Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

indikator pencapaian kompetensi ipk

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK komponen RPP yang krusial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjamin akurasi pembelajaran. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK harus dirumuskan dengan kata kerja operasional KKO yang tepat. 

Indikator artinya penunjuk atau tanda-tanda yang tampak, pencapaian artinya telah dikuasai , kompetensi artinya kemampuan melakukan sesuatu. Jadi, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK ialah tanda-tanda yang (seharusnya) tampak pada seseorang yang telah menguasai suatu kemampuan melakukan sesuatu

Pengertian Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah komponen RPP esensial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjadi penanda bahwa kompetensi yang dipelajari sudah dikuasai. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang spesifik dapat diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan rumusan kemampuan yang harus dilakukan atau ditampilkan oleh siswa untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar (KD).

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b dinyatakan bahwa indikator pencapaian kompetensi adalah:
a. kemampuan yang dapat diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan
b. kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4

Merujuk pada definisi di atas, semakin jelas bahwa indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan tolok ukur ketercapaian suatu KD. Oleh karena itu maka indikator pencapaian kompetensi juga menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

indikator pencapaian kompetensi ipk
indikator pencapaian kompetensi ipk

Fungsi Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, seperti disinggung di atas, menjadi tolok ukur ketercapaian suatu kompetensi dasar.  Indikator Pencapaian Kompetensi menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam unit-unit kompetensi yang lebih rinci (kecil). Ketika peserta didik sudah mampu melakukan seluruh / semua unit kompetensi yang lebih rinci ini, peserta didik berarti telah menguasai kompetensi dasar yang dipelajari. Dengan kata lain dapat dinyatakan unit kompetensi yang lebih rinci ini merupakan sub kompetensi dasar. Penguasaan peserta didik terhadap sub kompetensi dasar keberhasilannya diindikasikan oleh Indikator Pencapaian Kompetensi IPK. Di sinilah maksud dari fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur keberhasilan penguasaan kompetensi dasar.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, selain berfungsi sebagai penanda dikuasainya sebuah kompetensi dasar juga berfungsi sebagai acuan penentuan tujuan pembelajaran. Setiap indikator pencapaian kompetensi yang kita nyatakan sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar sudah tentu terdiri dari sejumlah pengetahuan dan sejumlah elemen keterampilan penyusun. Ketika peserta didik sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan elementer masing-masing indikator pencapaian kompetensi maka dapat diharapkan peserta didik mampu menunjukkan performa telah memiliki indikator pencapaian kompetensi.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, juga berfungsi sebagai acuan penentuan materi pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar. Ketika kita sudah mengidentifikasi indikator-indikator pencapaian kompetensi dari suatu kompetensi dasar (KD) maka otomatis tersirat juga di sana materi-materi pembelajaran yang seharusnya dikuasai peserta didik.

Fungsi indikator pencapaian kompetensi selanjutnya ialah sebagai acuan penyusunan instrumen penilaian pembelajaran atau dalam pembuatan soal-soal evaluasi. Mengapa soal-soal evaluasi harus mengacu pada indikator pencapaian kompetensi? Jawabannya … baru saja kita diskusikan di 3 paragraf di atas. Indikator pencapaian kompetensi adalah tolok ukur tercapainya kompetensi dasar oleh peserta didik. Jadi, jelas sekali, ketika soal-soal evaluasi sudah dibuat mengacu pada indikator pencapaian kompetensi (yang esensial) dan peserta didik mampu mengerjakannya dengan benar maka peserta didik yang bersangkutan sudah menguasai kompetensi dasar.

Sebuah kompetensi dasar atau KD boleh jadi mempunyai beberapa sub kompetensi yang merupakan unsur-unsur kompetensi dasar. Unit kompetensi inilah yang seharusnya diidentifikasi dengan cermat oleh guru pada proses perencanaan pembelajaran yaitu analisis materi pembelajaran. Sebaiknya proses identifikasi indikator pencapaian kompetensi dilakukan dengan teliti sehingga kita dapatkan unit kompetensi unsur esensial dari setiap kompetensi dasar.

Secara normatif, membuat indikator pencapaian kompetensi itu relatif mudah, namun menemukan indikator pencapaian kompetensi yang esensial bagi kompetensi dasar tersebut perlu pemikiran. Keberhasilan identifikasi unit kompetensi unsur yang esensial ini diindikasikan dengan indikator pencapaian kompetensi IPK. Karena itu indikator pencapaian kompetensi secara otomatis berfungsi sebagai pengarah bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan.

Rekan-rekan tentunya pernah membaca sendiri atau bahkan mengalami sendiri penerapan prinsip-prinsip berikut:

  • belajar dari hal yang mudah menuju yang lebih sulit.
  • belajar dari yang nyata menuju yang abstrak (tidak nyata)
  • belajar dengan memperhatikan struktur keilmuan

Mengingat prinsip-prinsip dasar tersebut maka dalam proses analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK perlu disusun dengan memperhatikan prinsip di atas. Untuk itu, pada saat analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK disusun urutannya dengan memperhatikan prinsip dasar di atas. Jika hal ini kita lakukan maka otomatis proses pembelajaran yang kita lakukan juga mengikuti urutan yang kita buat. Dan hasilnya adalah benar-benar Indikator Pencapaian Kompetensi IPK berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK merupakan penanda perilaku pengetahuan (KD dari KI-3) dan perilaku keterampilan (KD dari KI-4) yang dapat diukur dan atau diobservasi sedangkan perilaku sikap spiritual dari KI-1 dan sikap sosial dari KI-2 tidak diturunkan ke dalam KD dan juga tidak memiliki indikator pencapaian kompetensi IPK pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP, tetapi perilaku sikap spiritual dan sikap sosial harus dikaitkan pada perumusan tujuan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK memerlukan pengetahuan guru tentang kompetensi dasar. Pada kurikulum 2013 kompetensi dasar ada dalam  3 ranah, yaitu kompetensi dasar pengetahuan, kompetensi dasar keterampilan dan kompetensi dasar sikap spiritual dan sosial. Guru yang tidak menguasai kompetensi profesionalnya dengan baik mustahil dapat mengembangkan indikator pencapaian kompetensi ipk.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK juga memerlukan pengetahuan guru tentang taxonomi beserta kata kerja operasional (KKO) yang sesuai untuk digunakan. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah menentukan sub kompetensi tertentu sesuai kompetensi dasar yang DAPAT MEWAKILI sejumlah kompetensi-kompetensi rinci/detail. Karena itu dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi kita tidak dapat asal pilih kata kerja operasional begitu saja. Penting bagi kita untuk melakukan kroscek apakah kata kerja operasional yang kita pilih dapat mewakili beberapa kompetensi rinci. Apabila sebuah kata kerja operasional (KKO) dapat mewakili beberapa kata kerja operasional detail atau spesifik maka kata kerja operasional tersebut dapat dipastikan sebagai kata kerja operasional indikator pencapaian kompetensi ipk.

Rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menggunakan dimensi proses kognitif (dari memahami sampai dengan mengevaluasi dan dimungkinkan sampai kreasi untuk kelas XII jika ketercapaian hasil belajar siswa di atas rata-rata) dan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif) yang sesuai dengan KD, namun tidak menutup kemungkinan perumusan indikator dimulai dari serendah-rendahnya C2 sampai setara dengan KD hasil analisis dan rekomendasi. 

Tabel Hubungan Dimensi Proses Kognitif dan Bentuk Pengetahuan

No

Perkembangan Berfikir Taksonomi Bloom Rivised Anderson (Cognitive Process Dimension)
Bentuk Pengetahuan (Knowledge Dimension)
Keterangan
1.
Mengingat (C1) Pengetahuan Faktual Lower Order Thinking Skills (LOT’s)
2.
Menginterprestasi prinsip (Memahami/C2) Pengetahuan Konseptual
3.
Menerapkan (C3) Pengetahuan prosedural
4.
Menganalisis (C4) Mengevaluasi (C5) dan Mengkreasi(C6) Pengetahuan Metakognitif Higher Order Thinking Skills (HOT’s)

Tabel di atas menunjukkan pada kita bahwa Dimensi Proses Kognitif berkaitan dengan Dimensi Pengetahuan dan sudah pasti membawa dampak perolehan belajar. Sebagai contoh, dimensi proses Mengingat pada level C1 akan berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan faktual. Pada level C2 yaitu memahami, dimensi pengetahuannya adalah pengetahuan tentang konsep-konsep, dan seterusnya. Semua ini akan mengarahkan kita pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK.

Kata Kerja Operasional pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dikembangkan berdasar pada kompetensi dasar menggunakan kata kerja operasional (KKO). Pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dimensi proses kognitif jenjang SMA dan SMK dimulai dari memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Pada setiap tingkatan atau dimensi proses ini dapat digunakan kata kerja yang semakna dengan kata kerja pada tingkatan dimensi proses kognitif (KKO). Kata-kata kerja yang merepresentasikan tingkatan atau dimensi proses kognitif ini cukup variatif. Kata-kata kerja ini disebut dengan Kata Kerja Operasional. Kata kerja operasional ialah kata kerja yang menunjukkan satu kegiatan tertentu yang dapat diukur atau diobservasi.

Berikut ini adalah Kata Kerja Operasional dari Taxonomi Bloom olahan Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001)

Sumber: http://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf

Langkah-langkah merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • tentukan kedudukan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 berdasarkan gradasinya dan tuntutan KI;
  • tentukan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, metakognitif);
  • tentukan bentuk keterampilan, apakah keterampilan abstrak atau keterampilan konkret;
  • untuk keterampilan kongkret pada kelas X menggunakan kata kerja operasional sampai tingkat membiasakan/manipulasi. Sedangkan untuk kelas XI minimai sampai pada tingkat mahir/presisi. Selanjutnya untuk kelas XII minimal sampai pada tingkat ‘menjadi gerakan mahir/presisihingga alami/artikulasi serta kelas XIII orisinal/naturalisasi pada taksonomi psikomotor Simpson atau Dave, dan
  • rumusan IPK pada setiap KD dari KI-3 dan pada KD dari KI-4 minimal memiliki 2 (dua) indikator.

Contoh Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dari suatu kompetensi dasar harus diidentifikasi dengan benar. Sebelum merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK terlebih dahulu kita lakukan analisis SKL KI KD. Berdasarkan analisis ini barulah kita dapat melakukan analisis mengidentifikasi indikator pencapaian kompetensi tersebut.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan

Dari kolom 3 kita dapatkan tingkat dimensi kognitif dari KD 3.1 Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA adalah Menerapkan (C3) dari taksonomi Bloom olahan Anderson. Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan dirumuskan menggunakan kata kerja operasional (KKO) pada tingkatan C3 (menerapkan) seperti : mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan dll.

Masih dari kolom 3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA … adalah bentuk / dimensi pengetahuan prosedural. Berdasar pada konteks ini, maka kata kerja operasional yang sesuai konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA yang berisi pengetahuan-pengetahuan prosedural adalah mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan. 

Contoh indikator pencapaian kompetensi yang sesuai untuk dirumuskan dalam konteks ini antara lain :

  1. mengidentifikasi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  2. mengidentifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  3. mengidentifikasi prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  4. mengklasifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  5. mengurutkan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Keterampilan

Dari kolom 5 kita dapatkan bentuk taksonomi KD 4.1 adalah keterampilan kongkret pada level Manipulasi (P2) dari taksonomi Simpson. Kata Kerja Operasional yang relefan …. ah… sudah jam 00.05 … besok lagikita lanjutkan …

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK  adalah kemampuan-kemampuan yang dapat diukur/diobservasi  sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4 ( Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b )

Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Perhatikan contoh tujuan pembelajaran berikut : “Setelah berdiskusi dan menggali informasi peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan audio universal dengan percaya diri”. Tujuan pembelajaran ini dicapai melalui proses berdiskusi dan menggali informasi dan hasil belajar nya berupa kemampuan menjelaskanMenjelaskan merupakan kata kerja operasional yang dapat di ukur dan merupakan kemampuan Cognitive level 2 (C2). Lihat tabel di atas.

Persamaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

  1. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar (KD);
  2. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur atau diobservasi ketercapaiannya.

Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran memang berbeda. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK itu menjadi penanda apakah suatu kompetensi dasar telah dikuasai siswa. Dalam hal ini indikator pencapaian kompetensi jika telah dipenuhi  maka siswa telah memiliki satu bagian kompetensi dasar (KD). Dengan kata lain dapat saya katakan, jika kompetensi secara penuh adalah Kompetensi Dasar, maka kompetensi yang kemampuannya ditunjukkan indikator pencapaian kompetensi adalah sub kompetensi dasar atau bagian dari kompetensi dasar. Karena itu … pada saat kita memilih Kata Kerja Operasional untuk membuat Indikator Pencapaian Kompetensi … pertimbangkan dan cek kembali … benarkah indikator pencapaian kompetensi yang rekan-rekan buat dengan kata kerja operasional yang rekan-rekan pilih itu … merupakan sub kompetensi dari KD?

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa atau peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Proses atau hasil belajar siswa ini bersifat spesifik (satu tingkah laku spesifik). Ingatlah dengan panduan pengembangan tujuan pembelajaran yang dapat di singkat dengan ABCDS yang maksudnya:

A = audience dalam hal ini siswa atau peserta didik

B = behaviour yaitu tingkah laku yang diharapkan

C = Criteria ialah kondisi yang harus disediakan

D = Degree yaitu tingkatan tingkah laku yang dilakukan dan

S = single behaviour yaitu satu tingkah laku spesifik.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa indikator pencapaian kompetensi ipk dan tujuan pembelajaran memang berbeda.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP. Mungkin Anda bertanya-tanya … mengapa indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam RPP. Pada saat membuat persiapan proses pembelajaran indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran harus kita susun dengan cermat. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut harus kita lakukan.

Indikator Pencapaian Kompetensi seperti disinggung di atas, adalah sub kompetensi dasar atau bagian yang lebih kecil dari kompetensi dasar. Jadi, indikator pencapaian kompetensi itu, adalah kompetensi-kompetensi pokok yang menandai seorang siswa menguasai kompetensi yang lebih luas cakupannya. Secara alamiah, kita, lebih mudah belajar secara berjenjang dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang kasat mata menuju yang bersifat abstrak, dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Bukankah umumnya kita seperti itu? Jadi penting bagi kita menyusun dan mengurutkan indikator pencapaian kompetensi berdasarkan gradasi kesulitannya.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran juga dilakukan berdasarkan pada struktur atau susunan yang logis secara keilmuannya. Hal ini cukup jelas kiranya. Suatu kompetensi dapat dikuasai siswa karena berlatih sedikit demi sedikit menerapkan ilmu-ilmu dasar yang sudah dikuasai sebelumnya. Ada bahan ajar yang perlu dikuasai lebih dulu sebelum ia mempelajari kompetensi terapan ilmu dasar tersebut. Karena itu, penyusunan urutan indikator pencapaian kompetensi perlu memperhatikan struktur keilmuan yang bersangkutan.

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Matematika

 

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

Analisis KD

Mata Pelajaran: Matematika

Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas … Direkomendasikan KD 3.3 dinaikkan ke tingkat C4 (menganalisis)

Jadi kata kerja operasional (KKO) yang dipakai untuk membuat IPK diambil dari KKO tingkat (C4) menganalisis khususnya ketika kita nanti membuat instrumen untuk mengukur kompetensi siswa lulus / belum lulus pada KD 3.3 tersebut. Untuk penilaian proses (dalam proses pembelajaran) BOLEH menggunakan IPK dengan KKO setingkat C2 , C3 atau C4

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

3.3.1 Mendefinisikan pengertian relasi (C2 –> boleh)
3.3.2 Menyatakan suatu relasi yang terkait dalam kehidupan sehari-hari (C2 -> boleh)
3.3.3 Membuat bentuk penyajian relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.4 Mendefinisikan pengertian fungsi (C2 -> boleh)
3.3.5 Membedakan antara fungsi dan bukan fungsi (C2 -> boleh)
3.3.6 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah, dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.7 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi. (lebih cocok IPK KD keterampilan)

Saya menyarankan agar dibuatkan IPK pada level C3 (menerapkan) sebagai jembatan proses mencapai C4 (menganalisis)

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

4.3.1 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.2 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.3 Menentukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

Saran saya :

4.3.1 Membuat penyelesaikan masalah relasi dengan representasi berbentuk tabel

4.3.2 Membuat penyelesaikan masalah fungsi dengan representasi menggunakan himpunan pasangan berurutan

Dan seterusnya …. bagaimana menurut bp/ibu Yusni …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Fisika

Jawaban pertanyaan / comment dari pak Rizki Nailulauthor ….

KD >> menerapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan fluida
KD >> memecahkan masalah dalam teknologi dan rekayasa yang berkaitan pada hukum-hukum fluida.

sudah diperbaiki / direvisi menjadi sbb:

3.8 Menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis

4.8 Melakukan percobaan sederhana yang berkaitan dengan hukum-hukum fluida statis dan dinamis

Dalam konteks menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis terdapat hukum-hukum dan beberapa pengertian yang penting (esensial) seperti ….

  1. Fluida Statis dan Tekanan Hidrostatis
  2. Gaya Archimedes
  3. Benda Mengapung, melayang dan tenggelam
  4. Hukum Pascal
  5. Pompa Hidrolik
  6. Hubungan Hukum Pascal dan Tekanan Hidrostatis
  7. Tegangan Permukaan
  8. Viskositas dan Hukum Stokes
  9. Hukum Kontinuitas dan Hukum Bernouli
  10. Penerapan Hukum Bernouli

Menerapkan termasuk dimensi C3 sehingga kata kerja operasional (KKO) yang seharusnya digunakan sebagai IPK (kunci/utama) antara lain :

A. Merujuk KKO Panduan Penilaian SMK 2018

mendemonstrasikan
memperagakan
menuliskan penjelasan
membuatkan penafsiran
mengoperasikan
mempraktikkan
merancang persiapan
menyusun jadwal
membuat sketsa
menyelesaikan masalah
menggunakan

Pilih kata kerja operasional pada daftar di atas YANG SESUAI dengan hukum-hukum dan materi esensial ….

Contoh IPK KD pengetahuan terkait hukum Archimedes :

  1. menuliskan penjelasan fluida statis > C3
  2. menuliskan penjelasan fluida dinamis > C3
  3. membuat sketsa penerapan hukum Archimedes > C3
  4. menghitung gaya apung benda yang dicelup ke dalam air > C3 (menghitung … KKO Puspendik)

Contoh IPK KD keterampilan terkait hukum Archimedes :

  1. mendemonstrasikan percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)
  2. memodifikasi percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)

Indikator soal evaluasi seyogyanya dibuat setelah Indikator Pencapaian Kompetensi ditentukan dengan lengkap dan akurat. Soal evaluasi untuk mengukur ketercapaian pemahaman dalam proses pembelajaran dapat menggunakan C1, C2 tetapi untuk mengukur penguasaan KD tersebut seyogyanya menggunakan Indikator Pencapaian Kompetensi setara KD (C3)

Demikian menurut hemat saya pak Rizki …. silahkan didiskusikan …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Administrasi Perkantoran / Kearsipan

KD 3.3 Menerapkan prosedur penggunaan alat kearsipan
KD 4,3 Menggunakan peralatan kearsipan

KD 3.3 adalah C3 dan prosedur penggunaan alat kearsipan adalah pengetahuan prosedural

Alat kearsipan ada bermacam-macam seperti Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index dll.

IPK KD 3.3 dibuat menggunakan KKO C3 … tapi untuk membantu … boleh dibuat mulai dari C2 …

Lihat daftar KKO di atas (pada jawaban pak Rizki) … pilih dan gunakan yang bisa diterapkan untuk ranah pengetahuan …. Contoh ….

  1. menuliskan penjelasan bentuk, bahan, fungsi dan manfaat peralatan kearsipan (C3)
  2. menuliskan penjelasan urutan langkah kerja menggunakan filing cabinet (C3) … bisa dituliskan satu per satu tiap jenis peralatan
  3. merancang persiapan penggunaan Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index

KD 4.3 adalah keterampilan kongkrit … P2

IPK KD 4.3 dibuat menggunakan KKO dari taksonomi Simson / Dave level P2 …

  1. membuat guide arsip
  2. memperagakan penggunaan folder
  3. membuat label arsip
  4. membuat kartu indeks
  5. melaksanakan penempatan kartu indeks pada laci kartu indeks

Kurang lebih seperti itu pak Siagian …

Maaf saya bukan ahlinya Kearsipan … mungkin ada yang tidak pas … silahkan didiskusikan …

 

Demikianlah diskusi pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK … semoga berguna …

Tujuan Pembelajaran

tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran merupakan komponen RPP. Tujuan Pembelajaran RPP K2013 meliputi tujuan pembelajaran KD pengetahuan dan tujuan pembelajaran KD keterampilan. Pada RPP mata pelajaran PA BP dan PKn tujuan pembelajaran KD sikap spiritual dan tujuan pembelajaran KD sikap sosial juga perlu dinyatakan secara eksplisit.

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran pada sebuah RPP menjadi ‘kompas’ kompetensi apa saja yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran membimbing kita mengembangkan kegiatan dan aktifitas yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, perumusan tujuan pembelajaran harus dilakukan dengan cermat dan tidak asal asalan.

Pengertian Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran bagian penting RPP. Tujuan pembelajaran menyatakan tujuan dilakukannya pembelajaran. Tujuan Pembelajaran adalah pernyataan tentang tingkah laku apa yang harus dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran umumnya merujuk kepada kompetensi sasaran yang akan dipelajari. Mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah sesuatu yang rumit karena faktanya pendidik menggunakan berbagai istilah yang berbeda. Pada masa yang lalu, tujuan dari suatu pembelajaran dikenal dengan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Dewasa ini dalam kamus pendidikan di Indonesia istilah yang digunakan tujuan pembelajaran.

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran perlu dinyatakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran RPP agar memberi panduan kepada guru dan siswa dalam proses belajar. Mengetahui tujuan pembelajaran memberi kontrol kepada guru dan siswa sehingga proses belajar mengarah pada kompetensi yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pernyataan tujuan pembelajaran perlu dikembangkan dengan cermat.

Tujuan pembelajaran pada dasarnya adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan tujuan pendidikan yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan  bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

tujuan pembelajaran
Keterkaitan kompetensi SKL, Kompetensi Inti (KI), Mata Pelajaran dan Kompetensi Dasar (KD)

 

Tujuan pembelajaran dalam skala makro dewasa ini kita kenal dengan Standar Kompetensi Lulusan yang dirumuskan dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar Kompetensi Lulusan ini selanjutnya dikelompokkan menjadi 4 (empat) kompetensi inti di setiap jenjang pendidikan. Kompetensi Inti selanjutnya diimplementasikan ke dalam setiap mata pelajaran pada setiap jenjang dan menjadi dasar pengembangan materi pembelajaran pada mata pelajaran. Sebagai perwujudan akhir maka di setiap mata pelajaran kita kenal kompetensi dasar yang dapat terdiri atas KD Sikap Spiritual, KD Sikap Sosial, KD Pengetahuan dan KD Keterampilan.

Kompetensi-kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa di turunkan dari setiap kompetensi dasar di dalam masing-masing mata pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah unit kompetensi terkecil yang harus dikuasai siswa dalam rangka mencapai Standar Kompetensi Lulusan.

Fungsi Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran seharusnya tercantum dalam setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP yang wajib dibuat oleh setiap guru di setiap mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Rumusan Tujuan pembelajaran ini berfungsi sebagai pemandu arah / pengarah jalannya pembelajaran dalam rangka menguasai suatu kompetensi. Tujuan pembelajaran pada ranah sikap mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar sikap, tujuan pembelajaran pada ranah pengetahuan mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar pengetahuan dan tujuan pembelajaran pada ranah keterampilan mengarahkan proses belajar menguasai kompetensi dasar keterampilan. Inilah fungsi penting tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran menentukan materi pembelajaran. Inilah sebabnya tujuan pembelajaran miliki fungsi yang sangat strategis dalam pembelajaran. Kita bisa mengatakan tujuan pembelajaran memiliki keterkaitan dengan materi pembelajaran, evaluasi proses pembelajaran, strategi pembelajaran.

Tingkatan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar yang ingin dicapai dirumuskan dalam tiga kelompok ranah taksonomi meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Klasifikasi perilaku hasil belajar atau tujuan pembelajaran yang digunakan pada Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

Tujuan Pembelajaran Ranah Sikap

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah sikap dalam Kurikulum 2013 menggunakan olahan Krathwohl, dimana pembentukan sikap peserta didik ditata secara hirarkhis mulai dari menerima (accepting), merespon/menanggapi(responding), menghargai (valuing), menghayati (organizing/internalizing), dan mengamalkan (characterizing/actualizing). Berdasar taxonomi olahan Krathwohl, tujuan pembelajaran dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan menerima (accepting),
  • Tingkatan merespon/menanggapi(responding),
  • Tingkatan menghargai (valuing),
  • Tingkatan menghayati (organizing/internalizing), dan
  • Tingkatan mengamalkan (characterizing/actualizing)
Tujuan Pembelajaran Ranah Pengetahuan

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah pengetahuan pada Kurikulum 2013 menggunakan taksonomi Bloom olahan Anderson, dimana perkembangan kemampuan mental intelektual peserta didik dimulai dari C1 yakni:(1) mengingat (remember), peserta didik mengingat kembali pengetahuan dari memorinya; (2) C2 yakni memahami (understand), merupakan kemampuan mengonstruksi makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan, tulisan maupun grafik; (3) C3 yakni menerapkan (apply); merupakan penggunaan prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi baru;(4) C4 yakni menganalisis (analyse); merupakan penguraian materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur;(5) C5 yakni mengevaluasi (evaluate); merupakan kemampuan membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar;dan (6) C6 yakni mengkreasi (create); merupakan kemampuan menempatkan elemen-elemen secara bersamaan ke dalam bentuk modifikasi atau mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam pola baru (struktur baru).

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Berdasar taxonomi Bloom olahan Krathwohl, tujuan pembelajaran ranah pengetahuan dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan (1) C1 yakni mengingat (remember),
  • Tingkatan (2) C2 yakni memahami (understand),
  • Tingkatan (3) C3 yakni menerapkan (apply);
  • Tingkatan (4) C4 yakni menganalisis (analyse);
  • Tingkatan (5) C5 yakni mengevaluasi (evaluate);
  • Tingkatan (6) C6 yakni mengkreasi (create);
Tujuan Pembelajaran Ranah Keterampilan

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah keterampilan pada Kurikulum 2013 yang mengarah pada pembentukan keterampilan abstrak menggunakan gradasi dari Dyers yang ditata sebagai berikut: (1) mengamati (observing);(2) menanya (questioning);(3) mencoba (experimenting);(4) menalar (associating); (5) menyaji (communicating); dan (6) mencipta (creating). Berdasar taxonomi olahan Dyers, tujuan pembelajaran ranah keterampilan dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

Tujuan Pembelajaran atau hasil belajar ranah keterampilan yang mengarah pada pembentukan keterampilan kongkret. Taksonomi menggunakan gradasi olahan Simpson dengan tingkatan: persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi gerakan alami, dan menjadi gerakan orisinal. Berdasar taxonomi olahan Simpson, tujuan pembelajaran ranah keterampilan kongkrit dapat dibuat bertingkat-tingkat yaitu :

  • Tingkatan (1) persepsi, kesiapan, meniru,
  • Tingkatan (2) membiasakan gerakan,
  • Tingkatan (3) mahir,
  • Tingkatan (4) menjadi gerakan alami,
  • Tingkatan (5) menjadi gerakan orisinal
Perumusan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran pada Kurikulum 2013 pada dasarnya sama dengan rumusan tujuan pada umumnya. Mengingat terdapat perubahan yang signifikan pada prinsip pembelajaran maka rumusan tujuan perlu mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran kurikulum 2013.

Setelah membuat Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dari setiap KD dilanjutkan dengan membuat rumusan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan jabaran lebih rinci dari indikator (IPK). Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dari KI pengetahuan dan KD dari KI keterampilan dengan mengaitkan dimensi sikap yang akan dikembangkan. Perumusannya menggunakan Kata Kerja Operasional  (KKO) yang dapat diamati dan atau diukur, mencakup ranah sikap, ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan.

Rumusan tujuan pembelajaran mengandung komponen Audience, Behaviour, Condition dan Degree (ABCD), yaitu:

  1. Audience adalah peserta didik;
  2. Behaviour merupakan perubahan perilaku peserta didik yang diharapkan dicapai setelah mengikuti pembelajaran;
  3. Condition adalah prasyarat dan kondisi yang harus disediakan agar tujuan pembelajaran tercapai, dan
  4. Degree adalah ukuran tingkat atau level kemampuan yang harus dicapai peserta didik mencakup aspek afektif dan attitude.
Contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 3 Pengetahuan :

Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dengan percaya diri

Penjelasan contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 3 Pengetahuan:

  • komponen audience (A) adalah peserta didik
  • kompoen behavior (B) adalah dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio
  • komponen condition (C) adalah Melalui berdiskusi dan menggali informasi
  • komponen degree (D) adalah dengan percaya diri
Contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 4 Keterampilan :

Disediakan cairan pelarut pcb (ferriclorida) dan peralatan tangan peserta didik dapat membuat papan rangkaian tercetak (PRT) penguat depan universal dengan teliti

Penjelasan contoh tujuan pembelajaran pada KD dari KI 4 Keterampilan :

  • komponen audience (A) adalah peserta didik
  • kompoen behavior (B) adalah dapat membuat papan rangkaian tercetak (PRT) penguat depan universal
  • komponen condition (C) adalah disediakan cairan pelarut pcb (ferriclorida) dan peralatan tangan
  • komponen degree (D) adalah dengan teliti

Berikut adalah contoh analisis yang menghasilkan tujuan pembelajaran,

tujuan pembelajaran
tujuan pembelajaran

Tujuan Pembelajaran dan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Tujuan Pembelajaran erat sekali kaitannya dengan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK. Pada uraian di atas telah disebutkan bahwa Tujuan Pembelajaran adalah pernyataan tentang tingkah laku yang harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah perilaku-perilaku siswa yang bisa diukur/diamati yang menjadi penanda bahwa kompetensi yang dipelajari sudah dikuasai siswa. Prilaku siswa dalam konteks ini umumnya adalah sub kompetensi kunci dari kompetensi dasar. Sub kompetensi kunci sebagai indikator ini dapat terdiri atas beberapa prilaku siswa baik ranah pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Jadi kata kerja operasional yang digunakan pada perumusan indikator pencapaian kompetensi mewakili suatu kinerja siswa dalam kompetensi dasar tersebut.

Ilustrasi di atas menunjukkan contoh kedudukan kompetensi dasar – indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Ilustrasi tersebut menjelaskan kedudukan kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran pada mata pelajaran  Perekayasaan Audio. Untuk lebih jelasnya dapat saya beri narasi sebagai berikut:

  • Kompetensi dasar “Menganalisis rangkaian penguat depan audioterdiri atas beberapa sub kompetensi kunci. Seorang siswa dapat dikatakan menguasai kompetensi “menganalisis rangkaian penguat depan audio” jika siswa menguasai kompetensi-kompetensi kunci dan salah satu kompetensi kuncinya adalah bisa “menjelaskan”
  • Kompetensi kunci “menjelaskan rangkaian penguat depan audio” terdiri atas pengetahuan terhadap fakta-fakta, konsep-konsep maupun proses. Inilah yang kemudian dapat menjadi prilaku-prilaku dalam tujuan pembelajaran.

Dengan ilustrasi dan penjelasan di atas cukup jelas kiranya kaitan antara tujuan pembelajaran dengan indikator pencapaian kompetensi IPK. Diskusi terkait indikator pencapaian kompetensi IPK dapat diikuti pada tautan indikator pencapaian kompetensi IPK

Contoh-contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran

Berdasarkan contoh IPK dari mata pelajaran Perekayasaan Audio tersebut di atas, maka rumusan tujuan pembelajarannya yaitu:

  1. Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dengan percaya diri
  2. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal dengan percaya diri
  3. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan bagian rangkaian dc pada penguat depan universal audio dengan percaya diri
  4. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan cara kerja penetapan bias (tegangan muka) penguat depan universal dengan percaya diri
  5. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan arah arus yang mengalir pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  6. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung besaran tegangan searah pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  7. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung besaran tegangan AC pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  8. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung faktor penguatan (gain) pada rangkaian penguat depan universal audio dengan percaya diri
  9. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menjelaskan hubungan penguatan dengan lebar tanggapan frekwensi penguat depan universal audio dengan percaya diri
  10. Melalui berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat menghitung batas atas dan batas bawah tanggapan frekwensi penguat depan universal audio dengan percaya diri

Kata Kerja Operasional (KKO) Perumusan Tujuan Pembelajaran dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Tujuan pembelajaran maupun Indikator Pencapaian Kompetensi dirumuskan menggunakan kata kerja operasional (kko) yang setara dengan kompetensi dasar (KD). Kita tidak bisa secara serampangan saja memilih kata kerja operasional untuk perumusan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi. Hendaknya, dipilih kata kerja operasional yang tepat.

Berikut ini adalah Kata Kerja Operasional dari Taxonomi Bloom olahan Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001)

Sumber: http://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf

Demikianlah diskusi sekitar tujuan pembelajaran kurikulum 2013 yang berpusat pada siswa. Pembelajaran Kurikulum 2013 merujuk pada pendekatan saintifik yang mempunyai tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi dan mengomunikasikan.