Mengomunikasikan

mengomunikasikan

Pengertian Mengomunikasikan

Mengomunikasikan adalah kompetensi penting hidup di abad 21. Mengomunikasikan telah diadopsi dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Mengomunikasikan menjadi satu tahapan esensial pembelajaran. Merujuk pada situs http://kbbi.web.id/komunikasi memberi arti mengomunikasikan /me·ngo·mu·ni·ka·si·kan/ adalah mengirim lewat saluran komunikasi; menyebarkan melalui saluran komunikasi. Cukup jelas kiranya bahwa mengomunikasikan adalah kegiatan aktif mengirimkan isi pesan melalui saluran komunikasi.

mengomunikasikan
mengomunikasikan

Melihat arti penting keterampilan mengomunikasikan pada era pasar bebas ini maka sudah seharusnya kita memberikan dukungan dan bimbingan kepada para siswa. Bagi siswa keterampilan mengomunikasikan menjadi salah satu kunci sukses mereka di abad 21 ini.

Mengomunikasikan pada Kurikulum 2013

Mengomunikasikan telah diadopsi di dalam Kurikulum 2013 sebagai salah satu elemen Standar Kompetensi Lulusan. Permendikbud 20 tahun 2016 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan jenjang SMA sebagai berikut:

“” Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif melalui pendekatan ilmiah sebagai pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain secara mandiri. “”

Selanjutnya, keterampilan mengomunikasikan diterjemahkan di dalam kompetensi inti keterampilan yang tertuang dalam Permendikbud 21 tahun 2016 yang berbunyi:

Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara:

  • efektif,
  • kreatif,
  • produktif,
  • kritis,
  • mandiri,
  • kolaboratif,
  • komunikatif, dan
  • solutif,

dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

Keterampilan mengomunikasikan diimplementasikan di dalam standar proses Permendikbud no 22 Tahun 2016. Pelaksanaan pembelajaran mengomunikasikan di implementasikan di dalam Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran. Dalam pembelajaran mengomunikasikan adalah tahap ke 5 dari urutan logis pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasikan.

Mengomunikasikan dalam Pendekatan Saintifik

Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik pada proses pembelajarannya seperti tertuang dalam lampiran Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pendekatan saintifik , ditetapkan secara jelas dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran. Pada pasal 2 ayat 7. Pada ayat 8 dinyatakan bahwa Pendekatan saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) merupakan pengorganisasian pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi proses pembelajaran:

  1. mengamati;
  2. menanya;
  3. mengumpulkan informasi/mencoba;
  4. menalar/mengasosiasi; dan
  5. mengomunikasikan
Deskripsi kegiatan mengomunikasikan

Mengomunikasikan merupakan tahap ke 5 pada pendekatan saintifik setelah mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi. Deskripsi kegiatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik;
  • menyusun laporan tertulis;
  • menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan
  • menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara elektronik
  • menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik di blog sekolah / blog kolaborasi
  • menyajikan laporan dalam bentuk video di youtube.com
Bentuk Hasil Mengomunikasikan

menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multimedia dan lain-lain. Dalam rangka mengiplementasikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, proses pembuatan dan penyajian dapat digunakan laptop/pc dalam bentuk tayangan power poin maupun berbentuk blog atau website.

 

Mengasosiasi

mengasosiasi

Mengasosiasi

Mengasosiasi bagian dari belajar.  Mengasosiasi tahapan penting, apapun kurikulumnya. Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera.

Pengertian mengasosiasi

Kata mengasosiasi dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia Online memang tidak ditemukan. Ditinjau dari asal katanya, mengasosiasi berasal dari kata “asosiasi” yang mendapat awalan “me”. Asosiasi menurut http://kbbi.web.id/asosiasi memiliki makna asosiasi / aso·si·a·si/ n 1 persatuan antara rekan usaha; persekutuan dagang; 2 perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama; 3 tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra;

Mengasosiasi mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik.  Langkah-langkahnya terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.   Mengasosiasi | mengolah informasi melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras.  Mengasosiasi juga melatih kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

mengasosiasi
mengasosiasi

Faktor Penting Memfasilitasi Siswa Mengasosiasi

Mengasosiasi adalah kegiatan aktif siswa membentuk tautan dalam ingatan, hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera. Merujuk pada pengertian tersebut, maka efektifitas kegiatan mengasosiasi sebagai bagian proses belajar berpotensi dipengaruhi oleh faktor internal siswa dan faktor-faktor eksternal.

1. Faktor internal ialah hal-hal dalam diri siswa yang mempengaruhi aktifitasnya dalam mengasosiasi. Faktor internal yang berpotensi mempengaruhi efektifitas kegiatan mengasosiasi antara lain:

  • kesehatan
  • asupan makanan
  • perhatian
  • minat
  • bakat
  • kecerdasan ( gaya belajar )
  • konstelasi psikis (emosi)

2. Faktor eksternal ialah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi bagaimana siswa mengasosiasi antara lain:

  • interaksi dengan teman
  • media untuk mengasosiasi
  • interaksi dengan guru
  • cara/metode mengasosiasi
  • lingkungan kelas/sekolah
  • waktu untuk mengasosiasi

Faktor-faktor internal dan eksternal di atas berpotensi besar menimbulkan hambatan bagi siswa dalam proses mengasosiasi.

Hambatan Mengasosiasi Internal

Mengasosiasi adalah proses menanamkan pemahaman baru ke dalam jaringan otak, karena itu proses ini sangatlah penting. Mengetahui hambatan siswa dalam mengasosiasi sangat bermanfaat bagi guru agar tujuan pembelajaran yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tercapai.

Mengasosiasi adalah aktifitas biologis terkait dengan brain (otak). Seperti halnya belajar, kesehatan badan atau fisik siswa tentu berpengaruh. Kesehatan badan yang kurang di kala sakit atau dalam keadaan tidak nyaman mengganggu aktifitas jaringan otak untuk mencerna fakta, konsep, proses dan bahkan metakognisi.

Kurangnya perhatian siswa terhadap pelajaran atau proses menimbulkan hambatan bagi siswa itu sendiri untuk menerima fakta dan konsep hingga gagal membuat tautan dalam otaknya. Kurang perhatian jelas mengurangi fokus siswa terhadap topik yang sedang dibahas. Meningkatkan fokus selama proses mengasosiasi dapat mengurangi hambatan baginya untuk membuat tautan dalam otaknya untuk menerima dan memahami ilmu yang baru.

Mengasosiasi sebagai bagian kecil dari proses belajar tentu terkait dengan minat dan bakat siswa yang bersangkutan. Hal yang sangat logis ketika topik yang dipelajari sesuai dengan minat dan bakat siswa maka yang bersangkutan penuh semangat melaksanakan langkah-langkah mengasosiasi yang diperlukan. Sebaliknya ketika topiknya tidak bersesuaian dengan minat dan bakatnya semangatnya berkurang.

Gaya belajar setiap orang bisa berbeda satu dengan yang lain. Merujuk pada C.I.T.E. Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas terdapat beberapa gaya belajar siswa. Mengasosiasi, sebagai bagian belajar sangat masuk di akal jika dipengaruhi dan bahkan terhambat jika proses yang diminta guru tidak sesuai dengan gaya belajar yang disukainya. Beberapa gaya belajar yang diketahui antara lain:

  • Auditori Bahasa (Auditory Language)
  • Visual Bahasa (Visual Language)
  • Auditori numerik (Auditory Numerical)
  • Visual numerik (Visual Numerical)
  • Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik
  • Belajar individu
  • Belajar kelompok
  • Oral Ekspresif
  • Ditulis Ekspresif

Ketidak sesuaian metode yang digunakan guru dengan gaya belajar yang disukai siswa menimbulkan hambatan tersendiri bagi diri siswa.

Hambatan Mengasosiasi Eksternal

Mengasosiasi atau kegiatan aktif siswa membuat tautan dalam memorinya tentu dipengaruhi oleh berbagai hambatan yang datang dari luar diri siswa yang bersangkutan. Hal-hal di luar diri siswa seringkali tak dapat dikendalikan siswa yang bersangkutan. Karena berada di luar kendali dirinya maka ketidak sesuaian kondisi-kondisi eksternal ini dapat menghambat kegiatan siswa mengasosiasi. Hambatan-hambatan eksternal ini antara lain:

Hambatan terkait interaksi dengan teman. Kegiatan mengasosiasi dapat dilakukan baik sendiri maupun secara berkelompok. Ketika tahap mengasosiasi ini harus dilakukan dalam bentuk kelompok atau bersama siswa yang lain maka diperlukan interaksi antar siswa. Kadang interaksi antar siswa dapat berlangsung dengan lancar namun tidak sedikit pula yang mengalami kendala-kendala.

Mengasosiasi seringkali memerlukan media. Media adalah perantara yang dapat digunakan untuk menghubungkan kapasitas nalar kita dengan fakta-fakta, konsep-konsep, proses-proses dan bahkan untuk metakognisi. Dengan media kita sering terbantu untuk membuat hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya menjadi lebih nyata dan dapat diterima nalar kita. Dewasa ini begitu banya jenis media yang dapat digunakan. Hal ini menuntut literasi kita terhadap berbagai media dimaksud. Literasi media literasi teknologi literasi visual menjadi kunci pembuka mengurangi hambatan-hambatan mengasosiasi.

Mengasosiasi dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik memang dilakukan sendiri oleh siswa. Namun demikian tidak berarti tahap mengasosiasi tidak memerlukan interaksi guru dan siswa. Selama proses mengasosiasi tetap diperlukan interaksi guru dan siswa. Dengan interaksi ini guru tetap dapat memberi bimbingan bagaimana caranya siswa harus mengasosiasi. Sebaliknya dengan mudah siswa dapat bertanya dan mendapat bimbingan bagaimana mengasosiasi dapat dilakukan.

Cara mengasosiasi / Metode mengasosiasi yang dipilih guru dan direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP juga penting untuk diperhatikan. Cara / Metode mengasosiasi yang dipilih perlu memperhatikan karakteristik siswa. Lebih spesifik dapat dikatakan cara / metode mengasosiasi yang sesuai dengan gaya belajar siswa akan mengurangi hambatan yang dialami siswa. Cara / Metode mengasosiasi yang bersesuaian dengan gaya belajar siswa akan mempermudah siswa memahami dan membuat tautan dalam ingatannya.

Kondisi lingkungan kelas ketika proses mengasosiasi berlangsung dapat bersifat menghambat suksesnya siswa mengasosiasi topik yang dipelajari. Kondisi lingkungan perlu dijaga sedemikian rupa sehingga tahapan mengasosiasi yang dilakukan siswa berjalan dengan lancar dan kondusif. Guru wajib menciptakan situasi lingkungan yang kondusif selama proses belajar. Tak terkecuali dalam pembelajaran kurikulum 2013. Untuk memastikan kondisi lingkungan yang kondusif, guru harus merencanakan dan melakukan pengelolaan kelas yang efektif.

Mengasosiasi merujuk pada Gaya belajar siswa

Merujuk pada C.I.T.E.  Learning Style Inventory diformulasikan (Babich, Burdine, Albright, and Randol, 1976) di Murdoch Teachers Center in Wichita, Kansas.  Dinyatakan bahwa terdapat sejumlah gaya belajar siswa yaitu :

Auditori Bahasa (Auditory Language)

Siswa dengan gaya belajar Auditori Bahasa (Auditory Language) lebih senang belajar dari mendengar kata-kata yang diucapkan. Mereka akan lebih mampu memahami dan mengingat kata-kata atau fakta yang dipelajari dengan mendengar. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Visual Bahasa (Visual Language)

Siswa kelompok ini belajar dengan baik dari melihat kata-kata dalam buku, di papan, grafik atau buku kerja (berupa tulisan). Mereka bahkan mungkin menuliskan kata-kata yang diberikan secara lisan, untuk belajar dengan melihat mereka di atas kertas. Siswa-siswa ini mengingat dan menggunakan informasi yang lebih baik jika mereka telah membacanya. Potensi mereka mengasosiasi dengan gaya belajar ini sangat terbuka.

Auditori numerik (Auditory Numerical)

Siswa-siswa ini belajar dari mendengar nomor dan penjelasan lisan. Mengingat telepon dan ganti nomor mudah, dan mereka mungkin bisa berhasil dengan permainan nomor lisan dan teka-teki. Mereka mungkin melakukannya juga tanpa buku matematika mereka, untuk bahan tertulis tidak penting. Mereka mungkin dapat menyelesaikan masalah dalam kepala mereka, dan mungkin mengatakan nomor dengan keras ketika membaca.

Visual numerik (Visual Numerical)

Siswa-siswa ini harus melihat angka di papan, dalam sebuah buku, atau di atas kertas untuk bekerja dengan angka-angka. Mereka lebih cenderung untuk mengingat dan memahami fakta-fakta matematika ketika mereka disajikan secara visual. Mereka tampaknya tidak membutuhkan banyak penjelasan lisan.

Kombinasi Auditory-Visual-Kinestetik

Para siswa A-V-K belajar yang terbaik melalui pengalaman, melakukan, dan keterlibatan diri. Mereka mendapatkan keuntungan dari kombinasi rangsangan. Manipulasi bahan, yang disertai dengan penglihatan dan suara (kata dan angka melihat dan mendengar) akan membantu mereka belajar. Mereka mungkin tidak tampak untuk memahami atau dapat berkonsentrasi atau bekerja kecuali benar-benar terlibat. Mereka berusaha untuk menangani, menyentuh dan bekerja dengan apa yang mereka pelajari.

Pelajar individu

Siswa-siswa ini lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dengan dilakukan sendiri. Mereka berpikir yang terbaik dan lebih ingat ketika telah belajar sendiri. Mereka lebih peduli pendapat mereka sendiri dari pada ide-ide orang lain. Guru tidak memiliki banyak kesulitan menjaga mereka bersosialisasi selama pembelajaran.

Pelajar kelompok

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk belajar dengan setidaknya satu teman lainnya, dan tidak banyak dengan dilakukan sendiri. Mereka menghargai pendapat dan preferensi orang lain. interaksi kelompok meningkatkan pembelajaran mereka dan kemudian pengakuan fakta.  Observasi kelas akan cepat mengungkap betapa pentingnya sosialisasi untuk mereka.

Oral Ekspresif

Siswa-siswa ini lebih memilih untuk memberitahu apa yang mereka ketahui. Mereka berbicara dengan lancar, nyaman, dan jelas. Guru mungkin menemukan bahwa mereka lebih tahu dari tes tertulis menunjukkan. Mereka mungkin kurang malu daripada yang lain tentang memberikan laporan atau berbicara dengan guru atau teman sekelas. Koordinasi otot yang terlibat dalam penulisan mungkin sulit bagi mereka. Pengorganisasian dan menempatkan pikiran di atas kertas mungkin terlalu lambat dan membosankan tugas untuk mereka.

Ditulis Ekspresif

peserta didik dapat menulis esai lancar dan jawaban yang baik pada tes untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui. Mereka merasa kurang nyaman, bahkan mungkin bodoh, ketika jawaban atau laporan lisan yang diperlukan.  Pemikiran mereka lebih terorganisir di atas kertas daripada ketika mereka diberikan secara oral.

Berbagai gaya belajar yang diuraikan di atas menyadarkan kita betapa banyak hal yang memperngahruhi sukses tidaknya tahapan mengasosiasi. Dengan memilih dan menerapkan teknik mengasosiasi yang tepat mudah-mudahan mengasosiasi menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa.

Bentuk kegiatan mengasosiasi
  1. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan,
  2. menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,
  3. mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan
  4. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
  5. Pengolahan informasi untuk menambah keluasan dan kedalaman sampai yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang berbeda sampai yang bertentangan
  6. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.
  7. menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Contoh langkah membimbing siswa mengasosiasi

Seperti halnya pada tahapan menanya boleh jadi siswa mengalami kesulitan atau kebingungan melakukan langkah mengasosiasi.

Bagaimana dia harus membentuk tautan dalam ingatan tentang hubungan atau pertalian antar gagasan, ingatan atau panca indera? Bagaimana langkahnya? Bahkan pertanyaan bagaimana cara melakukannyapun kadang tak terkatakan. Pada kondisi seperti ini kehadiran guru sebagai fasilitator dan pembimbing sangat diperlukan. Guru sebaiknya mengatur skenario proses bagaimana siswa melakukan langkah mengasosiasi.

Contoh sintak pembelajaran mengasosiasi

Contoh sintak pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP untuk membimbing dan memfasilitasi siswa mengasosiasi sebagai berikut:

  1. Guru meminta siswa dalam kelompok menetapkan cara yang disukai masing-masing untuk berpartisipasi menyampaikan kesimpulan.
  2. Siswa mengusulkan masing-masing cara yang disukai
  3. Guru memberi contoh daftar/tabel format pengelompokan dan pengkategorisasian, hasil menanya dan hasil diskusi kelompok
  4. Siswa dalam kelompok menyiapkan daftar / tabel pengelompokan dan pengkategorisasian untuk mempermudah siswa mengasosiasi
  5. Guru meminta kelompok berdiskusi mengisi daftar/tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  6. Siswa dalam kelompok berdiskusi mengisi daftar / tabel sebagai laporan proses pengelompokan dan pengkategorisasian.
  7. Guru memberi contoh dan bukan contoh dan meminta siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain.
  8. Siswa mencoba sendiri menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain untuk memperoleh kesimpulan yang benar.
  9. Guru meminta semua siswa untuk membuat catatan  sendiri menurut cara yang disukainya.
  10. Siswa dalam kelompok membuat catatan dan hasil mengasosiasi dan atau memiliki catatan sendiri menurut cara yang disukainya.
  11. Dan seterusnya

Demikianlah pembahasan tentang tahapan mengasosiasi, semoga bermanfaat.

Mengamati

mengamati

Mengamati

Mengamati tahap awal kegiatan 5M. Mengamati bisa bermacam-macam caranya. Mengamati merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 atau Kurtilas atau K13.

Pengertian Mengamati

Mengamati berarti memperhatikan dengan teliti. Mengamati bukan hanya dengan penglihatan, mengamati dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mendengar juga mengamati, menyimak juga mengamati, melihat juga mengamati, menonton juga mengamati. Mengamati juga bisa dengan meraba, mengecap dsb. Ya .. mengamati bisa berarti memperhatikan dengan teliti.

Mengamati merupakan awal pendekatan saintifik. Mengamati dalam konteks pendekatan saintifik pada pembelajaran Kurikulum 2013 memiliki makna yang luas. Pada pendekatan saintifik ini, mengamati merupakan tahap awal dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan.

mengamati
mengamati

Mengamati menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran, adalah mencermati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat. Berdasarkan pengertian dan diskripsi tersebut pada dokumen, pengertiannya menjadi sangat luas. Hal ini memberikan ruang yang cukup kepada guru untuk mengimplementasikan kegiatan mengamati dalam proses pembelajaran.

Mengamati, dilakukan oleh siswa dengan difasilitasi dan dibimbing oleh guru dalam bentuk melihat, menyimak, mendengar, membaca, membau, meraba menggunakan panca indera dengan atau tanpa bantuan alat. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun dalam kerja kelompok. Menurut hemat kami, tahapan dalam pendekatan-pendekatan saintifik ini lebih baik dilakukan siswa dalam kelompok. Mengapa demikian? Lihat laman prinsip pembelajaran. Bukankah kita bertugas mengimplementasikannya?!

Tujuan Mengamati

Mengamati seharusnya dilakukan siswa. Biarkan siswa (beri kesempatan) menemukan sendiri fakta, konsep, prinsip, proses atau prosedur terkait kompetensi yang sedang dipelajari. Tujuan dari kegiatan mengamati adalah:

  1. melatih kompetensi siswa dalam hal kesungguhan,
  2. melatih kompetensi siswa terkait ketelitian,
  3. melatih kompetensi siswa mencari informasi.

Kegiatan mengamati mengarahkan siswa untuk:

  1. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan faktual,
  2. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan konseptual dan,
  3. memiliki kompetensi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan prosedural yang ada pada suatu kompetensi dasar.

Cara Mengamati

Mengamati suatu fenomena dapat dilakukan tanpa menggunakan alat maupun dapat menggunakan alat tergantung dan bahkan harus menggunakan alat bantu. Penggunaan alat bantu untuk kegiatan mengamati lebih didasarkan pada sifat fenomena yang akan diamati.

Mengamati Tanpa Alat

Mengamati dapat dilakukan dengan alat maupun tanpa alat. Mengamati tanpa alat (bantu) berarti kegiatan siswa mengamati hanya mengandalkan panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba. Dalam berbagai kompetensi, pengamatan tanpa menggunakan alat juga merupakan kemampuan yang sangat penting. Karena itulah, penting bagi guru menskenariokan agar siswa berlatih walaupun tanpa alat.

Mengamati fakta-fakta, konsep-konsep dan proses atau prosedur seperti ditunjukkan pada contoh di atas dapat dilakukan tanpa menggunakan alat bantu. Umumnya obyek kegiatan mengamati tanpa menggunakan alat berupa fakta-fakta nyata yang dapat diidentifikasi dengan panca indera.

Mengamati dengan melihat

Mengamati dapat dilakukan dengan indera penglihatan. Siswa difasilitasi untuk melihat media pembelajaran yang disiapkan guru. Beberapa contoh kegiatan dengan melihat antara lain:

  • siswa melihat benda nyata/model
  • siswa membaca konten buku, handout, lembar kerja
  • siswa melihat gambar, foto, tabel, grafik
  • siswa melihat papan tampilan
  • siswa membaca buletin,
  • siswa membaca papan tulis interaktif
  • siswa melihat transparansi overhead
  • siswa melihat konten tayangan Slide, film strips
  • siswa melihat konten Video dan Film
  • siswa melihat konten Televisi (hidup)
  • siswa melihat konten tayangan software komputer
  • siswa melihat konten Web
Mengamati dengan mendengar

Pengamatan dapat dilakukan dengan indera pendengaran. Siswa difasilitasi untuk mendengarkan suara dari media pembelajaran yang disiapkan guru. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa mendengarkan cerita
  • siswa mendengarkan instrumen musik
  • siswa mendengarkan pembacaan puisi
  • siswa mendengarkan pembacaan ayat-ayat Kitab Suci
  • siswa mendengarkan radio
  • siswa mendengarkan rekaman sandiwara, rekaman percakapan
  • siswa mendengarkan suara mesin mobil
  • siswa mendengarkan kualitas suara audio
  • siswa mendengarkan paparan laporan
  • siswa mendengarkan tape recorder
Mengamati dengan meraba

Mengamati dapat pula dilakukan dengan indera peraba. Siswa dapat difasilitasi untuk meraba media pembelajaran yang disiapkan guru berupa tekstur suatu permukaan. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa meraba permukaan benda yang berbeda gradasi teksturnya
  • siswa meraba untuk merasakan suhu benda
  • siswa meraba untuk merasakan ketegangan
  • siswa meraba untuk merasakan getaran mesin
Mengamati dengan membau

Pengamatan dapat pula dilakukan dengan indera penciuman. Siswa dapat difasilitasi dengan mencium bau media pembelajaran yang disiapkan guru berupa macam-macam bau dari suatu bahan. Beberapa contoh kegiatan antara lain:

  • siswa mencium bau bahan masakan
  • siswa mencium aneka bau bunga
  • siswa mencium bau hasil pembakaran normal
  • siswa mencium bau hasil pembakaran tidak normal
Mengamati Menggunakan Alat

Dalam berbagai kompetensi, kegiatan pengamatan kadang justru harus menggunakan alat bantu. Penggunaan alat bantu sangat diperlukan pada kegiatan ini. Pertimbangan seperti ukuran yang terlalu kecil, terlalu jauh, obyek berbentuk abstrak dan sebagainya. Untuk itu tidak kalah penting juga agar siswa dilatih cara menggunakan alat bantu.

Mengamati benda dari jarak jauh

  • Mengamati benda yang berada di tempat yang jauh perlu menggunakan peralatan.

Mengamati benda berukuran kecil

  • Mengamati benda yang ukurannya sangat kecil perlu menggunakan peralatan.

Mengamati gejala tidak nampak

Mengamati fenomena yang tidak kasat mata, seperti gejala kelistrikan, perlu menggunakan peralatan yang sesuai. Contoh :

  • mengamati tegangan listrik pada ujung-ujung suatu penghantar
  • mengamati kuat arus yang mengalir pada duatu penghantar
  • mengamati bentuk gelombang listrik pada suatu rangkaian listrik
  • mengamati perioda gelombang listrik arus bolak-balik

Mengamati benda bersuhu tinggi

 

Mengamati benda yang berbahaya

 

Memfasilitasi Kegiatan Mengamati

Mengamati sekilas nampak kegiatan yang sederhana. Dalam konteks pembelajaran, untuk mengantarkan siswa memiliki kompetensi melalui kegiatan mengamati tentu tidak sesederhana itu. Tahapan pembelajaran mengamati harus difasilitasi dan dibimbing oleh guru agar kegiatan mengamati berlangsung dengan benar. Sudah barang tentu untuk membimbing dan memfasilitasi kegiatan siswa ini perlu persiapan-persiapan. Membiarkan siswa mengamati secara bebas tanpa pedoman dan panduan tidak akan menghasilkan kompetensi yang optimal.

Kegiatan mengamati, perlu dibimbing dan difasilitasi oleh guru. Mengapa ? Haruskah?

Persiapan memfasilitasi mengamati

1. Menemukan kompetensi kunci

Analisis / Pemetaan Kompetensi. Kegiatan siswa mengamati diharapkan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan faktual, konseptual, pengetahuan proses dan prosedural. Agar guru lancar pada saat memfasilitasi dan membimbing aktifitas siswa mengamati, guru terlebih dahulu harus melakukan analisis / pemetaan kompetensi.

Ilustrasi berikut adalah contoh analisis / pemetaan kompetensi. KD yang digunakan sebagai contoh adalah Kompetensi Dasar pada mata pelajaran Perekayasaan Sistem Audio pada paket keahlian Teknik Audio Video. Pembuatan gambaran pemetaan dilakukan menggunakan Aplikasi XMIND yang dapat diperoleh secara gratis. Pengoperasiannya pun terhitung sederhana.

mengamati
mengamati

Dengan penggambaran peta seperti contoh di atas, lebih mudah bagi kita untuk menyusun dan menentukan jenis-jenis fakta, konsep, proses atau prosedur. Kegiatan mengamati jenis-jenis fakta, konsep, proses atau prosedur di atas dapat dilakukan tanpa menggunakan alat bantu maupun dengan menggunakan alat bantu, tentu saja tergantung jenis konten mata pelajaran. Dengan melakukan analisis terhadap suatu kompetensi dasar maka hal ini akan sangat memudahkan kita menyusun skenario pembelajaran pada tahap mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan.

Langkah Pembelajaran pada tahap mengamati

Sintak model pembelajaran pada tahapan ini dapat disusun sedemikian rupa agar fasilitasi dan bimbingan guru terlaksana dengan hasil optimal. Paparan sintak model pembelajaran berikut memberikan contoh penerapan kegiatan pengamatan.

  1. Guru menayangkan gambar/foto peralatan elektronik yang menggunakan sistim penguat audio seperti – amplifier, – tape/audio mobil, – televisi, – handphone, – laptop, – komputer personal
  2. Guru meminta peserta didik mencermati dengan seksama tayangan gambar/foto yang ditayangkan guru dan penjelasan yang terkait dengan masing-masing gambar contoh benda.
  3. Guru menayangkan gambar rangkaian penguat audio dengan transistor seperti – penguat transistor satu tingkat common emitor, common colector dan common base. – penguat dua tingkat dengan kopling resistif, kapasitif, induktif dan kopling langsung. – penguat depan universal dengan kopling langsung
  4. Peserta didik mencermati dengan seksama tayangan gambar-gambar skema penguat depan audio terkait bentuk rangkaian, jumlah komponen, sambungan antara tingkat 1 dan tingkat berikutnya, posisi komponen resistor terhadap catu daya, posisi komponen resistor terhadap transistor.
  5. Guru meminta peserta didik berkumpul sesuai kelompok yang sudah dibentuk dan menempati tempat duduk sesuai kesepakatan kemudian membaca materi pokok penguat depan universal lebih dalam.
  6. Peserta didik berkumpul dengan teman satu kelompok dan menempati tempat duduknya dan membaca materi pokok penguat depan universal lebih dalam.
  7. Guru meminta peserta didik dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan tentang fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio
  8. Peserta didik berdiskusi tentang fungsi masing-masing komponen penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1A)
  9. Peserta didik berdiskusi tentang bagian rangkaian dc penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1B)
  10. Peserta didik berdiskusi tentang komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal audio dan menuliskan hasil diskusinya pada Lembar Kerja yang disediakan (LK-1C)
  11. Guru bersama peserta didik mendiskusikan hasil diskusi kelompok tentang fungsi masing-masing komponen, rangkaian dc dan komponen pembentuk rangkaian umpan balik penguat depan universal audio.

Mengamati pada pembelajaran kurikulum 2013 adalah kegiatan yang seharusnya dilakukan siswa. Walaupun ini adalah kegiatan siswa, bukan berarti guru tidak berperan. Mengamati memerlukan peran aktif guru sebagai fasilitator. Pada dasarnya, kompetensi dasar yang sedang mulai dipelajari adalah materi yang baru. Sangat logis jika siswa belum mengetahui apa yang harus diamati. Karena itulah peran guru menjadi sangat penting dalam tahap ini. Ada banyak cara bagi guru untuk memfasilitasi kegiatan ini.

Di samping menyediakan berbagai jenis media pembelajaran, guru sebaiknya menyediakan lembar kerja siswa. Petunjuk kerja yang relefan juga perlu diberikan kepada siswa. Dengan demikian kegiatan siswa menjadi terarah sesuai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP.

Contoh mengamati
  1. Siswa difasilitasi untuk membaca sumber dari buku siswa
  2. Siswa difasilitasi mendengarkan pembacaan puisi atau narasi dari radio
  3. Siswa difasilitasi melihat tayangan video perakitan komputer
  4. Siswa difasilitasi melihat demonstrasi perbaikan sepeda motor
Hasil Kegiatan mengamati
  1. Perhatian siswa pada saat melakukan kegiatan
  2. Bentuk catatan yang dibuat pada waktu melakukankegiatan.
  3. Kesabaran siswa yang terbentuk selama melakukan kegiatan.
  4. Jangka waktu yang digunakan siswa melakukan langkah mengamati.