan menggunakan informasi yang lebih baik jika mereka telah membacanya. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Auditori numerik (Auditory Numerical)

Siswa-siswa ini belajar dari mendengar nomor dan penjelasan lisan. Mengingat telepon dan ganti nomor mudah, dan mereka mungkin bisa berhasil dengan permainan nomor lisan dan teka-teki. Mereka mungkin melakukannya juga tanpa buku matematika mereka, untuk bahan tertulis tidak penting. Mereka mungkin dapat menyelesaikan masalah dalam kepala mereka, dan mungkin mengatakan nomor dengan keras ketika membaca.

Visual numerik (Visual Numerical)

Siswa-siswa ini harus melihat angka di papan, dalam sebuah buku, atau di atas kertas untuk bekerja dengan angka-angka. Mereka lebih cenderung untuk mengingat dan memahami fakta-fakta matematika ketika mereka disajikan secara visual. Mereka tampaknya tidak membutuhkan banyak penjelasan lisan.

Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik

Para siswa A-V-K belajar yang terbaik melalui pengalaman, melakukan, dan keterlibatan diri. Mereka mendapatkan keuntungan dari kombinasi rangsangan. Manipulasi bahan, yang disertai dengan penglihatan dan suara (kata dan angka melihat dan mendengar) akan membantu mereka belajar. Mereka mungkin tidak tampak untuk memahami atau dapat berkonsentrasi atau bekerja kecuali benar-benar terlibat. Mereka berusaha untuk menangani, menyentuh dan bekerja dengan apa yang mereka pelajari.

Pelajar individu

Siswa-siswa ini lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dengan dilakukan sendiri. Mereka berpikir yang terbaik dan lebih ingat ketika telah belajar sendiri. Mereka lebih peduli pendapat mereka sendiri dari pada ide-ide orang lain. Guru tidak memiliki banyak kesulitan menjaga mereka bersosialisasi selama pembelajaran.

Pelajar kelompok

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk belajar dengan setidaknya satu teman lainnya, dan tidak banyak dengan dilakukan sendiri. Mereka menghargai pendapat dan preferensi orang lain. interaksi kelompok meningkatkan pembelajaran mereka dan kemudian pengakuan fakta.  Observasi kelas akan cepat mengungkap betapa pentingnya sosialisasi untuk mereka.

Oral Ekspresif

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk memberitahu apa yang mereka ketahui. Mereka berbicara dengan lancar, nyaman, dan jelas. Guru mungkin menemukan bahwa mereka lebih tahu dari tes tertulis menunjukkan. Mereka mungkin kurang malu daripada yang lain tentang memberikan laporan atau berbicara dengan guru atau teman sekelas. Koordinasi otot yang terlibat dalam penulisan mungkin sulit bagi mereka. Pengorganisasian dan menempatkan pikiran di atas kertas mungkin terlalu lambat dan membosankan tugas untuk mereka.

Ditulis Ekspresif

peserta didik dapat menulis esai lancar dan jawaban yang baik pada tes untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui. Mereka merasa kurang nyaman, bahkan mungkin bodoh, ketika jawaban atau laporan lisan yang diperlukan.  Pemikiran mereka lebih terorganisir di atas kertas daripada ketika mereka diberikan secara oral.

Berbagai gaya belajar yang diuraikan di atas menyadarkan kita betapa banyak hal yang memperngahruhi sukses tidaknya tahapan mengasosiasi. Dengan memilih dan menerapkan teknik mengasosiasi yang tepat mudah-mudahan mengasosiasi menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa.

Bentuk kegiatan mengasosiasi
  1. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan,
  2. menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,
  3. mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan
  4. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
  5. Pengolahan informasi untuk menambah keluasan dan kedalaman sampai yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang berbeda sampai yang bertentangan
  6. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.
  7. menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Contoh langkah membimbing siswa mengasosiasi

Seperti halnya pada tahapan menanya boleh jadi siswa mengalami kesulitan atau kebingungan melakukan langkah mengasosiasi.

Bagaimana dia harus membentuk tautan dalam ingatan tentang hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera? Bagaimana langkahnya? Bahkan pertanyaan bagaimana cara melakukannyapun kadang tak terkatakan. Pada kondisi seperti ini kehadiran guru sebagai fasilitator dan pembimbing sangat diperlukan. Guru sebaiknya mengatur skenario proses bagaimana siswa melakukan langkah mengasosiasi.

Contoh sintak pembelajaran mengasosiasi

Contoh sintak pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP untuk membimbing dan memfasilitasi siswa mengasosiasi sebagai berikut:

  1. Guru meminta siswa dalam kelompok menetapkan cara yang disukai masing-masing untuk berpartisipasi menyampaikan kesimpulan.
  2. Siswa mengusulkan masing-masing cara yang disukai
  3. Guru memberi contoh daftar/tabel format pengelompokan dan pengkategorisasian, hasil menanya dan hasil diskusi kelompok
  4. Siswa dalam kelompok menyiapkan daftar / tabel pengelompokan dan pengkategorisasian untuk mempermudah siswa mengasosiasi
  5. Guru meminta kelompok berdiskusi mengisi daftar/tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  6. Siswa dalam kelompok berdiskusi mengisi daftar / tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  7. Guru memberi contoh dan bukan contoh dan meminta siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain.
  8. Siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain untuk memperoleh kesimpulan yang benar.
  9. Guru meminta semua siswa untuk membuat catatan  sendiri menurut cara yang disukainya.
  10. Siswa dalam kelompok membuat catatan dan hasil mengasosiasi dan atau memiliki catatan sendiri menurut cara yang disukainya.
  11. Dan seterusnya

Demikianlah pembahasan tentang tahapan mengasosiasi, semoga bermanfaat.

Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta
Belajar Teknik Elektronika di STM Pembangunan Yogyakarta
Belajar menjadi pendidik di IKIP Yogyakarta
Dibakar semangat mentor Pak (Alm.) Mustaghfirin (Orientasi Mahasiswa Baru 1982)
Pernah belajar di Universitas Gadjahmada Yogyakarta
Pernah mengikuti Master Trainer Pedagogy Program 2012 kerjasama Kemdikbud dengan ITE Singapore ( semacam diklat guru kejuruan Standar ITE Singapore )
Mengikuti Diklat Instruktur Kurikulum 2013 s.d. Penyegaran 2018
Mengabdi untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.