Pengertian, Prinsip dan Jenis Asesmen

pengertian-prinsip-dan-jenis-asesmen

Asesmen menjadi salah satu kata yang sering muncul pada dokumen program sekolah penggerak. Asesmen sangat pantas mendapat perhatian yang besar oleh segenap pemangku kepentingan pendidikan. Karena seringnya mendengar dan membaca kata-kata asesmen ini, secara iseng saya mencoba menghitung berapa kali kata asesmen ini muncul dalam penjelasan implementasi program sekolah penggerak. Apakah asesmen hanya ada di kurikulum sekolah penggerak saja? Tentu tidak. Kurikulum sekolah penggerak maupun Kurikulum 2013 seharusnya menerapkan asesmen yang sama.

Pengertian Asesmen

Asesmen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/asesmen memiliki 2 (dua) makna. Secara umum asesmen berati penilaian dan ketika berbicara tentang penilaian maka yang terbayang dan faktanya yang sering dilakukan adalah menghasilkan angka-angka yang merepresentasikan hasil pembelajaran.

pengertian asesmen
pengertian asesmen

Asesmen ialah kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya untuk memperoleh gambaran tentang kondisi individu dan lingkungannya sebagai bahan untuk memahami individu dan pengembangan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan. Inilah makna kedua asesmen khusus dalam bidang pendidikan.

Prinsip-prinsip Asesmen

Ada lima macam prinsip-prinsip Asesmen antara lain:

  1. Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, menyediakan informasi sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua. Guru merancang pembelajaran berdasarkan hasil asesmen. Asesmen dikembangkan sejak awal perencanaan pembelajaran, sehingga kegiatan asesmen terintegrasi dan berkaitan erat dengan pembelajaran. Keterkaitan antara tujuan pembelajaran dengan asesmen yang dirancang: Termasuk dengan kriteria penilaian hasil belajar siswa, Asesmen yang targeted sesuai kebutuhan belajar, dan Asesmen memberikan pengaruh pada apa dan bagaimana peserta didik belajar, dan juga sebaliknya.
  2. Asesmen perlu dirancang dan dilakukan sesuai dengan tujuan. Asesmen dapat digunakan untuk: mendorong proses belajar, menjadi bagian dari pembelajaran, mengembangkan kemampuan metakognitif dan refleksi (asesmen formatif); menilai hasil belajar dan mengambil keputusan di akhir suatu tahapan (asesmen sumatif); menentukan kebutuhan belajar dan membentuk program pembelajaran individual peserta didik (asesmen diagnosis). Mengacu pada Capaian Pembelajaran.
  3. Asesmen dirancang secara adil, valid dan dapat dipercaya, memberikan informasi yang kaya bagi guru, peserta didik dan orang tua mengenai kemajuan dan pencapaian pembelajaran, serta keputusan tentang langkah selanjutnya. Asesmen yang berkeadilan, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. Asesmen memiliki validitas yang tinggi sehingga informasi yang dihasilkan terpercaya. Reliabel, dapat diperbandingkan hasilnya karena konsisten. Adil dan objektif, menggunakan kriteria dan prosedur yang logis, sistematis, dan jelas, dengan pengaruh subjektivitas penilai yang rendah.
  4. Asesmen sebaiknya meliputi berbagai bentuk tugas, instrumen, dan teknik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Guru diberikan otonomi yang luas dalam merencanakan dan menggunakan jenis dan teknik asesmen dengan mempertimbangkan: Karakteristik mata pelajaran, karakteristik dan kemampuan peserta didik, Capaian pembelajaran, Tujuan pembelajaran, dan  Sumber daya pendukung yang tersedia.
  5. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat untuk peserta didik dan orang tua, dan data yang berguna untuk penjaminan dan peningkatan mutu pembelajaran. Hasil penilaian memberikan makna yang relatif sama untuk semua mata pelajaran (misalnya nilai 100 bermakna sama antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya). Laporan kemajuan belajar mengacu pada ketercapaian kompetensi berdasarkan hasil asesmen formatif dan sumatif. Asesmen mudah dipahami dan memberikan informasi yang utuh bagi orang tua, asesmen juga harus menjawab kebutuhan peserta didik akan umpan balik yang memotivasi untuk mengembangkan diri. Asesmen mudah dilakukan oleh Guru.

Jenis-jenis Asesmen Dalam Pendidikan yang Memerdekakan

Asesmen, dalam konteks penerapan Kurikulum Sekolah Penggerak dan atau Kurikulum SMK Pusat Keunggulan dikenal ada 3 (tiga) yaitu asesmen diagnostik, asesmen formatif dan asesmen sumatif. Sesungguhnya jenis asesmen ini tentu tidak hanya berlaku pada Kurikulum Sekolah Penggerak saja namun juga berlaku pada konsep pendidikan pada umumnya terutama yang menggunakan pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa.

Asesmen diagnostik, asesmen formatif dan asesmen sumatif berbeda berdasarkan maksud dan tujuannya yang dapat diuraikan secara ringkas seperti di bawah ini.

Asesmen Diagnostik

Asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa. Asesmen diagnostik terbagi menjadi asesmen diagnostik non-kognitif  dan asesmen diagnosis kognitif. Tujuan dari masing-masing asesmen diagnostik adalah sebagai berikut:

Tujuan Asesmen Diagnostik Non-kognitifKognitif

• Mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa

• Mengetahui aktivitas selama belajar di rumah

• Mengetahui kondisi keluarga siswa

• Mengetahui latar belakang pergaulan siswa

• Mengetahui gaya belajar, karakter serta minat siswa

• Mengidentifikasi capaian kompetensi siswa

• Menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa

• Memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata

Asesmen Formatif

Asesmen formatif merupakan Metode evaluasi yang dilakukan untuk evaluasi proses pemahaman murid, kebutuhan pembelajaran, dan kemajuan akademik selama pembelajaran. Di samping itu asesmen formatif memantau pembelajaran murid dan memberikan umpan balik yang berkala, dan berkelanjutan.

Bagi murid, asesmen formatif berfungsi membantu murid mengidentifikasi kekuatan dan aspek yang perlu dikembangkan, bagi guru dan sekolah, asesmen formatif berfungsi memberikan informasi mengenai tantangan apa saja yang dihadapi murid dalam proses pembelajaran projek sehingga dukungan yang memadai dapat diberikan.

Asesmen formatif dapat diberikan oleh guru, teman, atau diri sendiri.

Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif merupakan metode evaluasi yang dilakukan di akhir pembelajaran. Asesmen sumatif seringkali memiliki taruhan tinggi karena berpengaruh terhadap nilai akhir murid sehingga sering diprioritaskan murid dari pada asesmen formatif. Umpan balik dari asesmen hasil akhir ini (sumatif) dapat digunakan untuk mengukur perkembangan murid untuk memandu guru dan sekolah merancang aktivitas mereka untuk projek berikutnya.

Demikian bahan diskusi seputar pengertian asesmen, prinsip-prinsip dan jenis-jenis asesmen yang admin olah dari bahan belajar hasil pelatihan Komite Pembelajaran Sekolah penggerak. Semoga berguna dan menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.