Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

indikator pencapaian kompetensi ipk

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK komponen RPP yang krusial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjamin akurasi pembelajaran. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK harus dirumuskan dengan kata kerja operasional KKO yang tepat. 

Indikator artinya penunjuk atau tanda-tanda yang tampak, pencapaian artinya telah dikuasai , kompetensi artinya kemampuan melakukan sesuatu. Jadi, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK ialah tanda-tanda yang (seharusnya) tampak pada seseorang yang telah menguasai suatu kemampuan melakukan sesuatu

Pengertian Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah komponen RPP esensial. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menjadi penanda bahwa kompetensi yang dipelajari sudah dikuasai. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang spesifik dapat diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan rumusan kemampuan yang harus dilakukan atau ditampilkan oleh siswa untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar (KD).

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b dinyatakan bahwa indikator pencapaian kompetensi adalah:
a. kemampuan yang dapat diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan
b. kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4

Merujuk pada definisi di atas, semakin jelas bahwa indikator pencapaian kompetensi IPK merupakan tolok ukur ketercapaian suatu KD. Oleh karena itu maka indikator pencapaian kompetensi juga menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

indikator pencapaian kompetensi ipk
indikator pencapaian kompetensi ipk

Fungsi Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, seperti disinggung di atas, menjadi tolok ukur ketercapaian suatu kompetensi dasar.  Indikator Pencapaian Kompetensi menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam unit-unit kompetensi yang lebih rinci (kecil). Ketika peserta didik sudah mampu melakukan seluruh / semua unit kompetensi yang lebih rinci ini, peserta didik berarti telah menguasai kompetensi dasar yang dipelajari. Dengan kata lain dapat dinyatakan unit kompetensi yang lebih rinci ini merupakan sub kompetensi dasar. Penguasaan peserta didik terhadap sub kompetensi dasar keberhasilannya diindikasikan oleh Indikator Pencapaian Kompetensi IPK. Di sinilah maksud dari fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur keberhasilan penguasaan kompetensi dasar.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, selain berfungsi sebagai penanda dikuasainya sebuah kompetensi dasar juga berfungsi sebagai acuan penentuan tujuan pembelajaran. Setiap indikator pencapaian kompetensi yang kita nyatakan sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar sudah tentu terdiri dari sejumlah pengetahuan dan sejumlah elemen keterampilan penyusun. Ketika peserta didik sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan elementer masing-masing indikator pencapaian kompetensi maka dapat diharapkan peserta didik mampu menunjukkan performa telah memiliki indikator pencapaian kompetensi.

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK, juga berfungsi sebagai acuan penentuan materi pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan fungsi indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur penguasaan kompetensi dasar. Ketika kita sudah mengidentifikasi indikator-indikator pencapaian kompetensi dari suatu kompetensi dasar (KD) maka otomatis tersirat juga di sana materi-materi pembelajaran yang seharusnya dikuasai peserta didik.

Fungsi indikator pencapaian kompetensi selanjutnya ialah sebagai acuan penyusunan instrumen penilaian pembelajaran atau dalam pembuatan soal-soal evaluasi. Mengapa soal-soal evaluasi harus mengacu pada indikator pencapaian kompetensi? Jawabannya … baru saja kita diskusikan di 3 paragraf di atas. Indikator pencapaian kompetensi adalah tolok ukur tercapainya kompetensi dasar oleh peserta didik. Jadi, jelas sekali, ketika soal-soal evaluasi sudah dibuat mengacu pada indikator pencapaian kompetensi (yang esensial) dan peserta didik mampu mengerjakannya dengan benar maka peserta didik yang bersangkutan sudah menguasai kompetensi dasar.

Sebuah kompetensi dasar atau KD boleh jadi mempunyai beberapa sub kompetensi yang merupakan unsur-unsur kompetensi dasar. Unit kompetensi inilah yang seharusnya diidentifikasi dengan cermat oleh guru pada proses perencanaan pembelajaran yaitu analisis materi pembelajaran. Sebaiknya proses identifikasi indikator pencapaian kompetensi dilakukan dengan teliti sehingga kita dapatkan unit kompetensi unsur esensial dari setiap kompetensi dasar.

Secara normatif, membuat indikator pencapaian kompetensi itu relatif mudah, namun menemukan indikator pencapaian kompetensi yang esensial bagi kompetensi dasar tersebut perlu pemikiran. Keberhasilan identifikasi unit kompetensi unsur yang esensial ini diindikasikan dengan indikator pencapaian kompetensi IPK. Karena itu indikator pencapaian kompetensi secara otomatis berfungsi sebagai pengarah bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan.

Rekan-rekan tentunya pernah membaca sendiri atau bahkan mengalami sendiri penerapan prinsip-prinsip berikut:

  • belajar dari hal yang mudah menuju yang lebih sulit.
  • belajar dari yang nyata menuju yang abstrak (tidak nyata)
  • belajar dengan memperhatikan struktur keilmuan

Mengingat prinsip-prinsip dasar tersebut maka dalam proses analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK perlu disusun dengan memperhatikan prinsip di atas. Untuk itu, pada saat analisis, Indikator Pencapaian Kompetensi IPK disusun urutannya dengan memperhatikan prinsip dasar di atas. Jika hal ini kita lakukan maka otomatis proses pembelajaran yang kita lakukan juga mengikuti urutan yang kita buat. Dan hasilnya adalah benar-benar Indikator Pencapaian Kompetensi IPK berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK merupakan penanda perilaku pengetahuan (KD dari KI-3) dan perilaku keterampilan (KD dari KI-4) yang dapat diukur dan atau diobservasi sedangkan perilaku sikap spiritual dari KI-1 dan sikap sosial dari KI-2 tidak diturunkan ke dalam KD dan juga tidak memiliki indikator pencapaian kompetensi IPK pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP, tetapi perilaku sikap spiritual dan sikap sosial harus dikaitkan pada perumusan tujuan pembelajaran.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK memerlukan pengetahuan guru tentang kompetensi dasar. Pada kurikulum 2013 kompetensi dasar ada dalam  3 ranah, yaitu kompetensi dasar pengetahuan, kompetensi dasar keterampilan dan kompetensi dasar sikap spiritual dan sosial. Guru yang tidak menguasai kompetensi profesionalnya dengan baik mustahil dapat mengembangkan indikator pencapaian kompetensi ipk.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK juga memerlukan pengetahuan guru tentang taxonomi beserta kata kerja operasional (KKO) yang sesuai untuk digunakan. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK adalah menentukan sub kompetensi tertentu sesuai kompetensi dasar yang DAPAT MEWAKILI sejumlah kompetensi-kompetensi rinci/detail. Karena itu dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi kita tidak dapat asal pilih kata kerja operasional begitu saja. Penting bagi kita untuk melakukan kroscek apakah kata kerja operasional yang kita pilih dapat mewakili beberapa kompetensi rinci. Apabila sebuah kata kerja operasional (KKO) dapat mewakili beberapa kata kerja operasional detail atau spesifik maka kata kerja operasional tersebut dapat dipastikan sebagai kata kerja operasional indikator pencapaian kompetensi ipk.

Rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK menggunakan dimensi proses kognitif (dari memahami sampai dengan mengevaluasi dan dimungkinkan sampai kreasi untuk kelas XII jika ketercapaian hasil belajar siswa di atas rata-rata) dan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif) yang sesuai dengan KD, namun tidak menutup kemungkinan perumusan indikator dimulai dari serendah-rendahnya C2 sampai setara dengan KD hasil analisis dan rekomendasi. 

Tabel Hubungan Dimensi Proses Kognitif dan Bentuk Pengetahuan

No

Perkembangan Berfikir Taksonomi Bloom Rivised Anderson (Cognitive Process Dimension)
Bentuk Pengetahuan (Knowledge Dimension)
Keterangan
1.
Mengingat (C1) Pengetahuan Faktual Lower Order Thinking Skills (LOT’s)
2.
Menginterprestasi prinsip (Memahami/C2) Pengetahuan Konseptual
3.
Menerapkan (C3) Pengetahuan prosedural
4.
Menganalisis (C4) Mengevaluasi (C5) dan Mengkreasi(C6) Pengetahuan Metakognitif Higher Order Thinking Skills (HOT’s)

Tabel di atas menunjukkan pada kita bahwa Dimensi Proses Kognitif berkaitan dengan Dimensi Pengetahuan dan sudah pasti membawa dampak perolehan belajar. Sebagai contoh, dimensi proses Mengingat pada level C1 akan berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan faktual. Pada level C2 yaitu memahami, dimensi pengetahuannya adalah pengetahuan tentang konsep-konsep, dan seterusnya. Semua ini akan mengarahkan kita pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK.

Kata Kerja Operasional pada Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dikembangkan berdasar pada kompetensi dasar menggunakan kata kerja operasional (KKO). Pada pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dimensi proses kognitif jenjang SMA dan SMK dimulai dari memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Pada setiap tingkatan atau dimensi proses ini dapat digunakan kata kerja yang semakna dengan kata kerja pada tingkatan dimensi proses kognitif (KKO). Kata-kata kerja yang merepresentasikan tingkatan atau dimensi proses kognitif ini cukup variatif. Kata-kata kerja ini disebut dengan Kata Kerja Operasional. Kata kerja operasional ialah kata kerja yang menunjukkan satu kegiatan tertentu yang dapat diukur atau diobservasi.

Berikut ini adalah Kata Kerja Operasional dari Taxonomi Bloom olahan Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001)

Sumber: http://www.apu.edu/live_data/files/333/blooms_taxonomy_action_verbs.pdf

Langkah-langkah merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dirumuskan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • tentukan kedudukan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 berdasarkan gradasinya dan tuntutan KI;
  • tentukan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, metakognitif);
  • tentukan bentuk keterampilan, apakah keterampilan abstrak atau keterampilan konkret;
  • untuk keterampilan kongkret pada kelas X menggunakan kata kerja operasional sampai tingkat membiasakan/manipulasi. Sedangkan untuk kelas XI minimai sampai pada tingkat mahir/presisi. Selanjutnya untuk kelas XII minimal sampai pada tingkat ‘menjadi gerakan mahir/presisihingga alami/artikulasi serta kelas XIII orisinal/naturalisasi pada taksonomi psikomotor Simpson atau Dave, dan
  • rumusan IPK pada setiap KD dari KI-3 dan pada KD dari KI-4 minimal memiliki 2 (dua) indikator.

Contoh Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dari suatu kompetensi dasar harus diidentifikasi dengan benar. Sebelum merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK terlebih dahulu kita lakukan analisis SKL KI KD. Berdasarkan analisis ini barulah kita dapat melakukan analisis mengidentifikasi indikator pencapaian kompetensi tersebut.

Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan

Dari kolom 3 kita dapatkan tingkat dimensi kognitif dari KD 3.1 Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA adalah Menerapkan (C3) dari taksonomi Bloom olahan Anderson. Indikator Pencapaian Kompetensi KD Pengetahuan dirumuskan menggunakan kata kerja operasional (KKO) pada tingkatan C3 (menerapkan) seperti : mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan dll.

Masih dari kolom 3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA … adalah bentuk / dimensi pengetahuan prosedural. Berdasar pada konteks ini, maka kata kerja operasional yang sesuai konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA yang berisi pengetahuan-pengetahuan prosedural adalah mengidentikasi, mengklasifikasi, mengemukakan, mengurutkan. 

Contoh indikator pencapaian kompetensi yang sesuai untuk dirumuskan dalam konteks ini antara lain :

  1. mengidentifikasi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  2. mengidentifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  3. mengidentifikasi prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  4. mengklasifikasi peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
  5. mengurutkan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berdasarkan OSHA
Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi KD Keterampilan

Dari kolom 5 kita dapatkan bentuk taksonomi KD 4.1 adalah keterampilan kongkret pada level Manipulasi (P2) dari taksonomi Simpson. Kata Kerja Operasional yang relefan …. ah… sudah jam 00.05 … besok lagikita lanjutkan …

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK  adalah kemampuan-kemampuan yang dapat diukur/diobservasi  sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2, dan kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4 ( Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, pada ayat (4) huruf b )

Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Perhatikan contoh tujuan pembelajaran berikut : “Setelah berdiskusi dan menggali informasi peserta didik dapat menjelaskan fungsi masing-masing komponen penguat depan audio universal dengan percaya diri”. Tujuan pembelajaran ini dicapai melalui proses berdiskusi dan menggali informasi dan hasil belajar nya berupa kemampuan menjelaskanMenjelaskan merupakan kata kerja operasional yang dapat di ukur dan merupakan kemampuan Cognitive level 2 (C2). Lihat tabel di atas.

Persamaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

  1. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar (KD);
  2. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran sama-sama menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur atau diobservasi ketercapaiannya.

Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK dan tujuan pembelajaran memang berbeda. Indikator Pencapaian Kompetensi IPK itu menjadi penanda apakah suatu kompetensi dasar telah dikuasai siswa. Dalam hal ini indikator pencapaian kompetensi jika telah dipenuhi  maka siswa telah memiliki satu bagian kompetensi dasar (KD). Dengan kata lain dapat saya katakan, jika kompetensi secara penuh adalah Kompetensi Dasar, maka kompetensi yang kemampuannya ditunjukkan indikator pencapaian kompetensi adalah sub kompetensi dasar atau bagian dari kompetensi dasar. Karena itu … pada saat kita memilih Kata Kerja Operasional untuk membuat Indikator Pencapaian Kompetensi … pertimbangkan dan cek kembali … benarkah indikator pencapaian kompetensi yang rekan-rekan buat dengan kata kerja operasional yang rekan-rekan pilih itu … merupakan sub kompetensi dari KD?

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa atau peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Proses atau hasil belajar siswa ini bersifat spesifik (satu tingkah laku spesifik). Ingatlah dengan panduan pengembangan tujuan pembelajaran yang dapat di singkat dengan ABCDS yang maksudnya:

A = audience dalam hal ini siswa atau peserta didik

B = behaviour yaitu tingkah laku yang diharapkan

C = Criteria ialah kondisi yang harus disediakan

D = Degree yaitu tingkatan tingkah laku yang dilakukan dan

S = single behaviour yaitu satu tingkah laku spesifik.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa indikator pencapaian kompetensi ipk dan tujuan pembelajaran memang berbeda.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP. Mungkin Anda bertanya-tanya … mengapa indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran perlu diurutkan penulisannya di dalam RPP. Pada saat membuat persiapan proses pembelajaran indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran harus kita susun dengan cermat. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut harus kita lakukan.

Indikator Pencapaian Kompetensi seperti disinggung di atas, adalah sub kompetensi dasar atau bagian yang lebih kecil dari kompetensi dasar. Jadi, indikator pencapaian kompetensi itu, adalah kompetensi-kompetensi pokok yang menandai seorang siswa menguasai kompetensi yang lebih luas cakupannya. Secara alamiah, kita, lebih mudah belajar secara berjenjang dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang kasat mata menuju yang bersifat abstrak, dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Bukankah umumnya kita seperti itu? Jadi penting bagi kita menyusun dan mengurutkan indikator pencapaian kompetensi berdasarkan gradasi kesulitannya.

Mengurutkan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran juga dilakukan berdasarkan pada struktur atau susunan yang logis secara keilmuannya. Hal ini cukup jelas kiranya. Suatu kompetensi dapat dikuasai siswa karena berlatih sedikit demi sedikit menerapkan ilmu-ilmu dasar yang sudah dikuasai sebelumnya. Ada bahan ajar yang perlu dikuasai lebih dulu sebelum ia mempelajari kompetensi terapan ilmu dasar tersebut. Karena itu, penyusunan urutan indikator pencapaian kompetensi perlu memperhatikan struktur keilmuan yang bersangkutan.

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Matematika

 

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

Analisis KD

Mata Pelajaran: Matematika

Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas … Direkomendasikan KD 3.3 dinaikkan ke tingkat C4 (menganalisis)

Jadi kata kerja operasional (KKO) yang dipakai untuk membuat IPK diambil dari KKO tingkat (C4) menganalisis khususnya ketika kita nanti membuat instrumen untuk mengukur kompetensi siswa lulus / belum lulus pada KD 3.3 tersebut. Untuk penilaian proses (dalam proses pembelajaran) BOLEH menggunakan IPK dengan KKO setingkat C2 , C3 atau C4

3.3 Mendeskripsikan dan menyatakan relasi dan fugsi dengan menggunakan berbagai representasi (kata-kata, tabel, grafik, diagram, dan persamaan).

3.3.1 Mendefinisikan pengertian relasi (C2 –> boleh)
3.3.2 Menyatakan suatu relasi yang terkait dalam kehidupan sehari-hari (C2 -> boleh)
3.3.3 Membuat bentuk penyajian relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.4 Mendefinisikan pengertian fungsi (C2 -> boleh)
3.3.5 Membedakan antara fungsi dan bukan fungsi (C2 -> boleh)
3.3.6 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah, dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD keterampilan)
3.3.7 Membuat bentuk penyajian fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi. (lebih cocok IPK KD keterampilan)

Saya menyarankan agar dibuatkan IPK pada level C3 (menerapkan) sebagai jembatan proses mencapai C4 (menganalisis)

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dan fungsi dengan menggunakan berbagai representasi

4.3.1 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan relasi dengan menggunakan berbagai representasi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.2 Menentukan penyelesaikan masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan himpunan pasangan berurutan, diagram panah dan persamaan fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

4.3.3 Menentukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan fungsi dengan menggunakan tabel dan grafik fungsi (lebih cocok untuk IPK KD pengetahuan C3)

Saran saya :

4.3.1 Membuat penyelesaikan masalah relasi dengan representasi berbentuk tabel

4.3.2 Membuat penyelesaikan masalah fungsi dengan representasi menggunakan himpunan pasangan berurutan

Dan seterusnya …. bagaimana menurut bp/ibu Yusni …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Fisika

Jawaban pertanyaan / comment dari pak Rizki Nailulauthor ….

KD >> menerapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan fluida
KD >> memecahkan masalah dalam teknologi dan rekayasa yang berkaitan pada hukum-hukum fluida.

sudah diperbaiki / direvisi menjadi sbb:

3.8 Menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis

4.8 Melakukan percobaan sederhana yang berkaitan dengan hukum-hukum fluida statis dan dinamis

Dalam konteks menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan fluida statis dan dinamis terdapat hukum-hukum dan beberapa pengertian yang penting (esensial) seperti ….

  1. Fluida Statis dan Tekanan Hidrostatis
  2. Gaya Archimedes
  3. Benda Mengapung, melayang dan tenggelam
  4. Hukum Pascal
  5. Pompa Hidrolik
  6. Hubungan Hukum Pascal dan Tekanan Hidrostatis
  7. Tegangan Permukaan
  8. Viskositas dan Hukum Stokes
  9. Hukum Kontinuitas dan Hukum Bernouli
  10. Penerapan Hukum Bernouli

Menerapkan termasuk dimensi C3 sehingga kata kerja operasional (KKO) yang seharusnya digunakan sebagai IPK (kunci/utama) antara lain :

A. Merujuk KKO Panduan Penilaian SMK 2018

mendemonstrasikan
memperagakan
menuliskan penjelasan
membuatkan penafsiran
mengoperasikan
mempraktikkan
merancang persiapan
menyusun jadwal
membuat sketsa
menyelesaikan masalah
menggunakan

Pilih kata kerja operasional pada daftar di atas YANG SESUAI dengan hukum-hukum dan materi esensial ….

Contoh IPK KD pengetahuan terkait hukum Archimedes :

  1. menuliskan penjelasan fluida statis > C3
  2. menuliskan penjelasan fluida dinamis > C3
  3. membuat sketsa penerapan hukum Archimedes > C3
  4. menghitung gaya apung benda yang dicelup ke dalam air > C3 (menghitung … KKO Puspendik)

Contoh IPK KD keterampilan terkait hukum Archimedes :

  1. mendemonstrasikan percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)
  2. memodifikasi percobaan hukum Archimedes (keterampilan kongkrit P2)

Indikator soal evaluasi seyogyanya dibuat setelah Indikator Pencapaian Kompetensi ditentukan dengan lengkap dan akurat. Soal evaluasi untuk mengukur ketercapaian pemahaman dalam proses pembelajaran dapat menggunakan C1, C2 tetapi untuk mengukur penguasaan KD tersebut seyogyanya menggunakan Indikator Pencapaian Kompetensi setara KD (C3)

Demikian menurut hemat saya pak Rizki …. silahkan didiskusikan …

Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi Administrasi Perkantoran / Kearsipan

KD 3.3 Menerapkan prosedur penggunaan alat kearsipan
KD 4,3 Menggunakan peralatan kearsipan

KD 3.3 adalah C3 dan prosedur penggunaan alat kearsipan adalah pengetahuan prosedural

Alat kearsipan ada bermacam-macam seperti Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index dll.

IPK KD 3.3 dibuat menggunakan KKO C3 … tapi untuk membantu … boleh dibuat mulai dari C2 …

Lihat daftar KKO di atas (pada jawaban pak Rizki) … pilih dan gunakan yang bisa diterapkan untuk ranah pengetahuan …. Contoh ….

  1. menuliskan penjelasan bentuk, bahan, fungsi dan manfaat peralatan kearsipan (C3)
  2. menuliskan penjelasan urutan langkah kerja menggunakan filing cabinet (C3) … bisa dituliskan satu per satu tiap jenis peralatan
  3. merancang persiapan penggunaan Filing Cabinet, Guide, Folder , Label, Rak Penyortir , Kartu Index, Laci kartu index

KD 4.3 adalah keterampilan kongkrit … P2

IPK KD 4.3 dibuat menggunakan KKO dari taksonomi Simson / Dave level P2 …

  1. membuat guide arsip
  2. memperagakan penggunaan folder
  3. membuat label arsip
  4. membuat kartu indeks
  5. melaksanakan penempatan kartu indeks pada laci kartu indeks

Kurang lebih seperti itu pak Siagian …

Maaf saya bukan ahlinya Kearsipan … mungkin ada yang tidak pas … silahkan didiskusikan …

 

Demikianlah diskusi pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi IPK … semoga berguna …

Mengasosiasi

mengasosiasi

Mengasosiasi

Mengasosiasi bagian dari belajar.  Mengasosiasi tahapan penting, apapun kurikulumnya. Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera.

Pengertian mengasosiasi

Kata mengasosiasi dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia Online memang tidak ditemukan. Ditinjau dari asal katanya, mengasosiasi berasal dari kata “asosiasi” yang mendapat awalan “me”. Asosiasi menurut http://kbbi.web.id/asosiasi memiliki makna asosiasi / aso·si·a·si/ n 1 persatuan antara rekan usaha; persekutuan dagang; 2 perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama; 3 tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra;

Mengasosiasi mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik.  Langkah-langkahnya terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.   Mengasosiasi | mengolah informasi melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras.  Mengasosiasi juga melatih kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

mengasosiasi
mengasosiasi

Faktor Penting Memfasilitasi Siswa Mengasosiasi

Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera. Merujuk pada pengertian tersebut, maka efektifitas kegiatan mengasosiasi sebagai bagian proses belajar berpotensi dipengaruhi oleh faktor internal siswa dan faktor-faktor eksternal.

1. Faktor internal ialah hal-hal dalam diri siswa yang mempengaruhi aktifitasnya dalam mengasosiasi. Faktor internal yang berpotensi mempengaruhi efektifitas kegiatan mengasosiasi antara lain:

  • kesehatan
  • asupan makanan
  • perhatian
  • minat
  • bakat
  • kecerdasan ( gaya belajar )
  • konstelasi psikis (emosi)

2. Faktor eksternal ialah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi bagaimana siswa mengasosiasi antara lain:

  • interaksi dengan teman
  • media untuk mengasosiasi
  • interaksi dengan guru
  • cara/metode mengasosiasi
  • lingkungan kelas/sekolah
  • waktu untuk mengasosiasi

Faktor-faktor internal dan eksternal di atas berpotensi besar menimbulkan hambatan bagi siswa dalam proses mengasosiasi.

Hambatan Mengasosiasi Internal

Mengasosiasi adalah proses menanamkan pemahaman baru ke dalam jaringan otak, karena itu proses ini sangatlah penting. Mengetahui hambatan siswa dalam mengasosiasi sangat bermanfaat bagi guru agar tujuan pembelajaran yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tercapai.

Mengasosiasi adalah aktifitas biologis terkait dengan brain (otak). Seperti halnya belajar, kesehatan badan atau fisik siswa tentu berpengaruh. Kesehatan badan yang kurang di kala sakit atau dalam keadaan tidak nyaman mengganggu aktifitas jaringan otak untuk mencerna fakta, konsep, proses dan bahkan metakognisi.

Kurangnya perhatian siswa terhadap pelajaran atau proses menimbulkan hambatan bagi siswa itu sendiri untuk menerima fakta dan konsep hingga gagal membuat tautan dalam otaknya. Kurang perhatian jelas mengurangi fokus siswa terhadap topik yang sedang dibahas. Meningkatkan fokus selama proses mengasosiasi dapat mengurangi hambatan baginya untuk membuat tautan dalam otaknya untuk menerima dan memahami ilmu yang baru.

Mengasosiasi sebagai bagian kecil dari proses belajar tentu terkait dengan minat dan bakat siswa yang bersangkutan. Hal yang sangat logis ketika topik yang dipelajari sesuai dengan minat dan bakat siswa maka yang bersangkutan penuh semangat melaksanakan langkah-langkah mengasosiasi yang diperlukan. Sebaliknya ketika topiknya tidak bersesuaian dengan minat dan bakatnya semangatnya berkurang.

Gaya belajar setiap orang bisa berbeda satu dengan yang lain. Merujuk pada C.I.T.E. Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas terdapat beberapa gaya belajar siswa. Mengasosiasi, sebagai bagian belajar sangat masuk di akal jika dipengaruhi dan bahkan terhambat jika proses yang diminta guru tidak sesuai dengan gaya belajar yang disukainya. Beberapa gaya belajar yang diketahui antara lain:

  • Auditori Bahasa (Auditory Language)
  • Visual Bahasa (Visual Language)
  • Auditori numerik (Auditory Numerical)
  • Visual numerik (Visual Numerical)
  • Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik
  • Belajar individu
  • Belajar kelompok
  • Oral Ekspresif
  • Ditulis Ekspresif

Ketidak sesuaian metode yang digunakan guru dengan gaya belajar yang disukai siswa menimbulkan hambatan tersendiri bagi diri siswa.

Hambatan Mengasosiasi Eksternal

Mengasosiasi atau kegiatan aktif siswa membuat tautan dalam memorinya tentu dipengaruhi oleh berbagai hambatan yang datang dari luar diri siswa yang bersangkutan. Hal-hal di luar diri siswa seringkali tak dapat dikendalikan siswa yang bersangkutan. Karena berada di luar kendali dirinya maka ketidak sesuaian kondisi-kondisi eksternal ini dapat menghambat kegiatan siswa mengasosiasi. Hambatan-hambatan eksternal ini antara lain:

Hambatan terkait interaksi dengan teman. Kegiatan mengasosiasi dapat dilakukan baik sendiri maupun secara berkelompok. Ketika tahap mengasosiasi ini harus dilakukan dalam bentuk kelompok atau bersama siswa yang lain maka diperlukan interaksi antar siswa. Kadang interaksi antar siswa dapat berlangsung dengan lancar namun tidak sedikit pula yang mengalami kendala-kendala.

Mengasosiasi seringkali memerlukan media. Media adalah perantara yang dapat digunakan untuk menghubungkan kapasitas nalar kita dengan fakta-fakta, konsep-konsep, proses-proses dan bahkan untuk metakognisi. Dengan media kita sering terbantu untuk membuat hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya menjadi lebih nyata dan dapat diterima nalar kita. Dewasa ini begitu banya jenis media yang dapat digunakan. Hal ini menuntut literasi kita terhadap berbagai media dimaksud. Literasi media literasi teknologi literasi visual menjadi kunci pembuka mengurangi hambatan-hambatan mengasosiasi.

Mengasosiasi dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik memang dilakukan sendiri oleh siswa. Namun demikian tidak berarti tahap mengasosiasi tidak memerlukan interaksi guru dan siswa. Selama proses mengasosiasi tetap diperlukan interaksi guru dan siswa. Dengan interaksi ini guru tetap dapat memberi bimbingan bagaimana caranya siswa harus mengasosiasi. Sebaliknya dengan mudah siswa dapat bertanya dan mendapat bimbingan bagaimana mengasosiasi dapat dilakukan.

Cara mengasosiasi / Metode mengasosiasi yang dipilih guru dan direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP juga penting untuk diperhatikan. Cara / Metode mengasosiasi yang dipilih perlu memperhatikan karakteristik siswa. Lebih spesifik dapat dikatakan cara / metode mengasosiasi yang sesuai dengan gaya belajar siswa akan mengurangi hambatan yang dialami siswa. Cara / Metode mengasosiasi yang bersesuaian dengan gaya belajar siswa akan mempermudah siswa memahami dan membuat tautan dalam ingatannya.

Kondisi lingkungan kelas ketika proses mengasosiasi berlangsung dapat bersifat menghambat suksesnya siswa mengasosiasi topik yang dipelajari. Kondisi lingkungan perlu dijaga sedemikian rupa sehingga tahapan mengasosiasi yang dilakukan siswa berjalan dengan lancar dan kondusif. Guru wajib menciptakan situasi lingkungan yang kondusif selama proses belajar. Tak terkecuali dalam pembelajaran kurikulum 2013. Untuk memastikan kondisi lingkungan yang kondusif, guru harus merencanakan dan melakukan pengelolaan kelas yang efektif.

Mengasosiasi merujuk pada Gaya belajar siswa

Merujuk pada C.I.T.E.  Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas.  Dinyatakan bahwa terdapat sejumlah gaya belajar siswa yaitu :

Auditori Bahasa (Auditory Language)

Siswa dengan gaya belajar Auditori Bahasa (Auditory Language) lebih senang belajar dari mendengar kata-kata yang diucapkan. Mereka akan lebih mampu memahami dan mengingat kata-kata atau fakta yang dipelajari dengan mendengar. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Visual Bahasa (Visual Language)

Siswa kelompok ini belajar dengan baik dari melihat kata-kata dalam buku, di papan, grafik atau buku kerja (berupa tulisan). Mereka bahkan mungkin menuliskan kata-kata yang diberikan secara lisan, untuk belajar dengan melihat mereka di atas kertas. Siswa-siswa ini mengingat dan menggunakan informasi yang lebih baik jika mereka telah membacanya. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Auditori numerik (Auditory Numerical)

Siswa-siswa ini belajar dari mendengar nomor dan penjelasan lisan. Mengingat telepon dan ganti nomor mudah, dan mereka mungkin bisa berhasil dengan permainan nomor lisan dan teka-teki. Mereka mungkin melakukannya juga tanpa buku matematika mereka, untuk bahan tertulis tidak penting. Mereka mungkin dapat menyelesaikan masalah dalam kepala mereka, dan mungkin mengatakan nomor dengan keras ketika membaca.

Visual numerik (Visual Numerical)

Siswa-siswa ini harus melihat angka di papan, dalam sebuah buku, atau di atas kertas untuk bekerja dengan angka-angka. Mereka lebih cenderung untuk mengingat dan memahami fakta-fakta matematika ketika mereka disajikan secara visual. Mereka tampaknya tidak membutuhkan banyak penjelasan lisan.

Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik

Para siswa A-V-K belajar yang terbaik melalui pengalaman, melakukan, dan keterlibatan diri. Mereka mendapatkan keuntungan dari kombinasi rangsangan. Manipulasi bahan, yang disertai dengan penglihatan dan suara (kata dan angka melihat dan mendengar) akan membantu mereka belajar. Mereka mungkin tidak tampak untuk memahami atau dapat berkonsentrasi atau bekerja kecuali benar-benar terlibat. Mereka berusaha untuk menangani, menyentuh dan bekerja dengan apa yang mereka pelajari.

Pelajar individu

Siswa-siswa ini lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dengan dilakukan sendiri. Mereka berpikir yang terbaik dan lebih ingat ketika telah belajar sendiri. Mereka lebih peduli pendapat mereka sendiri dari pada ide-ide orang lain. Guru tidak memiliki banyak kesulitan menjaga mereka bersosialisasi selama pembelajaran.

Pelajar kelompok

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk belajar dengan setidaknya satu teman lainnya, dan tidak banyak dengan dilakukan sendiri. Mereka menghargai pendapat dan preferensi orang lain. interaksi kelompok meningkatkan pembelajaran mereka dan kemudian pengakuan fakta.  Observasi kelas akan cepat mengungkap betapa pentingnya sosialisasi untuk mereka.

Oral Ekspresif

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk memberitahu apa yang mereka ketahui. Mereka berbicara dengan lancar, nyaman, dan jelas. Guru mungkin menemukan bahwa mereka lebih tahu dari tes tertulis menunjukkan. Mereka mungkin kurang malu daripada yang lain tentang memberikan laporan atau berbicara dengan guru atau teman sekelas. Koordinasi otot yang terlibat dalam penulisan mungkin sulit bagi mereka. Pengorganisasian dan menempatkan pikiran di atas kertas mungkin terlalu lambat dan membosankan tugas untuk mereka.

Ditulis Ekspresif

peserta didik dapat menulis esai lancar dan jawaban yang baik pada tes untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui. Mereka merasa kurang nyaman, bahkan mungkin bodoh, ketika jawaban atau laporan lisan yang diperlukan.  Pemikiran mereka lebih terorganisir di atas kertas daripada ketika mereka diberikan secara oral.

Berbagai gaya belajar yang diuraikan di atas menyadarkan kita betapa banyak hal yang memperngahruhi sukses tidaknya tahapan mengasosiasi. Dengan memilih dan menerapkan teknik mengasosiasi yang tepat mudah-mudahan mengasosiasi menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa.

Bentuk kegiatan mengasosiasi
  1. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan,
  2. menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,
  3. mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan
  4. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
  5. Pengolahan informasi untuk menambah keluasan dan kedalaman sampai yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang berbeda sampai yang bertentangan
  6. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.
  7. menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Contoh langkah membimbing siswa mengasosiasi

Seperti halnya pada tahapan menanya boleh jadi siswa mengalami kesulitan atau kebingungan melakukan langkah mengasosiasi.

Bagaimana dia harus membentuk tautan dalam ingatan tentang hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera? Bagaimana langkahnya? Bahkan pertanyaan bagaimana cara melakukannyapun kadang tak terkatakan. Pada kondisi seperti ini kehadiran guru sebagai fasilitator dan pembimbing sangat diperlukan. Guru sebaiknya mengatur skenario proses bagaimana siswa melakukan langkah mengasosiasi.

Contoh sintak pembelajaran mengasosiasi

Contoh sintak pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP untuk membimbing dan memfasilitasi siswa mengasosiasi sebagai berikut:

  1. Guru meminta siswa dalam kelompok menetapkan cara yang disukai masing-masing untuk berpartisipasi menyampaikan kesimpulan.
  2. Siswa mengusulkan masing-masing cara yang disukai
  3. Guru memberi contoh daftar/tabel format pengelompokan dan pengkategorisasian, hasil menanya dan hasil diskusi kelompok
  4. Siswa dalam kelompok menyiapkan daftar / tabel pengelompokan dan pengkategorisasian untuk mempermudah siswa mengasosiasi
  5. Guru meminta kelompok berdiskusi mengisi daftar/tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  6. Siswa dalam kelompok berdiskusi mengisi daftar / tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  7. Guru memberi contoh dan bukan contoh dan meminta siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain.
  8. Siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain untuk memperoleh kesimpulan yang benar.
  9. Guru meminta semua siswa untuk membuat catatan  sendiri menurut cara yang disukainya.
  10. Siswa dalam kelompok membuat catatan dan hasil mengasosiasi dan atau memiliki catatan sendiri menurut cara yang disukainya.
  11. Dan seterusnya

Demikianlah pembahasan tentang tahapan mengasosiasi, semoga bermanfaat.

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan adalah tahapan pembelajaran pada Kurikulum 2013. Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan digunakan pada jenjang SD, SMP, SMA maupun SMK. Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan adalah urutan logis proses pembelajaran. Melalui tahapan ini siswa didorong dan difasilitasi untuk membangun pengetahuan (mengkonstruksi pengetahuan) di dalam diri mereka.

 

mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan
mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Pendekatan Saintifik melalui Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan berdasarkan pada konsep Kurikulum 2013. Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan secara jelas tertulis di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 103 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2014. Melalui tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan  diharapkan terbentuknya kompetensi inti pengetahuan dan keterampilan.

 

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan pada pembelajaran berpusat pada siswa

Pembelajaran berpusat pada siswa adalah salah satu prinsip pembelajaran Kurikulum 2013 , ini berarti bahwa semua kegiatan belajar dilakukan secara aktif oleh siswa, bukan guru atau pendidik. Jadi, siapa yang melakukan tahap mengamati? Ya siswa .. Siapa yang melakukan tahap menanya? Ya siswa .. Yang melakukan mengumpulkan informasi? Ya siswa! Apakah siswa juga yang melakukan tahap mengasosiasi dan mengomunikasikan? Ya! Semuanya siswa melakukan. Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan   semuanya siswa yang secara aktif melakukannya. Itulah makna pembelajaran berpusat pada siswa.

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan pada pembelajaran berpusat pada siswa dapat kita simpulkan bahwa semua kegiatan atau tahapan belajar yang terdiri atas tahap mengamati, tahap menanya, tahap mengumpulkan informasi, tahap mengasosiasi dan tahap mengomunikasikan seluruhnya dilakukan siswa. Guru atau pendidik pada pembelajaran berpusat pada siswa lebih berperan sebagai fasilitator yang memastikan terjadinya tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan .

Guru lebih banyak membimbing, memfasilitasi, mengarahkan agar aktifitas siswa bermakna bagi mereka terarah mencapai tujuan pembelajaran. Apa yang harus dilakukan siswa pada masing-masing tahapan pembelajaran mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan  atau yang menggunakan pendekatan saintifik ini?

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan memang harus dilakukan oleh siswa namun memerlukan bimbingan dan arahan guru. Banyak siswa tidak paham apa yang harus dilakukan selama proses mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan . Jika kita berikan waktu untuk melakukan semua tahapan itu tanpa bimbingan dan arahan bisa dipastikan mereka mungkin belajar tetapi tidak mencapai tujuan pembelajaran. Di titik inilah peran kita sebagai guru menentukan skenario yang kita siapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran | RPP sangat penting dan menentukan efektifitas proses pembelajaran ini. Karena itu, sebelum menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, guru harus mengkaji silabus dengan cermat sehingga menemukan fakta, prinsip, konsep, proses ataupun prosedur yang nantinya bisa dijadikan obyek pengamatan.

Merancang kegiatan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan  harus dirancang dengan cermat dan dinyatakan di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP yang digunakan sebagai pedoman oleh guru di dalam kelas. Perencanaan yang cermat tersebut merinci kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan siswa pada tahapan-tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan.

Mengamati

mengamati
mengamati

Pengertian Mengamati

Mengamati berarti melihat/memperhatikan dengan teliti. Mengamati dilakukan dengan atau tanpa alat. Mengamati merupakan tahap awal dari pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan. Kegiatan mengamati harus dilakukan oleh siswa/kelompok siswa itu sendiri, bukan oleh guru.

Mengamati melatih siswa dalam hal kesungguhan, ketelitian, mencari informasi. Pada tahap mengamati ini siswa akan melihat pengetahuan-pengetahuan berbentuk fakta-fakta, konsep, prosedur maupun meta kognitif. Boleh jadi, siswa belum tahu apakah yang dimaksud pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, meta kognitif, karena itu menjadi tugas guru lah untuk memandu agar siswa paham apa yang harus diamati tersebut.

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca yang diformulasikan pada skenario proses pembelajaran. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek (Permendikbud No. 81a Th. 2013).

Mengamati, dilakukan siswa dengan difasilitasi dan dibimbing oleh guru dalam bentuk melihat, menyimak, mendengar, membaca, membau, meraba dan sebagainya menggunakan panca indera dengan atau tanpa bantuan alat. Mengamati dilakukan siswa untuk menemukan sendiri fakta, konsep, prinsip, proses atau prosedur tentang dan atau konten yang terkait dengan hal yang sedang dipelajari.

Contoh mengamati

  1. Siswa difasilitasi untuk mengamati dengan membaca sumber dari buku siswa (mengamati fakta, mengamati konsep, mengamati prinsip, mengamati proses, mengamati prosedur di dalam buku siswa)
  2. Siswa difasilitasi mengamati dengan mendengarkan pembacaan puisi atau narasi dari radio (mengamati fakta pada puisi, mengamati konsep tentang puisi, mengamati prinsip sebuah puisi, mengamati proses, mengamati prosedur pada pembacaan puisi atau narasi dari peralatan audio visual)
  3. Siswa difasilitasi mengamati dengan melihat tayangan video perakitan komputer (mengamati fakta pada perakitan komputer, konsep perakitan komputer , prinsip perakitan komputer , proses perakitan komputer, prosedur perakitan komputer pada suatu tayangan video tentang perakitan komputer)
  4. Siswa difasilitasi mengamati dengan melihat demonstrasi perbaikan sepeda motor (mengamati fakta pada perbaikan sepeda motor , konsep perbaikan sepeda motor, prinsip perbaikan sepeda motor, proses perbaikan sepeda motor, prosedur perbaikan sepeda motor pada suatu demonstrasi perbaikan sepeda motor)

Hasil Kegiatan Mengamati

  1. Perhatian siswa pada saat melakukan langkah mengamati tersebut.
  2. Bentuk catatan yang dibuat pada waktu melakukan langkah mengamati.
  3. Kesabaran siswa yang terbentuk selama melakukan langkah mengamati.
  4. Jangka waktu yang digunakan siswa melakukan langkah mengamati.

Dari contoh-contoh kegiatan mengamati tersebut tampak bahwa banyak hal bisa dilakukan siswa yang diskenariokan oleh guru di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP untuk pembelajaran Kurikulum 2013 yang berpusat pada siswa. Apa saja yang harus di amati dan dibuat catatan oleh siswa harus diidentifikasi oleh guru melalui langkah mengkaji silabus. Tahap mengkaji silabus inilah menjadi titik masuk atau kunci awal merancang pendekatan saintifik khususnya tahapan mengamati.

Menanya

menanya
menanya

Pengertian Menanya

Menanya berasal dari kata dasar ‘tanya’ yang memperoleh awalan ‘me’. Menanya berarti kegiatan aktif siswa bertanya dan mempertanyakan hal-hal terkait topik. Menanya adalah tahap kedua dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan.

Menanya melatih siswa mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Menanya adalah salah satu kompetensi yang diperlukan siswa untuk hidup di era cerdas abad 21.

Menanya dan permasalahannya

Menanya, memang seharusnya menjadi kegiatan aktif siswa bertanya dan mempertanyakan hal-hal sesuai topik. Namun demikian, tidak semua siswa bisa langsung menanya. Kadang siswa justru bingung apa yang harus ditanyakan, masalah apa harus ditanyakan? Bagi sebagian siswa, menanya bukan sesuatu yang mudah dilakukan walaupun guru sudah mengatakannya secara langsung …

"Adakah yang ingin bertanya?"

“bagi yang belum jelas, silahkan bertanya …!”

“Sekarang saatnya menanya … ayo siapa yang mau bertanya?” …..

Menurut pendapat saya, menanya tidak harus selalu muncul dari pernyataan guru ….

Jadi … bagaimana membuat siswa mampu menanya …?

Menanya yang harus dilakukan siswa dapat berbentuk (1) membuat pertanyaan yang relefan dengan materi pembelajaran (2) mengajukan pertanyaan yang sudah dibuat kepada guru, teman dalam kelompok atau sumber belajar lainnya. (3) melakukan tanya jawab (4) melakukan diskusi tentang informasi yang relefan dengan topik pembelajaran yang belum diketahui (5) menanyakan informasi tambahan yang ingin diketahui atau (6) menanyakan informasi yang sudah diketahui sebagai klarifikasi.

Bantuan guru pada kegiatan menanya

Menanya adalah kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh siswa dalam proses belajarnya. Namun faktanya, siswa masih sering mengalami kendala melakukan kegiatan menanya ini. Oleh karena itu guru perlu membantu dan membimbing agar siswa mampu menanya yang sesuai dengan topik belajar.

Pada kegiatan menanya, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai fakta, konsep, prinsip atau prosedur yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat menanya atau mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Siswa harus dilatih agar bisa menanya hal-hal yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. (Permendikbud No. 81a Th. 2013).

Cara membantu siswa menanya yang dapat dilakukan guru antara lain:

  1. Memberi waktu kepada siswa untuk membuat pertanyaan mereka sendiri
  2. Guru menjadi pendengar aktif yang mendengar pertanyaan siswa dengan simpatik
  3. Guru menyediakan daftar pertanyaan yang harus dicari jawabannya melalui tahapan proses belajar

Contoh menanya

  1. Siswa menanyakan (menanya) penjelasan tambahan terhadap informasi yang didapat dari proses mengamati
  2. Siswa mencari penjelasan tambahan sendiri (menanya) berdasarkan informasi hasil-hasil kegiatan mengamati
  3. Siswa menanyakan (menanya) fenomena-fenomena yang tidak diketahuinya dalam langkah mengamati obyek
  4. Siswa mengklarifikasi informasi (menanya) yang didapatnya dari tahap mengamati.
  5. Siswa melakukan tanya jawab (menanya) sesuai topik dengan guru.
  6. Siswa melakukan tanya jawab (menanya) sesuai topik dengan siswa lainnya.
  7. Siswa berdiskusi sesuai topik (menanya) secara berkelompok.
  8. Siswa mengakses internet mencari penjelasan lebih lengkap (menanya) sesuai topik

Hasil kegiatan menanya

  1. Jenis-jenis pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  2. Jumlah pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  3. Kualitas pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis yang diajukan siswa
  4. Daftar pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, prinsip, proses, hipotesis dan jawaban

Mengumpulkan informasi / mencoba (experimenting)

mengumpulkan informasi
mengumpulkan informasi

Mengumpulkan informasi adalah tahap ketiga dari tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan . Mengumpulkan informasi melatih siswa mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat (Permendikbud No. 81a Th. 2013).

Contoh mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting)

  1. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan melakukan eksperimen , percobaan, praktek pengukuran
  2. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan membaca sumber lain selain buku teks
  3. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mengamati lebih cermat objek/kejadian/ aktivitas
  4. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mewawancarai nara sumber
  5. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mengakses internet
  6. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mengeksplorasi
  7. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mencoba
  8. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan berdiskusi
  9. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan menirukan gerak
  10. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan meniru bentuk
  11. Siswa (mengumpulkan informasi) dengan mengumpulkan data melalui angket/questioner

Hasil-hasil kegiatan mengumpulkan informasi

  1. Jumlah sumber yang digunakan pada kegiatan mengumpulkan informasi
  2. Kualitas sumber yang digunakan pada kegiatan mengumpulkan informasi
  3. Kelengkapan informasi yang dikumpulkan pada kegiatan mengumpulkan informasi
  4. Validitas informasi yang dikumpulkan pada kegiatan mengumpulkan informasi
  5. Instrumen/alat yang digunakan pada kegiatan mengumpulkan informasi

Mengasosiasi hasil mengamati menanya mengumpulkan informasi

mengasosiasi
mengasosiasi

Mengasosiasi | mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan. Mengasosiasi | mengolah informasi melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

Pengertian mengasosiasi

Mengasosiasi dapat diartikan kegiatan aktif siswa membentuk hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan atau panca indera. Mengasosiasi terjadi dalam otak manusia membentuk hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain sehingga arti dan makna topik yang dipelajari dapat diterima. Akhirnya gagasan dan ide yang dipelajari ini ‘nyantol’ dalam ingatan.

Mengasosiasi pada awalnya terasa janggal dalam kosa kata yang saya kenal, ternyata kata mengasosiasi dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia Online memang tidak ditemukan. Ditinjau dari asal katanya, mengasosiasi berasal dari kata “asosiasi” yang mendapat awalan “me”. Asosiasi memiliki makna asosiasi/aso·si·a·si/ n 1 persatuan antara rekan usaha; persekutuan dagang; 2 perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama; 3 tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra;

Kegiatan mengasosiasi

  1. Siswa mengasosiasi dengan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menjadi bermakna baginya
  2. Siswa mengasosiasi dengan menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, agar berkesan dalam memori jangka panjangnya (longterm memory)
  3. Siswa mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan makna materi belajar yang sedang dipelajari
  4. Siswa mengasosiasi dengan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
  5. Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan
  6. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.

Mengomunikasikan hasil mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi

mengomunikasikan
mengomunikasikan

Mengomunikasikan  adalah tahap ke lima dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan. Mengomunikasikan melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Kegiatan belajar yang dilakukan pada tahapan mengomunikasikan  adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kegiatan lainnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.

Contoh kegiatan mengomunikasikan

  1. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan dalam bentuk bagan;
  2. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan dalam bentuk diagram;
  3. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan dalam bentuk grafik;
  4. mengomunikasikan dengan cara menyusun laporan tertulis; dan
  5. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan
  6. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara grafis
  7. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan pada media elektronik
  8. mengomunikasikan dengan cara menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara multi media

 

Seluruh kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik melalui tahapan Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan tersebut akan berjalan dengan baik dan kondusif melalui perencanaan pembelajaran yang cermat dan didampingi dengan pengelolaan kelas yang cermat pula. Karena itu sebelum melaksanakan pembelajaran berpusat pada siswa dengan tahapan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan  harus dipastikan juga rencana pengelolaan kelas.

Semangat belajar mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan

Mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan telah diposting sejak tahun 2014. Hingga saat ini posting “mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan” selalu menempati posisi teratas konten yang paling dicari. Ilustrasi di bawah menunjukkan semangat masyarakat belajar melalui blog saya yang lain belajarpedagogi(dot)wordpress(dot)com

mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasi-mengomunikasikan-s
mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasi-mengomunikasikan

Statistik di atas menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang memerlukan informasi lebih detail tentang pendekatan saintifik dengan inti kegiatan mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan.

mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasikan-mengomunikasikan
mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasikan-mengomunikasikan

Berikut adalah ilustrasi statistik posting mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan. Pada tanggal 27 September 2016 posting mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan mencapai 466 kunjungan. Luar biasa bukan semangat rekan-rekan kita???

Hingga saat ini posting mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengomunikasikan yang dipantau terus menerus menunjukkan peningkatan pengakses yang signifikan. Sampai dengan 27 September 2016 ini, setelah hampir 2 tahun di posting , posting mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasi mengomunikasikan selalu menempati ‘top post’ pada blog tersebut. Hal ini mengisyaratkan …. masih banyak rekan pendidik yang memerlukan sharing pemahaman terhadap pendekatan saintifik ini.

Demikianlah posisi posting mengamati-menanya-mengumpulkan-informasi-mengasosiasi mengomunikasikan  yang masih selalu menjadi rujukan belajar rekan-rekan di Indonesia. Semoga bermanfaat.


Pembelajaran Berpusat Pada Siswa

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP

Indikator Pencapaian Kompetensi IPK

Tujuan Pembelajaran