Peminatan dan pengalaman peminatan saya (TRUE STORY)

peminatan

Pengertian minat dan peminatan

Peminatan tidak saya temukan dalam kamus Bahasa Indonesia. Peminatan berasal dari kata minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Minat juga diartikan sebagai gairah. Minat juga bisa berarti keinginan. Pengertian tentang minat ini bisa kita dapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia online http://kbbi.web.id/minat. Kata minat yang memperoleh imbuhan pe menjadi peminat yang berarti orang yg menaruh minat pd sesuatu. Namun peminatan tidak ditemukan dalam kamus Bahasa Indonesia tersebut. Begitulah faktanya.

Peminatan kemungkinan merupakan kata bentukan dari kata dasar minat yang mendapat pe yaitu pe + minat >>> peminat yang menurut kamus yang sama berarti “orang yang menaruh minat pada sesuatu”. Kemudian (mungkin – maaf hanya asumsi saya) dari kata ‘peminat’ diberi imbuhan di akhir kata menjadi ‘peminatan’ yang maksudnya proses menjadikan orang berminat ( aneh??)

Peminatan akhirnya saya maknai suatu proses yang dilakukan pihak eksternal untuk membuat seseorang berminat terhadap sesuatu. Peminatan memiliki konotasi sebagai usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak-pihak di luar diri siswa dengan maksud memberi ruang kepada siswa untuk menyukai sesuatu.

Peminatan menjadi topik penting pada proses pendidikan seseorang. Minat dan peminatan menjadi salah satu elemen penting yang ikut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar dan bahkan dalam karirnya. Pengaruh minat dan peminatan dapat anda buktikan sendiri menurut pengalaman yang anda miliki. Coba anda renungkan …

Peminatan dan pengalaman peminatan saya

Peminatan memang penting! Tetapi pengalaman pribadi peminatan saya apa juga penting? Mungkin itu muncul di benak anda. Apa urgensinya mengungkap pengalaman pribadi peminatan saya di sini? Bagi saya, posting peminatan dan pengalaman peminatan pribadi saya sangat berkaitan. Ya tentunya buat saya. O ya … begini alasan saya menuliskan peminatan dan pengalaman pribadi peminatan saya …

Tadi pagi, korwas mengajak saya menjadi tim pembicara terkait minat dan peminatan. Tapi akhirnya batal/dibatalkan (he he .. entahlah …). tidak masalah . Walaupun ‘dibatalkan’ menjadi tim pembicara minat dan peminatan tapi saya terlanjur ingat pengalaman pribadi minat dan peminatan saya. Ya itu terjadi sudah puluhan tahun, tapi saya masih ingat. Bahkan efek dari minat dan peminatan saya pada masa itu dan pengaruhnya dalam kehidupan yang saya lalui terkait minat dan peminatan sangat membekas. Jadi, berbicara soal minat dan peminatan saya punya bukti nyata yang original. Bukti nyata yang mengkorelasikan minat dan peminatan siswa dengan kesuksesasn hasil belajar. Kaya curhat ya … . Bukan curhat tetapi itu asli ‘true story’. Nanti saya ingin share kepada pembaca semua semoga bermanfaat untuk lingkungan kita.

Peminatan dan capaian hasil belajar (true story)

Peminatan dalam pendidikan perlu dipromosikan karena peminatan yang sesuai sangat membantu mencapai keberhasilan. Pada kesempatan ini izinkan saya menceritakan pengalaman sekitar peminatan pada proses belajar saya dulu. Walaupun ini pengalaman pribadi saya akan menceritakan dengan jujur apa adanya. Saya berharap cerita peminatan saya ini bisa menginspirasi siswa lulusan SMP agar bisa memilih minat dan peminatan nya dengan tepat. Selain itu saya juga berharap, cerita saya ini bisa menjadi ‘raw model’ tentang minat dan peminatan. Mungkin pengalaman anda juga.

Cerita sekitar peminatan yang mendorong pemilihan peminatan saya

Saya berasal dari keluarga sederhana. Bapak lulusan ST (bukan gelar ya..?) Sekolah Teknik. Setingkat SMP sedangkan simak (panggilan sayang kami untuk Ibu) hanyalah lulusan SD. Mulai tahun pelajaran 1974 – 1977 duduk di jenjang SMP.  Di SMP Negeri 6 Yogyakarta pada saat itu tersedia pelajaran keterampilan yang dapat kita pilih jenisnya. Ada bidang bahasa, bidang kesenian daerah (karawitan), seni lukis, olah raga, IPA dan mungkin masih ada yang lain lagi, tapi saya lupa. Mungkin keterampilan-keterampilan itu maksudnya mengenalkan peminatan nanti di jenjang SMA atau STM.

Di klas 1 saya merasa senang dan ingin bisa memainkan alat musik daerah (gamelan). Kebetulan saya juga suka mendengarkan cerita wayang kulit melalui radio RRI waktu itu. Jadi saya milih ikut keterampilan karawitan (gamelan). Karena banyak yang berminat sepanjang caturwulan saya tidak pernah kebagian kesempatan. Tiap minggu hanya menonton saja. Akhirnya di caturwulan berikutnya saya pilih yang lain yaitu seni lukis.

Di bidang seni lukis ini sempat belajar dasar-dasar menggambar. Tapi saya merasa gambaran atau lukisan saya tidak bagus. Saya tidak menemukan rasa senang di bidang itu. Alhasil … nihil. Saya tidak menemukan keterampilan yang membuat saya PeDe. Keterampilan yang ingin saya tekuni di hari depan. Saya tidak mengenal apa itu jurusan (istilah waktu itu) di tingkat SMA atau STM (sekarang SMK). Ya … saya tidak mengenal apa itu peminatan dari guru maupun BP di SMP. NOOOLLL.

Di rumah, ada keluarga jauh yang kost dan sedang kuliah. Saat itu sewaktu saya main dekat tempat beliau kost saya melihat beliau memegang sesuatu dan ditekan-tekan terus timbul bunyi lagu KoesPlus. Belakangan setelah belajar, saya baru tahu … ternyata beliau memainkan “tape recorder”. Saya heran … dan kagum … kok benda begitu … ditekan-tekan bisa mengeluarkan bunyi nyanyian Koesplus. Diam-diam saya merekam dalam ingatan. Tapi tetap belum tahu apa itu? Tapi saya ingin bisa seperti itu.

Di kampung juga ada teman. Umurnya sedikit lebih tua sekolahnya di ST. Ternyata dia bisa membuat radio. Dan bahkan membuat pemancar radio. Bisa menyiarkan musik, lagu-lagu seperti RRI yang saya kenal. Saya jadi terobsesi untuk bisa semua itu. Bisa membuat alat strom ikan (hehe dilarang ya) membuat amplifier, membuat radio, membuat tape recorder, membuat pemancar radio dan lain-lain. Kalau rusak bisa memperbaiki sendiri. Saya ingin jadi ahli di bidang elektronika. Saya merasa yakin sekali inilah minat dan peminatan saya.

Ketika tiba saatnya mendaftar ke jenjang SMA atau STM, saya di beri uang bapak Rp. 10.000,-. Pendaftaran saat itu perlu Rp. 2.000,- per sekolah. Saya pakai untuk mendaftar di 3 STM dan 2 SMA (kaya beli ontok). Rinciannya :

  • STM Negeri 1 Yogyakarta (3 tahun) jurusan Elektronika               (diterima)
  • STM Negeri 2 Yogyakarta (3 tahun) jurusan Elektronika              (diterima)
  • STM Pembangunan Yogyakarta (4 tahun) jurusan Elektronika   (diterima)
  • SMA Negeri 2 Yogyakarta jurusan IPA                                               (diterima)
  • SMA Negeri 4 Yogyakarta jurusan IPA                                               (tdk dilihat)

Akhirnya saya pilih STM Pembangunan Yogyakarta (4 tahun) di jurusan Elektronika Komunikasi karena waktu itu sangat populer dan terkenal lulusannya cepat kerja dan jenjangnya sedikit diatas STM 3 tahun.

Di STM pembangunan ini saya merasa senang sekali terlebih di jurusan yang memang saya minati Elektronika Komunikasi … ya sesuai minat dan peminatan saya. Tanpa ada suruhan guru atau siapa saya minta dibelikan buku elektronika kepada paman yang bekerja di Jakarta. Beliau memberi 3 buah buku elektronika yang langsung jadi buku bacaan saya. Tanpa disuruh guru juga saya mendaftar sebagai anggota perpustakaan daerah dan meminjam buku-buku terkait elektronika walaupun hanya bisa melihat gambar-gambarnya. Tanpa disuruh guru saya membuat dan merakit sendiri rangkaian-rangkaian elektronik dan belanja komponen sendiri. Sampai banyak hafal berapa harganya. Sayapun merakit sendiri pemancar radio untuk komunikasi. Wow … keren waktu itu. Callsign saya waktu itu YD2CNK.

Ok. Saya singkat saja ceritanya. Saya benar-benar menemukan minat dan peminatan saya karena kagum melihat benda elektronik di tetangga. Saya juga termotivasi dan terobsesi melihat keterampilan teman di kampung yang pinter elektronika. Guru-guru di SMP tidak pernah menjelaskan apa itu jurusan listrik, elektronika, mesin otomotif, bangunan, kimia, pemetaan dll. Tidak ada. Saya benar-benar termotivasi apa yang saya lihat di rumah tetangga (tape recorder itu) dan kemampuan teman di kampung.

Korelasi kesesuaian minat dan peminatan dengan prestasi belajar

Kesesuaian minat dan peminatan saya ternyata berkorelasi dengan capaian hasil belajar saya di STM pembangunan Yogyakarta tersebut. Sekali lagi cerita ini persis apa adanya tanpa maksud untuk menonjolkan diri sendiri atau ingin dipuji. Tidak ada artinya sekarang. Mungkin dulu iya … pingin dipuji teman cewek yang menarik hati saya … hehehe …

Minat dan peminatan saya yang kuat dalam bidang elektronika ternyata mendorong saya untuk belajar dengan rajin dan ingin meraih hasil optimal khususnya keahlian elektronika. Sepanjang tahun mendapatkan beasiswa yang saya belanjakan untuk membeli peralatan elektronika solder, multi meter, komponen-komponen.

Alhamdulillah … di akhir pendidikan saya mendapatkan nilai terbaik. Peringkat 1 di kelas elektronika itu di tahun 1982. Bonus tambahannya adalah saya diterima sebagai mahasiswa di IKIP Negeri Karangmalang Yogyakarta yang sekarang Universitas Negeri Yogyakarta TANPA TES atau istilah waktu itu jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Ya tentu saja saya gembira dan mungkin besar kepala untuk beberapa waktu.

Kesesuaian minat dan peminatan saya menghasilkan capaian belajar dan kompetensi yang terbilang lumayan. Pada tahun 1992, tahun ke empat saya bertugas sebagai guru di STM Negeri Banjarmasin, saya berhasil menjuarai Lomba Kompetensi antar Teknisi di Kalimantan Selatan. Ya … juara 1 Tingkat propinsi Kalimantan Selatan dan diterbangkan ke Jakarta mengikuti Lomba Kompetensi di Tingkat Nasional. Di tingkat Nasional mendapatkan peringkat ke 5 … ya Juara Harapan II begitu sebutannya dan diberikan Piagam Penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja pada waktu itu.

peminatan
peminatan

Ok … rasanya cukup beralasan kalau saya menyebutkan bahwa kesesuaian minat dan peminatan saya berkorelasi dengan prestasi/capaian belajar. Dalam konteks ini saya tidak punya dasar keilmuan untuk memberikan analisis bahwa minat dan peminatan yang sesuai memberi dorongan yang kuat untuk belajar. Buah yang dapat dipetik ternyata juga berkorelasi dengan capaian belajar tersebut. Rasanya cukuplah cerita minat dan peminatan saya. Inilah kenang-kenangan Piagam penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia di kala itu.

Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta
Belajar Teknik Elektronika di STM Pembangunan Yogyakarta
Belajar menjadi pendidik di IKIP Yogyakarta
Dibakar semangat mentor Pak (Alm.) Mustaghfirin (Orientasi Mahasiswa Baru 1982)
Pernah belajar di Universitas Gadjahmada Yogyakarta
Pernah mengikuti Master Trainer Pedagogy Program 2012 kerjasama Kemdikbud dengan ITE Singapore ( semacam diklat guru kejuruan Standar ITE Singapore )
Mengikuti Diklat Instruktur Kurikulum 2013 s.d. Penyegaran 2018
Mengabdi untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia.

2 thoughts on “Peminatan dan pengalaman peminatan saya (TRUE STORY)”

  1. Inspiratif sekali. Terkadang ada orangtua yang mendorong anaknya untuk mengambil disiplin ilmu sesuai minat/kehendak”nya” (“nya” disini maksudnya adalah si orangtua itu sendiri, bukan si anak) padahal si anak bahkan tidak berminat thd disiplin ilmu yg “dipaksakan” oleh si orangtua tsb., karena memang potensinya bukan disitu. Awareness ttg multiple inteligence memang blm sepenuhnya dimiliki oleh semua orangtua dan bahkan (mungkin) kita yg berkecimpung dlm dunia pendidikan ini (maaf, tudingan ini terutama tertuju pd diri sy sendiri … hehehe). Akibatnya tujuan pendidikan dan pembelajaran untuk menumbuhkembangkan dan mengoptimalkan potensi diri anak, yang sangat berbeda antara satu dan lsinnya, belum atau tidak sepenuhnya tercapai.
    Selamat pak Endarta. Berjuang terus untuk kemajuan pendidikan di tanah air tercinta ini.

    1. Terima kasih pak Edy Purwanto … wah ternyata bapak sempat menelisik coretan ulun … iya tulisan di atas ‘sangat asli’ dan betul-betul true story .. di masa itu ulun dan mungkin orang tua kita ‘kayaknya’ buta tentang multiple intelegence awareness. Bukan ‘meremehkan atau merendahkan’ orang tua kita tapi .. masa itu memang masih masa perjuangan bagi masyarakat Indonesia. ‘Literasi’ pun masih sebatas bisa baca, tulis dan berhitung. Ulun sangat berterima kasih kepada orang tua kita yang mendorong dan memberi kemudahan kita belajar di tempat yang kita sukai. Walaupun beliau berdua tidak bisa mengarahkan secara teknis tapi memberi support yang luar biasa, tidak takut kerja keras untuk kita.
      Mudah-mudahan orang tua di jaman digital ini mau belajar memakai alat digital canggihnya untuk mengenal multiple intelegence sehingga dapat mengarahkan putra-putrinya dengan benar dan sadar untuk memberi support membantu pengembangannya. Hari ini tadi ulun dari pasar ketemu mantan siswa yang cerita ‘kekurangan kemampuan’ siswa padahal … bulan depan ini mau Uji Kompetensi … hehe … kayaknya ini masih menjadi PR ulun kemudian … Thankyou so much .. you have visit my blog .. eventhough still simple one but i proud google search engine give my post with a snippet on … mengamati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.